Dari ciuman hingga pengunduran diri, lima hal yang perlu Anda ketahui tentang skandal Luis Rubiales

Sumber gambar, Getty Images
Luis Rubiales mengundurkan diri sebagai ketua federasi sepak bola Spanyol menyusul kontroversi aksi tak senonoh yang dia lakukan kala mencium striker tim nasional perempuan Spanyol, Jenni Hermoso, saat selebrasi kemenangan Piala Dunia Perempuan pada Agustus silam.
Rubiales mengatakan dia telah mengajukan pengunduran diri kepada federasi sepak bola Spanyol (RFED) pada Senin (11/09).
"Setelah skors yang dilakukan oleh FIFA (federasi sepak bola dunia), ditambah tindakan yang dikenakan terhadap saya, itu bukti bahwa saya tak lagi bisa kembali ke posisi saya," kata Rubiales dalam pernyataan.
Sementara itu, Jenni Hermoso, menyebut ciuman yang dilakukan Rubiales setelah final melawan Inggris dilakukan tanpa persetujuannya.
Pesepak bola berusia 33 tahun itu mengajukan gugatan pidana terhadap Rubiales pada Selasa (05/9).
Sebelumnya, pemerintah Spanyol menyerukan kontroversi Luis Rubiales mencium Jenni Hermoso menjadi “momen MeToo” dalam dunia sepak bola di negara itu.
Rubiales sempat berkukuh tak akan mengundurkan diri, kendati kritik dan kecaman ditujukan padanya. Di sisi lain, Hermoso dituding berbohong oleh federasi sepak bola Spanyol.
Menyusul insiden ini, tim sepakbola perempuan Spanyol menolak bermain hingga Rubiales mengundurkan diri.
Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) akhirnya turun tangan. Organisasi menskors Rubiales selama 90 hari sejak Sabtu (26/08) dari aktivitas apa pun yang berhubungan dengan sepak bola.
Perselisihan ini memicu ketegangan yang telah berlangsung lama di Spanyol mengenai hak-hak perempuan.
Berikut ini sejumlah hal yang perlu Anda ketahui tentang kontroversi aksi tidak senonoh yang dilakukan Rubiales dan kaitannya dengan hak perempuan di Spanyol.
Apa yang terbaru dari kontroversi Rubiales?
"Saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya," ujar Rubiales dalam wawancara dengan Piers Morgan pada program televisinya.
Ketika ditanya apa alasan khusus yang membuatnya mengundurkan diri, Rubiales beralasan bahwa keluarga dan nasihat dari teman-temannya menguatkan niatnya untuk lengser dari jabatannya.
"Ayah saya, putri-putri saya, saya berbicara dengan mereka."
"Sejumlah teman dekat berkata pada saya, 'Luis, kamu perlu fokus pada harga dirimu dan melanjutkan hidumu, karena jika tidak, kamu akan merugikan orang-orang yang kamu sayangi dan olah raga yang kamu cintai'," jawab Rubiales.
Selain mengundurkan diri sebagai ketua federasi sepak bola Spanyol, Rubiales juga mengundurkan diri dari posisinya sebagai wakil ketua komite eksekutif federasi sepak bola Eropa (UEFA).

Sumber gambar, Getty Images
Pada Jumat (08/09), jaksa memproses gugatan pidana untuk kasus pelecehan seksual dan pemaksaan, menyusul kesaksian Hermoso pada Selasa (05/09).
Selain gugatan pelecehan seksual yang diajukan oleh Hermoso, Jaksa Marta Durantez Gil juga menambahkan tuduhan pemaksaan ketika mengajukan kasus Rubiales ke pengadilan tinggi.
Menurut Gil, Hermoso mengatakan kepada jaksa bahwa kerabatnya dipaksa oleh Rubiales dan "rombongan profesionalnya" untuk mengatakan bahwa Hermoso "membenarkan dan menyetujui apa yang terjadi".
Rubiales mengeklaim ciuman itu "suka sama suka" dan "dengan persetujuan", namun dia menerima skors dari FIFA karena insiden itu.
"Setelah skors FIFA, ditambah dengan tindakan yang dikenakan terhadap saya, itu adalah bukti bahwa saya tidak bisa kembali di posisi saya," ujar Rubiales dalam pernyataan tertulis.

Sumber gambar, Getty Images
"Berkukuh untuk menunggu dan bertahan tak akan berkontribusi positif, baik untuk federasi maupun sepak bola Spanyol," tulis Rubiales.
Lebih jauh, Rubiales berharap pengunduran dirinya akan mendorong upaya Spanyol untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2030 bersama Maroko dan Portugal.
Dia kemudian menambahkan: "Saya percaya pada kebenaran dan saya akan melakukan segalanya untuk melakukannya."
“Putri-putri saya, keluarga saya, dan orang-orang yang menyayangi saya menderita akibat persekusi yang berlebihan," ujar Rubiales.
Sejumlah 81 pemain Spanyol, termasuk 23 pemain yang berlaga di Piala Dunia 2023 silam, menyebut bahwa mereka menolak untuk bermain jika Rubiales masih menjabat sebagai ketua federasi sepak bola Spanyol.
Adapun pelatih timnas perempuan Spanyol, Jorge Vilda—yang disebut sebagai pembela Rubiales— dipecat pada 5 September silam akibat skandal ciuman itu.
Posisinya kini digantikan oleh Montse Tome.

Sumber gambar, Getty Images
Bagaimana insiden itu bergulir?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
20 Agustus - Di tengah selebrasi kenenangan timnas perempuan Spanyol dalam final Piala Dunia Perempuan, striker Jenni Hermoso dipeluk dan dicium di bibir oleh Luis Rubiales, ketua federasi sepak bola Spanyol.
Hermioso kemudian bereaksi terkait ciuman itu dalam siaran langsung, seraya mengatakan dia “tidak menikmatinya”.
21 Agustus - Rubiales menyatakan permintaan maafnya, dengan mengatakan bahwa dia “meminta maaf kepada siapa pun yang merasa tersinggung”, setelah dikritik oleh berbagai pihak: pesepak bola, media, bahkan perdana menteri Spanyol. Beberapa di antara mereka meminta Rubiales turun dari jabatannya.
24 Agustus - Federasi sepak bola dunia (FIFA) melakukan investigasi atas aksi Rubiales. Sehari kemudian, Rubiales mengumumkan bahwa dirinya tak akan mengundurkan diri. Dia beralasan ciuman itu “atas persetujuan” Hermoso.
25 Agustus - Pemerintah Spanyol mengatakan pihaknya memulai proses hukum untuk menskors Rubiales, dan Menteri Olahraga Spanyol mengatakan dia "ingin ini menjadi momen MeToo di sepak bola Spanyol".

Sumber gambar, Getty Images
25 Agustus – Pada hari yang sama, Hermoso merilis pernyataan di Instagram yang menolak klaim Rubiales, dengan mengatakan bahwa "tidak pernah... ciumannya pernah dilakukan atas dasar suka sama suka".
25 Agustus - 81 pemain Spanyol - termasuk 23 pemain yang berangkat ke Piala Dunia Perempuan - mengumumkan bahwa mereka tidak akan bermain untuk tim perempuan Spanyol sampai Rubiales dicopot dari posisinya.
26 Agustus - Federasi sepak bola Spanyol mengatakan akan mengambil tindakan hukum terhadap Hermoso atas "kebohongan" nya tentang ciuman itu.
26 Agustus - FIFA mengumumkan bahwa mereka akan men-skors Rubiales untuk sementara sambil menunggu hasil dari proses disiplinernya.
Siapa Luis Rubiales yang memicu kontroversi?
Lahir pada tahun 1977 di Kepulauan Canary, Rubiales – yang tumbuh di daratan Spanyol – cukup sukses dalam karir bermainnya sebagai bek.
Dia bermain sepak bola liga bawah di Spanyol untuk Mallorca B, Lleida dan Xerez sebelum membantu Levante promosi dan memainkan 53 pertandingan La Liga untuk klub itu antara 2004-05 dan 2007-08.
Dia sempat memimpin aksi demonstrasi di Levante atas gaji pemain yang tak dibayar oleh klub.
Dia kemudian bermain di klub Accies di Skotlandia, dan meninggalkan klub itu hanya dua pekan setelah menandatangani kontrak.
Setelah pensiun dari dunia sepak bola, dia meraih gelar sarjana hukum dan menjadi presiden asosiasi pesepak bola Spanyol pada Maret 2010.

Sumber gambar, Getty Images
Dia menjadi ketua federasi sepak bola Spanyol pada Mei 2018 dan pada bulan Februari 2019, Rubiales bergabung dengan komite eksekutif UEFA dan pada bulan Mei menjadi wakil presiden.
Pada tahun 2021, ia dibebaskan dari kasus hukum setelah arsitek Yasmina Eid-Macchet menuduhnya melakukan penyerangan dan tidak membayar.
Tahun lalu, Rubiales mengatakan ada "kampanye untuk mendiskreditkan saya" dan menyalahkan "mafia", sambil menambahkan: "Saya tidak dapat menjamin bahwa suatu hari mereka akan memasukkan sekantong kokain ke bagasi mobil saya."
Hal ini terjadi setelah para peretas merilis rekaman audio curian dari Rubiales dan ofisial lainnya, menuduh mereka memiliki konflik kepentingan dengan perusahaan bek Barcelona Gerard Pique dalam kesepakatan untuk memainkan Piala Super Spanyol di Arab Saudi – sesuatu yang dibantah oleh ketua federasi sepak bola Spanyol.
Apa pemicu perselisihan dengan timnas perempuan Spanyol?
Pada September 2022, alih-alih menengahi perselisihan antara timnas perempuan Spanyol dan pelatih Jorge Vilda, Rubiales justru mendukung Vilda.
RFEF mengeluarkan pernyataan yang mengatakan 15 pemain mengirimkan email yang mengatakan mereka tidak akan bermain untuk Vilda kecuali kekhawatiran “signifikan” mengenai “keadaan emosional” dan “kesehatan” mereka diatasi.
Namun para pemain membantah meminta dirinya dipecat. Rubiales tetap mendampingi sang pelatih, dan hanya tiga dari 15 pemain tersebut yang masuk skuad Piala Dunia.
Setelah kemenangan Spanyol di semifinal atas Swedia musim panas ini, Vilda mengatakan: "Dukungan dari Luis Rubiales dan semua orang di federasi sangat berarti dan akan selalu bersama saya."

Sumber gambar, Getty Images
Rubiales mengatakan pada hari Jumat (25/08): "Jorge Vilda, mereka ingin melakukan hal yang sama pada Anda seperti yang mereka lakukan pada saya sekarang. Kita telah melalui banyak hal, tapi kita tetap bersama."
Vilda mungkin selamat dari pemberontakan para pemain – dan membawa mereka meraih kejayaan Piala Dunia kali ini – tetapi masa jabatan Rubiales tampaknya tinggal menghitung hari dengan total 81 pemain mengatakan mereka tidak akan bermain untuk Spanyol selama dia masih memimpin.
Dan sekarang bahkan Vilda tampaknya telah menentangnya, menyebut perilaku Rubiales "tidak pantas dan tidak dapat diterima" dalam pernyataan pada hari Sabtu (26/08).

Sumber gambar, Getty Images
Rubiales menyebut para pengkritiknya menggunakan "feminisme palsu” dan mengeklaim bahwa dia adalah korban "pembunuhan sosial".
Dia juga bersikukuh bahwa ciuman yang dia lakukan adalah ”spontan, atas dasar suka sama suka, dan karena euforia”.
Namun dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Jumat melalui serikat pemain, Futpro, Hermoso menolak penjelasan Rubiales tentang kejadian tersebut.
“Saya tidak pernah menyetujui ciuman itu,” kata striker Spanyol itu. “Saya tidak mentolerir kata-kata saya dipertanyakan.”
Sejumlah anggota timnas perempuan Spanyol mengatakan pada hari Jumat (25/08) bahwa mereka tidak akan memainkan pertandingan apa pun untuk negara tersebut sampai Rubiales diberhentikan.
Momen MeToo di sepak bola dan di Spanyol?
Ini adalah insiden terbaru dalam perjuangan mengenai perubahan sosial dan politik di Spanyol, di antaranya adalah perubahan undang-undang yang disahkan baru-baru ini untuk meningkatkan kesetaraan gender dan mendefinisikan persetujuan seksual dengan lebih ketat.
Para menteri termasuk di antara mereka yang menyerukan tindakan terhadap Rubiales.
“Ini harus menjadi momen MeToo untuk sepak bola Spanyol,” kata Víctor Francos, Menteri Olahraga Spanyol.
Pemerintah Spanyol juga mengumumkan bahwa mereka akan mengambil tindakan untuk memberhentikan Rubiales dari jabatannya dan akan membawanya ke pengadilan.

Sumber gambar, Getty Images
Kontroversi Rubiales tampaknya berdampak pada perubahan sosial yang lebih luas dalam masyarakat Spanyol selama beberapa tahun terakhir, termasuk undang-undang yang mempromosikan persetujuan seksual dan kesetaraan gender.
“Ini adalah momen kritis di negara ini, masyarakat bergerak menuju kesetaraan gender,” kata Carolina García, jurnalis olahraga di jaringan televisi Telemadrid.
"Spanyol pada zaman kakek saya sangat berbeda dengan sekarang, namun yang penting adalah kita terus bergerak maju. Itu yang perlu kita capai sebagai masyarakat."
Feminisme sering kali menjadi medan pertempuran politik antara pemerintahan koalisi sayap kiri Pedro Sánchez melawan oposisi, khususnya sayap kanan Vox.
Salah satu kritikus paling vokal terhadap Rubiales adalah Irene Montero, Menteri Kesetaraan Spanyol dan pendukung agenda feminis pemerintah yang paling menonjol.
Dia juga yang paling keras menyuarakan undang-undang “Hanya ya berarti ya”, yang berupaya membatasi hubungan seksual non-konsensual.
Undang-undang tersebut didorong oleh pemerkosaan beramai-ramai terhadap seorang perempuan muda di Pamplona selama festival San Fermines pada tahun 2016, dalam sebuah kasus yang kemudian dikenal sebagai "The Wolfpack".
Kelima pria yang bertanggung jawab pada awalnya dinyatakan bersalah atas pelecehan seksual, bukan pemerkosaan (sebelum hukuman mereka direvisi).
Reaksi sosial yang muncul setelah putusan awal tidak hanya berkontribusi pada perubahan undang-undang, namun juga tampaknya mengubah sikap di Spanyol terhadap persetujuan dalam hubungan seksual.
Selain reaksi terkait gender terhadap Rubiales, ada juga kemarahan di Spanyol karena episode ini mengancam pencapaian timnas perempuan Spanyol dalam memenangkan Piala Dunia pertamanya.
“Kami seharusnya menghabiskan lima hari terakhir membicarakan [tim putri] kami!” Iker Casillas, kapten tim putra juara Piala Dunia 2010, menulis di jejaring sosial X.
"Atas kebahagiaan yang mereka berikan kepada kita semua!"









