Lukisan Yesus Kristus 'dirusak' dan jadi meme, kota di Spanyol malah menjadi destinasi wisata

Lukisan Ecce Homo

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Seorang turis sedang memotret lukisan "Ecce Homo" yang gagal direstorasi.
    • Penulis, David Farley
    • Peranan, BBC Travel
  • Waktu membaca: 6 menit

Ketika semakin banyak wisatawan mendatangi apapun yang viral di media sosial, hal-hal yang tampaknya paling aneh dapat menjadi objek wisata.

Pemandu wisata itu berkata bahwa ia ingin mengambil foto kami.

"Untuk dikirimkan ke Cecilia agar ia tahu perbuatan baik yang dia lakukan," kata perempuan tersebut.

"Bahwa orang-orang kini datang ke kota kecil di Spanyol karena kesalahan dia," tambahnya.

Saya berada di Borja, kota berpenduduk 5.000 orang di Provinsi Aragon, bagian utara Spanyol.

Di sinilah seorang perempuan tua dan pemugar seni amatir bernama Cecilia Giménez menarik perhatian dunia pada 2012 lalu.

Ketika itu Cecilia memutuskan untuk memperbaiki lukisan Yesus Kristus berjudul "Ecce Homo" buatan 1930-an di Gereja Santuario de Misericordia.

Giménez awalnya berinisiatif menambahkan sedikit warna pada pakaian Yesus di lukisan itu.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Namun, saat perempuan berusia 81 tahun itu mengerjakannya, ia tak bisa menahan diri dan mulai mengecat ulang wajah pada lukisan. Setelah itu dia pergi berlibur.

Sekembalinya dari liburan, Cecilia melihat ada kerumunan orang yang terkejut dan sejumlah wartawan internasional di gereja tersebut.

Pemugaran yang dilakukan Cecilia tampak begitu berbeda sehingga pihak berwenang setempat awalnya mengira lukisan tersebut telah dirusak.

Namun, itu ternyata hasil karya Cecilia yang 'belum selesai'. Dia pikir dapat mengembalikan lukisan tersebut ke kejayaannya semula.

Sedemikian berbedanya lukisan tersebut, media Spanyol memplesetkan judul lukisan dari "Ecce Homo"—yang dalam bahasa Indonesia berarti "Lihatlah, Manusia"—menjadi "Ecce Mono" atau "Lihatlah, Monyet".

Awalnya perbuatan Cecilia tampak seperti tragedi seni. Lukisan tersebut bahkan menjadi meme dan tersebar liar di internet.

Akhirnya Cecilia mengurung diri di rumahnya. Dia berduka karena semua ejekan yang timbul akibat ulahnya.

garis

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

garis
Cecilia Gimenez

Sumber gambar, Dokumentasi BBC

Keterangan gambar, Cecilia Giménez sempat mengurung diri di rumahnya ketika tahu lukisan yang ia restorasi ternyata gagal.

Namun, sesuatu di luar dugaan terjadi.

Wisatawan mulai berdatangan ke Borja. Kota kecil yang sebelumnya hanya menerima 5.000 pengunjung per tahun ini, tiba-tiba dibanjiri wisatawan untuk melihat restorasi "Ecce Homo" yang gagal.

Saat ini para pejabat mengatakan bahwa antara 15.000 hingga 20.000 wisatawan per tahun berbondong-bondong ke Borja untuk melihat 'lukisan gagal' itu.

Sekarang, seperti Mona Lisa dan mahakarya seni lainnya, 'lukisan gagal' itu berada di balik perisai kaca pelindung.

Dalam perjalanan bersama istri saya yang kelahiran Spanyol, kami melancong ke Borja untuk melihat lukisan tersebut.

Kakak ipar saya dan putrinya menatap saya sejenak sebelum salah satu dari mereka berkata, "Mengapa kamu ingin melihat itu?"

Sejak saya melihat gambar "Ecce Homo" pasca-restorasi, saya terpesona olehnya.

Saya tidak dapat menjelaskan alasannya, tetapi saya ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Baca juga:

Seperti banyak hal yang tampaknya acak akhir-akhir ini, restorasi "Ecce Homo" yang gagal telah menjadi objek wisata tidak terduga.

Dalam bukunya The Tourist: A New Theory of the Leisure Class, sosiolog Dean MacCannell menulis:

"Apa pun berpotensi menjadi daya tarik [wisata]. Dia hanya menunggu seseorang untuk bersusah payah menunjukkan kepada orang lain sesuatu yang penting atau layak dilihat … Terkadang kita memiliki pemandu dan catatan perjalanan resmi untuk membantu kita dalam hal ini. Namun, kini unggahan media sosial kerap berfungsi sebagai pemandu wisata kita, mengarahkan wisatawan menuju pedesaan yang sederhana, objek wisata pinggir jalan yang unik, dan instalasi seni yang jarak tempuhnya jauh."

Faktanya, kisah "Ecce Homo" adalah contoh sempurna dari apa yang menurut MacCannell memotivasi banyak pelancong modern untuk naik pesawat atau kereta api:

"Semua wisatawan ingin sebuah perjalanan melihat keotentikan suatu hal," tulisnya.

"Ecce Homo" yang gagal itu malah menjadi autentik—sesuatu yang asli dan nyata yang lahir dari kesalahan.

Belakangan saya mengetahui, itulah bagian dari daya tarik lukisan tersebut.

Ecce Homo

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Seorang pemandu wisata menjelaskan lukisan Ecce Homo kepada wisatawan.

Satu jam dan 70 km setelah meninggalkan Zaragoza, kami berada di pusat Kota Borja yang tenang dan bergaya abad pertengahan.

Santuario de Misericordia terletak sekitar 5km jauhnya dari alun-alun kota dan terletak di atas bukit.

Setelah membayar biaya masuk sebesar €3 atau Rp51.000, pemandu wisata membawa kami ke kapel dan di sanalah lukisan itu berada: "Ecce Homo".

Saat kami berlama-lama, belasan wisatawan lain datang untuk melihat lukisan tersebut.

"MoMA (Museum of Modern Art) di New York pernah tertarik untuk membelinya," kata pemandu wisata itu kepada kami.

"Namun, akan menyebabkan kerusakan struktural yang parah jika memindahkannya dari gedung."

Cecilia Giménez "sangat terpukul atas 'kesalahannya'," tambah pemandu wisata itu, menggunakan tanda kutip udara dengan tangannya.

Namun, menurut sang pemandu wisata, warga Kota Borja justru "berusaha meyakinkannya [Cecilia] bahwa dia benar-benar telah melakukan hal yang sangat positif. Dia menempatkan Borja di peta wisata."

Baca juga:

Dia kemudian menunjuk ke peta dunia yang ditempel di dinding.

Ratusan pin ditancapkan di tempat-tempat di dunia tempat para pengunjung datang untuk melihat "Ecce Homo".

Ada begitu banyak jarum pentul di wilayah Amerika Utara, Eropa, hingga Jepang sehingga para pengunjung tidak dapat lagi melihat garis batas sebuah negara, hanya jarum pentul.

Secara keseluruhan, pengunjung dari 110 negara kini telah datang untuk melihatnya.

Berkat "Ecce Homo" yang kini berada di balik kaca dan toko suvenir, gereja di Borja punya elemen yang kuat untuk pariwisata.

Saat kami berjalan menuju pintu keluar, kami melewati toko suvenir yang menjual cangkir kopi, alas tetikus, gantungan kunci, tas jinjing, botol anggur, hingga kaus bermerek "Ecce Homo".

Bahkan ada mesin pembuat koin perunggu dengan gambar "Ecce Homo".

Di ruangan yang berdekatan, "Pusat Interpretasi" memamerkan karya seni yang terinspirasi oleh restorasi Cecilia Giménez, termasuk foto seseorang yang mengenakan kostum "Ecce Homo" untuk Halloween dan beberapa lukisan yang mencoba menciptakan kembali adegan Cecilia Giménez yang merestorasi fresko tersebut.

Ecce Homo

Sumber gambar, CENTRO DE ESTUDIOS BORJANOS

Keterangan gambar, Lukisan Ecce Homo, sebelum dan sesudah pemugaran.

Ada pula tempat foto, tempat pengunjung dapat meletakkan wajah di lubang dan berfoto meniru pose "Ecce Homo".

Istri saya (saat itu pacar), Ivana, dan saya melakukannya. Kami lantas menggunakan foto tersebut sebagai bagian dari undangan pernikahan kami setahun kemudian.

Ketika saya bertanya kepada MacCannel mengapa menurutnya "Ecce Homo" telah menjadi objek wisata, ia memiliki pandangan yang unik tentang hal itu.

Dia mengatakan bahwa saat masih dalam kondisi murni, karya seni "Ecce Homo" yang asli hampir tidak menarik perhatian orang.

"Lukisan dinding itu tentu saja bukan alasan bagi wisatawan untuk mengunjungi gereja tersebut – mungkin bukan komponen yang memotivasi para penganut agama untuk berkunjung."

Namun dengan menjadikan "Ecce Homo" sebagai komoditas dan mengubah restorasi yang gagal total ini menjadi objek wisata dengan biaya masuk, banyak turis datang berbondong-bondong dan berswafoto.

Saya jadi bertanya-tanya:

Apakah pemerintah lokal di Borja telah menyia-nyiakan keaslian lukisan itu?

Mungkin itu tidak dapat dihindari, dan seperti yang kemudian saya ketahui, hal ini juga memiliki beberapa dampak positif.

Sejak gereja mulai mengenakan biaya masuk sebesar €3 atau Rp51.000 kepada pengunjung dan menjual suvenir pada tahun 2016, hasil penjualannya telah mendanai pekerjaan baru di gereja (seperti pekerjaan pemandu) dan sebagian besar disumbangkan ke panti jompo tempat Giménez sekarang tinggal.

Ecce Homo

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, 'Lukisan gagal' itu tampil di sebuah stasiun televisi di Spanyol.

Beberapa hal tak terduga lainnya terjadi sejak lukisan tersebut menjadi objek wisata, termasuk meningkatnya minat terhadap karya seni Cecilia Giménez.

Tak lama setelah terungkapnya "Ecce Homo" yang gagal itu, salah satu lukisannya terjual dalam lelang amal seharga $1.400 atau sekitar Rp21.000.000.

Menurut salah satu artikel di media Spanyol, selama beberapa tahun terakhir, kegiatan pariwisata, hak cipta penggunaan gambar, hingga program yang terinspirasi "Ecce Homo" menghasilkan €45.000 atau Rp762.000.000 pada 2021 untuk kota Borja.

Bahkan ada sebuah opera yang mengisahkan tentang Giménez dan Ecce Homo yang ditayangkan perdana di Amerika Serikat pada musim gugur 2023.

Ketika opera tersebut dipentaskan di Borja beberapa tahun sebelumnya, Giménez hadir di sana. Ia sangat menyukainya.

Setelah meninggalkan gereja, kami makan siang di sebuah restoran di pusat kota Borja.

Sambil menikmati kroket ham (jamon croquetas) yang lembut, artichoke goreng, dan segelas anggur Garnacha lokal – yang sebelumnya merupakan satu-satunya hal yang membuat Borja terkenal – adik ipar saya yang sebelumnya skeptis, Pilar, dan putrinya, Ara, membuat pengumuman yang mengejutkan: mereka menyukai perjalanan kami ke Borja.

"Saya tidak mengerti mengapa kamu ingin melihat ini," kata Pilar.

"Tetapi setelah mendengar tentang kehidupan Cecilia dan melihat lukisan itu dengan mata kepala saya sendiri, ditambah dengan mengetahui tentang semua orang dari seluruh dunia yang ingin datang ke sini, saya benar-benar mengerti sekarang."

Seperti yang dikatakan Francisco Miguel Arilla, mantan wali kota Borja, kepada pers: "Pada akhirnya, waktu akan menempatkan segalanya pada tempatnya."

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, What makes a tourist attraction? dapat Anda baca di laman BBC Travel.