Embrio manusia sintetis pertama, apakah patut diciptakan?

    • Penulis, James Gallagher
    • Peranan, Koresponden kesehatan dan sains

Para ilmuwan telah menciptakan embrio manusia sintetis pertama, yang dikembangkan tanpa menggunakan sperma dan sel telur. Sejumlah laporan menyebut temuan ini telah memicu pertanyaan mendalam mengenai etika pemanfaatannya.

Embrio sintetis yang hanya berusia beberapa hari atau minggu ini dapat membantu peneliti mempelajari tahap awal perkembangan manusia dan menjelaskan soal keguguran dini.

Sejauh ini, tidak ada yang menyarankan agar embrio itu dikembangkan menjadi bayi.

Namun perkembangannya yang pesat telah melampaui diskusi soal bagaimana embrio sintetis ini semestinya dimanfaatkan secara etis dan legal.

Profesor James Briscoe dari Francis Crick Institute mengatakan pencapaian itu perlu “dilanjutkan secara hati-hati, teliti, dan transparan,” untuk menghindari “kegaduhan” di tengah masyarakat.

Perkembangan embrio manusia sintetis ini diumumkan pada pertemuan tahunan Masyarakat Internasional untuk Penelitian Sel Punca.

Embrio sintetis ini disebut sebagai “model embrio” karena menyerupai embrio asli untuk tujuan penelitian, bukan untuk menyerupai aslinya.

Model embrio tersebut dikembangkan di laboratorium Profesor Magdalena Zernicka-Goetz dari Universitas Cambridge dan Institut Teknologi California.

Rincian lengkapnya belum dipublikasikan maupun tersedia untuk penelitian ilmiah, sehingga membuat banyak peneliti merasa belum bisa menanggapi seberapa signifikan laporan-laporan tersebut.

Prinsipnya, embrio sintetis terbuat dari sel punca, bukan dari pembuahan sel telur oleh sperma.

Jantung yang berdetak

Sel punca memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi jenis sel apa pun di dalam tubuh. Apabila diperlakukan dengan metode yang tepat, sel punca dapat membentuk embrio.

Ini adalah pertama kalinya embrio sintetis berhasil diciptakan menggunakan sumber dari manusia. Meskipun, sel-sel ini tidak benar-benar “sintetis” karena dibiakkan dari embrio asli di laboratorium.

“Ini sangat cantik dan diciptakan sepenuhnya dari sel-sel induk embrionik,” kata Profesor Zernicka-Goetz kepada The Guardian.

Dia juga telah berhasil mengembangkan embrio tikus sintetis dengan bukti berupa perkembangan otak dan detak jantung.

Sementara itu, para ilmuwan di China telah mencoba menanamkan embrio monyet sintetis kepada monyet betina, meskipun sejauh ini gagal memicu kehamilan.

Embrio sintetis tidak berperilaku persis sama seperti embrio normal. Tidak jelas bagaimana pemanfaatannya dalam penelitian semestinya diatur.

“Di satu sisi, model embrio manusia yang terbuat dari sel punca mungkin menawarkan alternatif yang etis dan lebih siap tersedia sebagai alternatif untuk pemanfaatan embrio manusia yang diturunkan dari fertilisasi in-vitro [proses pembuahan buatan],” kata Profesor Briscoe.

“Di sisi lain, semakin mirip model turunan sel induk ini mencerminkan embrio manusia, semakin penting juga untuk memiliki aturan dan pedoman yang jelas soal bagaimana mereka bisa digunakan.”

Sebagian besar negara memiliki aturan 14 hari dalam penelitian embrio manusia. Ini memungkinkan embrio yang dibuat dengan membuahi sel telur manusia tumbuh selama 14 hari.

Bagaimanapun, “model embrio” ini bukanlah “embrio” yang sah dan tidak diatur oleh hukum yang sama.

Dokter Ildem Akerman dari Universitas Birmingham mengatakan, “Temuan ini menunjukkan bahwa kita akan segera mengembangkan teknologi untuk menumbuhkan sel-sel ini lebih dari batas 14 hari, dengan wawasan yang lebih potensial untuk mendapatkan perkembangan manusia.”

“Meski demikian, kemampuan untuk bisa melakukannya bukan berarti membenarkan tindakan itu.”

'Memahami infertilitas'

Pakar hukum dan etika di Inggris sedang menyusun seperangkat pedoman sukarela soal bagaimana menghadapi temuan ini.

Para peneliti berharap embrio sintetis ini bisa membantu memahami tahap awal kehidupan manusia.

“Kita tidak banyak tahu soal perkembangan manusia dalam tahap ini, tapi ini adalah masa-masa di mana banyak keguguran terjadi,” kata Profesor Roger Sturmey dari Universitas Manchester.

"Jadi model yang memungkinkan kita mempelajari periode ini sangat dibutuhkan untuk membantu memahami infertilitas dan keguguran dini."