Mengapa penyaliban menjadi hukuman yang paling 'kejam dan mengerikan'?

Lukisan penyaliban Yesus di kayu salib, yang diambil di Kota Ho Chi Minh. Vietnam.

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Margarita Rodríguez
    • Peranan, BBC News Mundo
  • Waktu membaca: 8 menit

Politisi dan filsuf di era Romawi, Cicero, pernah menyatakan bahwa penyaliban adalah bentuk hukuman yang "paling kejam dan menakutkan". Bagaimana sejarah penyaliban dan mengapa cara ini diterapkan di masa lalu?

"Kata 'salib' saja seharusnya tidak hanya tentang tubuh seorang warga Romawi, tapi juga pikirannya, matanya, telinganya."

"Dari tiga cara paling brutal dalam mengeksekusi seseorang di zaman kuno, penyaliban dianggap yang terburuk," kata Louise Cilliers, penulis dan peneliti di Departemen Studi Klasik Universitas Free State Afrika Selatan, kepada BBC News Mundo.

"[Setelah penyaliban] kemudian adalah hukuman gantung dan pemenggalan kepala."

"Penyaliban adalah kombinasi dari kekejaman dan tontonan yang menciptakan teror sebanyak mungkin di kalangan masyarakat," kata Diego Pérez Gondar, profesor di Fakultas Teologi Universitas Navarra.

Dalam banyak kasus, kematian orang yang dieksekusi terjadi beberapa hari setelah disalib, di depan mata orang yang lewat.

Tubuh mengalami kombinasi penyiksaan: Dari sesak napas, kehilangan darah, dehidrasi, kegagalan beberapa organ, dan lainnya.

Yesus, sosok yang mengubah dunia dengan pesan perdamaian, adalah salah satu dari banyak orang yang mati di kayu salib.

Penyaliban adalah hukuman yang sudah ada berabad-abad yang lalu. Inilah beberapa fakta tentang asal usul penyaliban dan bagaimana cara itu menjadi hukuman "paling kejam dan menakutkan" yang pernah ada.

Bangsa Asiria

Ilustrasi raja Asyur dari tahun 883 hingga 859 SM. membawa persembahan kepada para dewa

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi raja Asyur dari tahun 883 hingga 859 SM. membawa persembahan kepada para dewa
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pada puncaknya, kerajaan Asiria atau juga dikenal Asyur membentang dari tepi Teluk Persia hingga wilayah yang sekarang disebut Turki dan Mesir.

Antara kira-kira tahun 900 dan 600 SM, peradaban Asyur sangat disegani karena kemajuan teknologi, kekayaan hingga kekejaman tentaranya.

Salah satu rajanya, Sanherib, bahkan dianggap sebagai sosok termuka yang pertama kali memperkenalkan perang total.

Bangsa Asyur sangat tegas dalam menancapkan kekuasaan mereka, terkhusus pada peperangan dan hukuman kejam yang diberikan kepada para lawan.

Meskipun sejarah konflik hadir dalam narasi dan wacana kerajaan di seluruh Timur Tengah, "terlihat jelas dalam teks dan seni di Neo-Asyur bahwa peperangan dan hukuman terhadap musuh bahkan lebih penting dibandingkan raja-raja lainnya" di wilayah tersebut.

Inilah yang ditulis sejarawan Eva Miller dalam artikelnya berjudul Crime and Testament: Enemy Direct Speech in Inscriptions of Esarhaddon and Ashurbanipal di majalah khusus bernama Journal of Ancient Near Eastern History.

Dengan cara ini, musuh akan menjadi pusat dari manifestasi ekspresi dalam "menciptakan penaklukan dan kekalahan mereka."

Ilustrasi yang menunjukkan koleksi ukiran kuno dari peradaban Asyur

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi yang menunjukkan koleksi ukiran kuno dari peradaban Asyur

Lalu apa hubungannya antara penyaliban dengan bangsa Asiria?

Menurut Louise Cilliers, hukuman penyaliban kemungkinan "berasal dari bangsa Asiria dan Babilonia dan digunakan secara sistematis oleh bangsa Persia pada abad ke-6 SM."

Cilliers bersama FP Retief menulis artikel sejarah dan patologi penyaliban untuk Jurnal Medis Afrika Selatan.

Selain itu, profesor Pérez menunjukkan bahwa informasi tertua yang tersedia berasal dari beberapa dekorasi istana Asiria.

"Di dinding ada relief dengan gambar yang mewakili beberapa pertempuran dan penaklukan serta cara para tahanan dieksekusi. Teknik penyulaan [penusukan] muncul, mirip dengan penyaliban," katanya.

Baca juga:

Salah satu relief, menurut sejarawan Rebecca Denova, menunjukkan "para tahanan digantung di tiang, dengan tiang dimasukkan ke tulang rusuk mereka," setelah penaklukan Sanherib atas kota Lakhis di Israel pada 701 SM.

"Tujuan dari hukuman yang menyiksa ini adalah untuk menunjukkan kekejaman dan teror yang menanti para tahanan dan pemberontak," katanya dalam sebuah artikel di World History Encyclopedia.

Alexander Agung menjadi raja Makedonia saat ia baru berusia 20 tahun. Dan dalam waktu kurang dari satu dekade, ia mengalahkan Persia dan membangun sebuah kekaisaran yang membentang dari Yunani hingga India.

Sumber gambar, DORLING KINDERSLEY/GETTY IMAGES

Keterangan gambar, Alexander Agung menjadi raja Makedonia saat berusia 20 tahun. Kurang dari satu dekade, ia mengalahkan Persia dan membangun sebuah kekaisaran yang membentang dari Yunani hingga India.

Dalam artikel tersebut, Cilliers dan Retief juga menjelaskan, selain Asyur, orang Persia juga melakukan penyaliban di pohon atau tiang, bukan di salib formal.

"Menggabungkan hukuman mati dengan ejekan terhadap terpidana adalah eksekusi yang umum dan salah satu tekniknya adalah dengan membiarkannya digantung di sepotong kayu sehingga dia mati karena sesak napas dan kelelahan," kata Pérez.

Penyebaran

Ilustrasi penyaliban.

Sumber gambar, HOLGER LEUE/GETTY

Keterangan gambar, Ilustrasi penyaliban.

Pada abad ke-4 SM, Alexander Agung membawa metode hukuman penyaliban ke negara-negara Mediterania bagian timur.

"Alexander dan pasukannya mengepung kota Tirus [sekarang Lebanon], yang kurang lebih tidak dapat ditembus," kata Cilliers.

"Ketika mereka akhirnya masuk, mereka menyalib sekitar 2.000 penduduk."

Penerus Alexander Agung memperkenalkan hukuman ini di Mesir dan Suriah, serta di Kartago, kota besar di Afrika Utara yang didirikan oleh bangsa Fenisia.

Garis pemisah

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

Garis pemisah

Selama Perang Fenisia, bangsa Romawi menerapkan teknik ini dan "menyempurnakannya selama 500 tahun".

"Ke mana pun legiun Romawi pergi, mereka melakukan penyaliban."

Dan di beberapa tempat di mana mereka telah menerapkannya, penduduk setempat pun kemudian mengadopsinya.

Pada 9 M, pemimpin Jerman, Arminius, menyalib jenderal Romawi, Varus, setelah konfrontasi yang dikenal sebagai pertempuran Hutan Teutoburg (sekarang wilayah Jerman) dan merupakan kekalahan yang memalukan bagi Romawi.

Pada tahun 60 M, Boudica, ratu suku Iceni Inggris, memimpin pemberontakan besar-besaran melawan penjajah Romawi dan menyalib beberapa legiuner mereka.

Tanah Suci

Di Israel, sebelum kedatangan bangsa Romawi, hukuman penyaliban telah digunakan.

"Kami mempunyai sumber yang berbicara tentang penyaliban sebelum dominasi Romawi di Tanah Suci," kata Pérez.

Informasi ini muncul berkat sejarawan, politisi, dan tentara Yahudi, Flávio Josephus, yang lahir di Yerusalem pada abad ke-1.

Flavius ​​​​Josephus adalah seorang sejarawan Yahudi.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Flavius ​​​​Josephus adalah seorang sejarawan Yahudi.

Salah satu catatannya adalah tentang masa pemerintahan Alexander Jannaeus (125 SM-76 SM), yang memerintah bangsa Yahudi selama 27 tahun.

Usai menaklukkan beberapa wilayah tetangga, pemimpin itu memperluas Dinasti Hasmonean hingga mencapai masa puncaknya.

Namun, kepemimpinannya memperparah konflik antara kaum Farisi dan Hasmonean, memicu perang yang menyebabkan ribuan orang tewas.

"Saat dia sedang merayakan bersama para selirnya, dia memerintahkan penyaliban ke sekitar delapan ratus orang Yahudi, termasuk anak-anak dan istri mereka, di depan mata orang-orang malang yang masih hidup," tulis Flavius ​​​​Josephus tentang peristiwa di tahun 88 SM.

Bangsa Romawi

Ilustrasi penyaliban.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi penyaliban.

Menurut artikel Cilliers dan Retief, orang Romawi juga menyalib orang di pohon atau tiang. Mereka menggunakan berbagai jenis salib, seperti salib berbentuk X.

Namun, dalam sebagian besar kasus, mereka menggunakan salib Latin yang berbentuk T. Salib-salib ini bisa saja berukuran tinggi, namun yang rendah lebih umum digunakan."

Orang yang disalib wajib memikul bagian horizontal salib ke tempat eksekusi.

Para perempuan di Yerusalem, kata para penulis, menawari pria yang dihukum itu dengan minuman yang memiliki efek analgesik.

"Jika dia tidak telanjang, pakaiannya ditanggalkan dan dia dibaringkan telentang dengan tangan terentang di tiang gantungan."

Mereka lalu mengikat lengan orang itu ke balok dan menancapkan paku yang banyak ke pergelangan dan juga telapak tangan. Tujuannya untuk menopang tubuh agar tak terlepas dari salib.

Pakunya bisa berukuran panjang hingga 18 cm dan tebal 1 cm.

Prosedur

Ilustrasi penyaliban.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi penyaliban.

Pertama orang yang disalib itu akan diikatkan pada sebuah balok kayu. Dia kemudian diangkat dan dipasang pada tiang vertikal yang sudah tertanam di tanah.

Kakinya lalu diikat atau dipaku pada tiang vertikal, satu di setiap sisi atau keduanya sekaligus. Paku itu ditancapkan ke tulang metatarsal kedua kaki, sementara lutut ditekuk.

Rasa sakitnya tak terbayangkan, "banyak saraf yang terkena", tegas Profesor Pérez.

"Anda harus mendorong kaki Anda melewati paku itu untuk bisa meluruskan tubuh dan bernapas."

Dan dalam upaya ini, "jika Anda kehilangan banyak darah, akan timbul rasa sakit yang luar biasa, namun jika Anda tidak melakukannya, Anda akan mati lemas."

Dalam banyak kasus, kematian terjadi secara perlahan akibat kegagalan beberapa organ.

Hal ini, jelas Cilliers dan Retief, disebabkan oleh kolapsnya sirkulasi akibat syok hipovolemik.

Mereka yang disalib menderita "penurunan volume darah karena kehilangan darah, traumatis dan dehidrasi, tapi mungkin terutama karena kegagalan pernafasan."

Banyak yang meninggal karena sesak napas.

Berhari-hari penuh penderitaan

Gambar Alkitab dengan salib

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Gambar Alkitab dengan salib.

Kekejaman dari eksekusi ini juga tercermin dari kenyataan bahwa banyak dari mereka yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk meninggal, meski bisa juga meninggal dalam hitungan beberapa jam.

"Biasanya memakan waktu berhari-hari. Dalam beberapa kasus, yang dilakukan tentara untuk mempercepat kematian adalah dengan memukul lutut dan mematahkan kaki mereka. Dengan cara ini, terpidana tidak dapat mengangkat tubuhnya menggunakan otot kakinya, yang menyebabkan mereka tidak bisa bernapas lalu mati," kata Pérez.

Menurut catatan Alkitab, tentara Romawi melakukan hal ini terhadap pelaku yang telah disalib bersama Yesus, namun tidak dengan Yesus karena dia telah meninggal.

"Sebelumnya, Yesus telah mendapat hukuman lain, yaitu hukuman cambuk Romawi," kata akademisi tersebut.

"Yesus sudah dicambuk, dengan potongan logam, tulang tajam, bilah. Dia kehilangan banyak darah. Bahkan, ada orang yang mati hanya karena cambuk itu."

'Musuh terburuk'

Diikat atau dipaku, hukuman penyaliban juga bertujuan untuk "mengekspos dan mempermalukan" orang yang dihukum.

"Ini adalah kematian yang diperuntukkan bagi musuh terburuk, untuk memperjelas bahwa mereka tidak ingin melihat orang lain melakukan kejahatan yang sama," menurut Pérez.

Hal ini juga diterapkan pada budak dan orang asing, sangat jarang pada warga negara Romawi.

"Dalam banyak kasus, hal ini dikaitkan dengan pengkhianatan, pemberontakan militer, terorisme, dengan beberapa kejahatan yang dapat menyebabkan pertumpahan darah."

"Itulah mengapa fakta bahwa Yesus disalib sangat mengejutkan, karena dia tidak melakukan kejahatan."

"Mereka menyadari adanya bahaya dalam diri Yesus, karena apa yang ia wakili telah mengubah dunia."

"Dan mereka yang tidak ingin dunia berubah, tidak hanya mencoba mengakhirinya, tapi mengakhirinya dengan cara yang kejam, untuk memperjelas bahwa [pesan mereka] tidak boleh dilanjutkan."

Konstantinus menghapuskan hukuman penyaliban pada abad ke-4 M dan menjadi kaisar Romawi pertama yang menganut agama Kristen.

Dia melegalkan ajaran itu dan memberikan hak istimewa kepada para pengikutnya, yang mengarah pada Kristenisasi di sana.

Namun, hukuman penyaliban masih diulangi di tempat lain. Misalnya, pada abad ke-16 di Jepang, 26 misionaris disalib, yang merupakan awal dari periode panjang penganiayaan terhadap umat Kristen di negara tersebut.

Meskipun masa lalunya kejam, bagi banyak orang Kristen dan non-Kristen salib melambangkan pesan penyerahan diri karena cinta.