|
Trisno rintis lumbung pangan dari umbi | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Gara-gara pernah kelaparan, Trisno Suwito terobsesi untuk mengumpulkan berbagai bibit umbi-umbian untuk kepentingan pelestarian dan cadangan pangan. Dari obsesi itu, Trisno, yang warga Dusun Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul, DIY, telah menghimpun puluhan jenis umbi-umbian antara lain uwi, gadung, ubi jalar, jempino, katak bunga dan tentu saja ubi kayu. Ubi kayu dikenal sebagai makanan pokok penduduk pegunungan, terutama pada saat musim paceklik datang. Adapun beberapa jenis umbi-umbian lain dimanfaatkan sebagai makanan tambahan atau diproses menjadi makanan ringan dan kue. Trisno, 62 tahun, mengatakan, dia mengumpulkan umbi-umbian yang sebagian sudah tergolong langka dan kemudian menanamnya lagi di ladangnya sebagai tabungan pangan alias lumbung pangan.
Keinginan keras Trisno untuk mencurahkan waktu dan tenaga itu terkait dengan pengalaman pribadinya semasa kecilnya. "....saya sudah pernah mengalami zaman pahit tahun 1963 yang dinamakan jaman gaber karena pada umumnya Gunung Kidul diserang hama tikus, lalu semua tanaman petani yang enak dimakan lenyap kecuali umbi-umbian,” kata Trisno di ladangnya. Oleh karena itu, sejak tahun 2002, lulusan Sekolah Rakyat tersebut sering meniti bukit-bukit cadas di desanya untuk mencari umbi-umbian. Trisno mengaku tidak menjual hasil tanamannya, karena umbi-umbian yang ditanam baru skala kecil. Meski demikian, koleksi umbi-umbian yang dihimpun dan dirawat di petak tanah yang luasnya tidak sampai satu hektar telah menjadi objek penelitian bagi mahasiswa dan dosen dari beberapa perguruan tinggi. Menurut pakar pertanian dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ir Tukidjo, umbi-umbian merupakan sumber makanan alternatif terutama pada musim paceklik dan juga bisa menjadi sumber keuangan tambahan bagi petani. Tokoh BBC Siaran Indonesia bersama Trisno Suwito disiarkan dalam acara Tokoh BBC Siaran Indonesia, Minggu, 27 April 2008, pukul 05.30 WIB. |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||