Apakah otak kita bisa membuktikan bahwa kita pembohong?

Sumber gambar, iStock
Gelombang di otak tidak pernah berbohong. Atau paling tidak itulah cerita yang diyakini oleh semakin banyak polisi dan pengadilan hukum di dunia, tetapi kebenaran sebenarnya lebih rumit dari hal itu.
Di Universitas Northwestern, Illinois, Amerika Serikat, sekelompok psikilog mengajarkan mahasiswa bagaimana melakukan kejahatan yang sempurna.
Mereka diajarkan bagaimana membobol sebuah kantor kecil kampus universitas, diberitahu tempat barang berharga, termasuk sebuah cincin perak, dan diberitahu waktu yang tepat untuk merampok agar terhindar dari penangkapan. Pada hari itu, masing-masing mahasiswa menjadi seorang pencuri.
Tentu saja 'kejahatan' ini dibuat-buat. Yang menarik perhatian para psikolog adalah bagaimana manusia mengontrol ingatan aksi kejahatan dan sampai sejauh mana hal ini bisa disembunyikan. Skenario kejahatan buatan dapat membantu dan temuannya akan membantu mengatasi kejahatan yang ditangani saat ini.
"Selama bertahun-tahun orang beranggapan ketika seorang penjahat diingatkan akan tindakannya, otak akan segera mengakuinya," kata Zara Bergstrom, psikolog Universitas Kent yang terlibat dalam kajian itu. "Tetapi tidak seorangpun ditanya apakah ini memang benar terjadi. Apakah orang dapat menghentikan otaknya mengingat sesuatu yang tidak ingin mereka pikirkan. Dan jika memang bisa, bagaimana hal ini bisa terjadi?"
Contoh kasus di India

Sumber gambar, iStock
Kenyataan bahwa persoalan ini masih perlu diteliti, dapat dipandang sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan. Dalam sepuluh tahun terakhir, ilmu syaraf pindah dari laboratorium ke sistem penegakan hukum dan pengadilan di dunia. Dan meskipun telah diketahui bahwa tes kebohongan tradisional, poligraf, tidak dapat dipercaya, asumsinya adalah generasi baru tes berdasarkan pemindaian otak, lebih kecil kemungkinan melakukan kesalahan. Kepercayaan terhadap teknologi begitu tinggi, sehingga hal ini telah memisahkan pihak yang bersalah dari yang tidak, terutama di India.
Tahun 2008, mahasiswa bisnis Aditi Sharma, 24 tahun, dipenjara seumur hidup karena meracuni mantan tunangannya Udit Bharati dengan permen arsenikum. Bharati marah karena Sharma memutuskan pertunangan agar dapat bersama laki-laki lain.
Sementara bukti lainnya menunjukkan dirinya bersalah, Hakim Shalini Pransalkar Joshi di sidang menjelaskan bahwa pemindaian otak Sharma menunjukkan dia memiliki "pengetahuan berdasarkan pengalaman" terkait arsenikum, pembunuhan itu sendiri dan cara Bharati dibunuh.
Pendekatan ini melibatkan interogasi terhadap terduga pelaku yang duduk diam di sebuah kamar kecil tanpa jendela, mendengarkan serangkaian pernyataan, sebagian terkait dengan kejahatan yang dilakukan. Sebuah topi dengan 30 elektroda mengikuti kegiatan otak dan memberikan informasi ke mesin electro-encephalograph (EEG). Sejumlah ahli syaraf meyakini hal ini mengungkapkan apakah orang itu telah mengetahui hal tertentu, seperti alat yang dipakai untuk membunuh, atau luka yang dialami korban.
Salah satu tes sidik jari otak yang paling umum adalah mencari signal elektrik khusus otak, yang diberi nama P300. Signal ini menjadi besar ketika seseorang menerima informasi perkataan atau gambar terkait objek, orang atau lokasi yang berhubungan dengan ingatan yang sangat jelas atau emosional.
Teknik sidik jari
Hubungan P300 dengan ingatan pertama kali ditemukan ahli syaraf pada pertengahan tahun 60-an. Mereka menemukan peningkatan kegiatan elektrik yang konsisten di otak. Hal ini terjadi sekitar 300 milidetik setelah informasi, seperti melihat foto anggota keluarga. Tetapi diperlukan 30 tahun lagi sebelum seseorang berusaha menggunakan P300 untuk membongkar kejahatan.

Sumber gambar, iStock
Larry Farwell, mantan peneliti psikologi biologi di Harvard, adalah orang pertama yang mengembangkan teknik sidik jari otak dengan menggunakan P300. Dalam sebuah kasus penting, teknik ini terbukti sangat penting dalam mengumpulkan bukti terkait pembunuh berantai Amerika, JB Grinder, sampai akhirnya dia dihukum pada tahun 1999.
Tetapi P300 bukanlah satu-satunya gelombang otak yang dipakai teknologi sidik jari otak. Pada tahun 1997, ahli syaraf India Champadi Raman Mukundan, mengembangkan teknologi tes Brain Electrical Oscillatory Signature (BEOS) yang mengukur kehadiran ingatan melalui sejumlah perubahan halus data kegiatan otak. Tes BEOS sekarang digunakan di India.
"Proses memformulasikan informasi sangat memakan waktu," kata Mukundan. "Kami menggunakan informasi dari kejadian yang tidak berhubungan, yang kami ketahui terjadi dalam kehidupan mereka untuk menguji sistem kami, di samping informasi versi mereka terkait kejadian yang berhubungan dengan kejahatan, dan teori penyidik polisi."

Sumber gambar, iStock
Jika tes memperlihatkan sinyal penting, hal itu akan diulang untuk memastikan kebenaran respons, kata Mukundan. Tes BEOS memerlukan kesediaan terduga pelaku untuk berpartisipasi dan adalah penting untuk memastikan sinyal apapun diungkapkan dalam cara yang tidak menuduh orang tersebut, katanya. "Kadang-kadang diperlukan pembicaraan prauji coba agar mereka berada di situasi kejiwaan yang tepat, agar mereka tidak menjadi terganggu saat tes berjalan."
Tingkat akurasi
Semua ini memberikan kesan tes BEOS, dan tes Farwell, telah dipikirkan secara matang sebelum digunakan untuk tujuan penegakan hukum. Mukundan mengatakan, jika dilakukan dengan benar, tes BEOS dapat mengetahui apakah terduga pelaku memiliki pengetahuan langsung suatu kejadian atau mendapatkan informasi lewat sumber kedua. Dia mengatakan tingkat ketepatannya sebesar 95%. Farwell mengatakan tesnya hampir benar 100%.
Polisi dunia teryakinkan. Polisi Singapura membeli teknologi sidik jari otak pada tahun 2013. Polisi Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, menandatangani kontrak penggunaan pada tahun 2014. Pejabat antiterorisme Australia saat ini sedang mengkaji penggunaan sidik jari otak untuk memastikan apakah seseorang yang kembali dari medan perang terlibat kegiatan ilegal dalam konflik saat mereka mengaku melakukan kerja kemanusiaan.
Tetapi tidak semua orang menyambut positif. Ahli syaraf terkemuka secara terbuka mengecam kurangnya penerbitan ilmiah dalam jurnal yang diedit sesama ilmuwan, untuk mendukung pernyataan Munkundan dan Farwell. Sebagian orang khawatir, sama seperti poligraf, hasil sidik jari otak didapat lewat tes yang sangat bergantung pada cara dilakukannya tes itu. Yang diperlukan adalah protokol yang diakui dunia, kata Bergstrom. Hal ini akan membantu untuk memastikan para jaksa tidak merekayasa tes, secara sengaja atau tidak, untuk meningkatkan kemungkinan menemukan respons otak yang dapat dipakai dalam proses peradilan. "Bergantung pada cara Anda memilih informasi, Anda akan menemukan apa yang Anda inginkan," katanya.

Sumber gambar, iStock
Ada lagi hal lain yang tidak diketahui. Pendukung teknologi menegaskan pola kegiatan otak, seperti P300, adalah respon otomatis, sesuatu yang tidak bisa dikuasai terduga pelaku. Tetapi apakah ini suatu kebenaran?
Hal ini mengingat kita pada kejahatan buatan di Universitas Northwestern. Bergstrom dan koleganya mengkaji P300. Mereka ingin mengetahui apakah seorang yang bersalah dapat menipu tes sidik jari otak yang menggunakan sinyal dengan secara sengaja menutupinya sesuai dengan sinyal tingkat arti pentingnya.
Dalam sebuah kajian pendahuluan, mereka menanyakan subjeknya untuk melihat sejumlah foto kejahatan pada layar komputer, dan membayangkan mereka melakukannya, sebelum secara sengaja berusaha melupakan kejahatan ini selama tes sidik jari otak. Para peneliti menemukan sebagian orang dapat melakukan hal ini.
Bukti pendukung
Kejahatan palsu adalah tahap selanjutnya dari penelitian. Apakah seseorang dapat menipu tes jika mereka secara fisik melakukannya? Hasil pendahuluan mengisyaratkan bahwa mereka dapat melakukannya. "Kami menemukan sebagian orang sangat ahli dalam mengendalikan kegiatan otak, menekan sejumlah hal, bahkan ingatan tentang diri sendiri," kata Bergstrom.
Apakah kejahatan buatan dapat menjadi pembanding ingatan emosional mendalam saat terlibat kejahatan kekerasan sebenarnya memang masih bisa dipertanyakan. Sejumlah psikolog meyakini menanyakan sukarelawan untuk melakukan kejahatan dalam keadaan maya kemungkinan dapat memberikan cara untuk memeriksa apakah seorang yang bersalah dapat secara sengaja menipu tes. Tetapi Bergstorm yakin, bahkan dengan apa yang sudah dia ketahui sampai sejauh ini, sidik jari otak seharusnya juga meneliti kegiatan otak yang akan mengungkap apakah seseorang secara sengaja menekan ingatannya.
"Memang benar, kemungkinan, ada sebagian orang yang berhasil melupakan, apakah secara langsung atau tidak," kata Mukundan. "Kami memiliki sejumlah kasus di mana seseorang dapat menceritakan ingatan yang menyakitkan dari masa lalu, tetapi mereka sepertinya tidak mampu mengingatnya. Tetapi karena itulah sekarang BEOS hanya bisa dipakai sebagai bukti pendukung di pengadilan, di samping bukti utama."

Sumber gambar, iStock
Pada tahun 2008, koran Hindu melaporkan dewan nasional lima ahli syaraf mengajukan laporan mendorong sistem peradilan dan kebijakan India untuk tidak menggunakan teknologi itu, karena keefektifannya sebagai barang bukti terlalu terbatas. Tetapi usulan tersebut tidak diperhatikan.
Sidik jari otak dapat diterima sebagai bukti hanya di pengadilan India, tetapi banyak ahli hukum meyakini hal ini akan diubah.
"Hakim seperti biasa akan berpandangan ke belakang, lebih konservatif dan menuntut bukti kuat," kata Gary Gibson dari California Western School of Law. “Mereka ingin tahu, apakah hasilnya akan sama setelah dilakukan 1.000 tes? Apakah kita bisa yakin tes tidak bisa direkayasa? Tetapi bagaimanapun, cepat atau lambat, Anda akan menemukan hakim yang akan mengakui, kemungkinan dalam kasus perdata, karena risikonya lebih rendah. Tetapi ini akan mendobrak batasan pada kasus pidana."
Harapannya adalah hal ini terjadi setelah kita mengetahui cukup banyak tentang kemungkinan kelemahan teknologi dalam mengkaji temuan.









