'Rumah terasa goyang seperti gempa': Kesaksian warga saat gudang peluru TNI AD di Ciangsana meledak – imbas dari tata ruang yang diabaikan?

Video ledakan di Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 07/155 GS Kodam Jaya di Ciangsana, Kabupaten Bogo

Sumber gambar, ANTARA/Fakhri Hermansyah

Keterangan gambar, Warga memperlihatkan video ledakan di Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 07/155 GS Kodam Jaya di Ciangsana, Kabupaten Bogor, Sabtu (30/03). Menurut Kebakaran terjadi sekitar pukul 18.05 WIB dari gudang amunisi.

Meledaknya gudang peluru TNI milik Kodam Jaya di Ciangsana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Sabtu (30/03) sekitar 18.00 WIB masih belum diketahui penyebab pastinya. Pejabat TNI memohon maaf sekaligus menyebut evaluasi masih berjalan. Pengamat menyoroti persoalan tata ruang sebagai penyebab utama kejadian ini.

Selepas berbuka puasa, Rahmad Hidayat, 49 tahun, yang tinggal di komplek perumahan Kota Wisata di Ciangsana bersama istri dan kedua anaknya, mendengar beberapa “dentuman-dentuman kecil”.

“Ada yang main petasan mungkin,” ujar Rahmad kepada BBC News Indonesia pada Minggu (31/03).

Tapi tiba-tiba dentuman-dentuman yang lebih besar muncul. Saking kuatnya, aku Rahmad, jendela dan pintu-pintu kamar rumahnya sampai terbuka. Rahmad pun panik dan lekas-lekas mengamankan kekasih dan buah hatinya.

“Rumah terasa goyang seperti gempa,” ujar Rahmad yang tinggal di Cluster Nashville.

Rahmad dan keluarga pun mengungsi di masjid dekat rumahnya. Dia mengaku saking paniknya bahkan tidak sempat merekam kejadian. Belakangan, Rahmad menyebut ada granat yang ditemukan di depan rumah tetangganya.

“Pagi ini sudah kembali ke rumah setelah penyisiran dari gegana,” ujar Rahmad.

Keterangan video, Kesaksian warga saat ledakan gudang peluru: 'Rumah goyang seperti gempa'

Saksi mata lainnya, Torangga, 53, menyebut dirinya sedang ada di masjid yang berjarak sekitar 3 atau 4 kilometer dari lokasi kejadian dan sedang dalam persiapan berbuka saat dirinya mendengar suara letusan.

“Dari sebelum adzan maghrib sudah terdengar letusan-letusan. Saya pikir itu suara petasan,” ujar Torangga.

“Suara yang terbesar itu [muncul] setelah kelar sholat Maghrib. Suara letusan masih terdengar sampai 20.00 WIB.”

Torangga mengaku awalnya mengira ledakan itu adalah bom (“Kalau ban mobil truk [pecah] tidak mungkin suaranya sampai menggetarkan kaca,” ujarnya).

Minta maaf

Kepada sejumlah wartawan usai mengunjungi lokasi kejadian, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyampaikan permohonannya kepada masyarakat.

"Kami mengucapkan permohonan maaf kepada masyarakat khususnya atas kejadian ini," ujar Maruli seperti dilansir Antara.

Maruli menyebut gudang itu menyimpan amunisi-amunisi disposal atau yang masuk ke dalam kategori untuk dimusnahkan. Dia pun menyebut TNI AD akan segera memilah kembali jenis amunisi supaya insiden serupa tidak terjadi lagi.

Secara terpisah, Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Kristomei Sianturi kepada BBC News Indonesia bahwa amunisi-amunisi disposal itu sebetulnya telah dijadwalkan untuk diledakkan setelah Lebaran (10 dan 11 April 2024).

“Yang terbakar ini, kan, gudang nomor 6 di Gudang Amunisi Daerah Kodam Jaya di Ciangsana, Bogor. Gudang nomor 6 ini digunakan menyimpan amunisi-amunisi yang sifatnya sudah kadaluarsa atau expired dan akan kita disposal,” tutur Kristomei via sambungan telepon pada Minggu (31/03).

“Sebenarnya akan kita laksanakan setelah Lebaran nanti pada bulan April. Namun keburu terjadinya insiden tadi malam.”

Gudang peluru, Ciangsana

Sumber gambar, ANTARA//Aditya Pradana Putra

Keterangan gambar, Warga menunjukkan retakan dinding rumahnya akibat dari ledakan gudang amunisi Kodam Jaya Ciangsana Kabupaten Bogor pada Minggu (31/03).
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Kristomei mengatakan pihak TNI AD akan meneliti lebih lanjut penyebab terjadinya kebakaran tersebut. Menurut dia, gudang amunisi sendiri sudah dirancang sedemikian rupa pengamanannya di dalam bunker dan dilengkapi tanggul pengaman.

“Ledakan atau kebakaran itu sudah kita antisipasi. Makanya dampak ledakannya tidak ke mana-mana,” ujarnya.

Kendati begitu, Kristomei menegaskan evaluasi akan tetap dilaksanakan. Ketika ditanya apakah ada faktor kesalahan manusia alias human error dalam ledakan ini, dia menyebut TNI AD akan terfokus pada pendinginan lokasi dan menyisir jarak dua kilometer dari gudang untuk mengecek apakah ada proyektil dan sebagainya yang terlempar ke rumah warga.

“Kita minta warga untuk tidak menyentuh, mengutak-atik dan nanti aparat yang akan menangani. Setelah proses itu kita evaluasi apa penyebabnya,” tutur Kristomei.

“Gudang amunisi ini sebenarnya jauh dari pemukiman sebelumnya. Tetapi perkembangan sekarang justru pembangunan perumahan itu yang merapat ke arah tempat gudang-gudang atau asrama tentara,” ujar Kristomi, yang menambahkan bahwa gudang amunisi di Ciangsana itu sudah dibangun sejak tahun 1997.

Dinamika tata ruang

Khairul Fahmi dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) menggaris bawahi dinamika persoalan tata ruang sebagai sumber permasalahan dari ledakan gudang peluru di Ciangsana yang berdampak kepada warga sekitar.

“Seiring dinamika pertumbuhan penduduk, dinamika ekonomi, pembangunan yang ambisius. Kawasan yang awalnya relatif kosong kemudian jadi semakin padat. Nah, kemudian apakah sebaiknya gudang ini dipindahkan? Saya kira solusi jangka pendek dan termudah, ya, memang dipindahkan. Tapi menurut saya itu bukan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan,” jelas Khairul.

Khairul melihat tantangan dan kerentanan yang mirip dengan Ciangsana di banyak instalasi militer di berbagai daerah. Masalahnya, sambung dia, adalah bagaimana kalau kawasan yang semula ideal kemudian bergerak dinamis dan mengakibatkan kerentanan kepada warga tinggal dekat dengan instalasi milier.

“Nah, ini yang saya kira memerlukan solusi lintas sektor. Apalagi banyak daerah cenderung tidak disiplin atau bahkan abai dalam hal pengelolaan tata ruang. Misalnya, kawasan pertanian mendadak alih fungsi jadi kawasan industri. Nah, ini kan praktek-praktek yang sering terjadi. Cukup lazim,” tutur Khairul.

Dia menyebut hal ini sangat mungkin berdampak pada sama sulitnya mencari kawasan yang ideal untuk instalasi militer.

“ Nah, akhirnya, yang paling mungkin kemudian adalah meningkatkan kualitas bangunan, kemudian memperketat prosedur-prosedur. Yang itu konsekuensinya kemudian adalah pasti efisiensi berkurang dan kebutuhan anggaran meningkat,” ujarnya.

Khairul sendiri mendorong semua pihak untuk tidak langsung spekulatif menyebut apakah ada human error di balik ledakan tersebut. Menurutnya, diperlukan audit dan investigasi mendalam untuk mendapatkan informasi komprehensif mengenai apa yang terjadi di balik insiden kemarin.

Di sisi lain, Khairul menyoroti istilah amunisi “kadaluarsa” yang digunakan pihak TNI AD dalam menjelaskan penyebab kejadian di Ciangsana.

“Istilah kadaluarsa ini, setahu saya, tidak dikenal dalam penyelenggaraan pemeliharaan amunisi. Memang, semua jenis amunisi sangat mungkin mengalami penurunan kondisi. Tapi itu bukan kadaluarsa,” jelasnya.

“Amunisi yang mengalami kondisi seperti itu harus dilakukan tindakan penyingkiran dan preservasi kemudian juga harus segera diusulkan untuk dimusnahkan. Nah dalam konteks ledakan kemarin yang kita belum tahu sebenarnya ada berapa banyak amunisi berstatus preservasi dan, berapa banyak amunisi yang berstatus menunggu pemusnahan yang tersimpan di dalam gudang itu.”

Buat lebih aman kalau tidak bisa dipindahkan

Ciangsana, gudang peluru

Sumber gambar, ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso

Keterangan gambar, Warga membawa koper saat mengungsi pascaledakan ledakan gudang peluru di Culuster Visalia, Ciangsana, Kabupaten Bogor,Jawa Barat, Minggu (31/03).

Kembali ke Rahmad, dia mengaku beberapa warga – termasuk salah satu saudaranya – yang tinggal di cluster lain ada yang kondisinya lebih parah karena belum bisa kembali ke kediaman masing-masing.

“Sampai saat ini [mereka] masih belum bisa masuk [ke lingkungan tinggal]. Masih dipasangi garis polisi di pintu masuk cluster,” tutur Rahmad yang sudah tinggal di sana dalam dua tahun terakhir.

Untuk Cluster Nashville – tempat tinggal Rahmad – terdata empat rumah yang terkena dampak kerusakan. Warga, sambung dia, berencana menyerahkan daftar itu ke pihak Gubernur Jawa Barat.

Rahmad berharap gudang peluru naas itu dibuat “lebih aman lagi kalau memang sulit dipindahkan”.

“SOP [prosedur standar operasi] juga harus ditinjau ulang menyeluruh dan dijalankan dengan benar,” pungkasnya.