Ukraina kecam 'barbarisme' Rusia atas serangan Odesa, ekspor gandum dalam ketidakpastian

Sumber gambar, Reuters
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Rusia melakukan tindakan "barbarisme" setelah serangan rudal yang dilancarkan negara itu di Pelabuhan Odesa, Ukraina.
Kesepakatan kedua negara terkait pencabutan blokade ekspor biji-bijian dari Ukraina melalui Laut hitam yang ditandatangani beberapa jam sebelum serangan terjadi kini berada dalam ketidakpastian.
Moskow urung berkomentar tentang serangan tersebut dan Kyiv berkata persiapan pengiriman ekspor biji-bijian masih terus dilakukan kendati ada kesepakatan yang dilanggar oleh Rusia.
Tapi pada Sabtu (23/07), Presiden Zelensky berkata bahwa serangan itu menggambarkan betapa Rusia tak dapat dipercaya untuk tetap berpegang pada kesepakatan itu.
Baca juga:
Dia bersumpah akan melakukan segala kemungkinan untuk mendapatkan sistem pertahanan udara yang dapat menembak jatuh misil di masa mendatang.
Ukraina adalah pengekspor utama biji-bijian, namun gara-gara perang yang kini berlangsung di negara itu, sekitar 20 juta ton biji-bijian terjebak di pelabuhan dan tak dapat diekspor karena dijaga pasukan Rusia.
Blokade ekspor ini telah menyebabkan krisis pangan dan pelonjakan harga di seluruh Afrika, yang sangat bergantung pada gandum dari Ukraina dan Rusia.
Kesepakatan dilanggar
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Dalam kesepakatan yang dilakukan pada Jumat (22/07) silam, Rusia sepakat untuk tidak menyasar pelabuhan ketika pengiriman biji-bijian dilakukan.
Namun, hanya dalam hitungan jam setelah perjanjian itu ditandatangani, dua misil Kalibr menghantam Pelabuhan Odesa, menurut pusat komando militer Ukraina.
Dua misil lainnya berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara.
Akan tetapi, serangan itu tidak menyebabkan kerusakan signifikan pada pelabuhan, kata pusat komando.
Baca juga:
Serangan itu menuai kecaman dari dunia luas.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menuduh Rusia memperburuk krisis pangan global, dan mengatakan serangan itu memicu "keraguan yang serius" terhadap kredibilitas komitmen Rusia pada kesepakatan tersebut.
"Rusia harus menghentikan agresinya dan sepenuhnya melakukan kesepakatan terkait biji-bijian yang telah disepakati," ujar Blinken, Sabtu (23/07).
Hingga kini Kremlin belum memberikan komentar kepada publik terkait serangan terkait, namun pemerintah Turki—yang menengahi kesepakatan kedua negara—berkata bahwa pejabat Rusia menampik bertanggung jawab atas serangan itu.
"Dalam komunikasi kami dengan Rusia, mereka berkata pada kami bahwa mereka tak ada kaitannya dengan serangan ini dan mereka kini sedang menyelidiki masalah ini dengan sangat cermat dan mendetil," kata Menteri Pertahanan Turki, Hulusai Akar.

Sumber gambar, Reuters
Dalam perkembangan lain, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban berkata bahwa dirinya pesimistis Ukraina bisa menang melawan Rusia dalam perang yang masih bergejolak ini.
Orban mengatakan perang ini hanya bisa diakhiri dengan pembicaraan perjanjian damai antara Washington dan Moskow.
"Strategi baru diperlukan, yang berfokus pada negosiasi perdamaian, daripada mencoba memenangkan perang," kata Orban, yang seringkali memiliki pandangan yang berbeda dengan pemimpin Uni Eropa lain terkait konflik Ukraina.
'Suar harapan'
Pada hari Jumat, pejabat dari Kyiv dan Moskow menandatangani kesepakatan yang memungkinkan jutaan ton biji-bijian yang terjebak di Ukraina untuk diekspor.
Kesepakatan itu dipuji sebagai "suar harapan" oleh PBB, menyusul pertempuran yang sudah terjadi berbulan-bulan antara kedua negara.
Kesepakatan—yang membutuhkan waktu dua bulan untuk dicapai— akan berlangsung selama 120 hari, dengan pusat koordinasi dan pemantauan akan didirikan di Istanbul, yang dikelola oleh pejabat PBB, Turki, Rusia dan Ukraina.
Kesepakatan itu dapat diperpanjang jika kedua belah pihak setuju.

Sumber gambar, Getty Images
Kepala urusan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, berkata serangan terhadap Odesa menunjukkan "pengabaian total" Rusia terhadap hukum internasional.
"Menyerang target penting untuk ekspor biji-bijian sehari setelah kesepakatan di Istanbul adalah hal yang sangat tercela," kata Borrel dalam unggahan di Twitter.
Dia menambahkan bahwa Uni Eropa "sangat mengecam" serangan itu.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dengan tegas mengecam serangan itu, dengan mengatakan bahwa implementasi penuh dari kesepakatan terkait biji-bijian adalah sangat penting.
Baca juga:
Wartawan BBC Paul Adams di Kyiv mengatakan bahwa sangat mungkin serangan di Odesa dianggap sebagai upaya untuk merusak kesepakatan biji-bijian.
Tetapi koresponden kami mengatakan bahwa hal itu tampaknya bertentangan dengan pernyataan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, yang menegaskan bawa Rusia sama sekali tak bertanggung jawab atas serangan itu.
Dalam pertempuran terakhir di lapangan, pejabat pertahanan Inggris mengatakan jalur pasokan bagi pasukan Rusia di wilayah Kherson berisiko terputus oleh pasukan Ukraina.
Pasukan Ukraina telah menggunakan sistem rudal jarak jauh baru yang dipasok AS untuk menargetkan Jembatan Antonovsky di Kherson.









