Montage of Heck: film dokumenter musik rock terbaik?

Sumber gambar, Getty
Sebuah film tentang pentolan grup band Nirvana, Kurt Cobain, menambah daftar panjang film dokumenter tentang musik rock – tapi apa yang membuat istimewa film dokumenter jenis ini? Greg Kot memilih beberapa yang terbaik.
Film dokumenter terbaru tentang Kurt Cobain, 'Montage of Heck', yang pertama kali disiarkan di saluran TV kabel Amerika pada tanggal 4 Mei dan ditayangkan di bioskop di seluruh dunia, tidak seperti film dokumenter pada umumnya – setidaknya dalam pengertian tradisional. Film ini, selain tak punya perspektif kultural, juga luput memberi gambaran bagaimana Cobain berkembang sebagai seorang musisi, serta menjadi tokoh penting untuk generasinya. Film ini lebih mirip dengan kajian terhadap satu tokoh, sebuah psikodrama, yang dikisahkan melalui arsip dan buku catatan harian seorang bintang musik rock yang sudah meninggal dunia.
Ada tujuh orang yang diwawancarai – semuanya tentang Cobain – menceritakan dengan sendu soal bunuh diri Cobain di tahun 1994, tanpa menjelaskan mengapa ia melakukannya. Cobain sendiri tetap menjadi misteri, yang penuh pesona, dan sutradara Brett Morgan mengakhiri film ini dengan menggarisbawahi kenapa Cobain begitu memesona. Ia tidak berlama-lama dengan ucapan duka cita atau imaji penuh darah. Alih-alih, ia mengajak kita menikmati suara menawan sang rocker ketika tampil dengan musik akustik di MTV Unplugged membawakan lagu ‘Lead Belly’s In the Pines’.
Namun Montage of Heck terasa insular - hanya dimengerti oleh orang yang mengerti Cobain - sekalipun memiliki teknik editing dan animasi yang cerdas. Penonton yang tak akrab dengan musik Cobain yang sulit diduga, atau kehidupannya yang bermasalah, mungkin selesai menonton film dokumenter ini dengan segudang pertanyaan: itu film tentang apa sebetulnya.
Subjek sekuat Kurt Cobain menuntut adanya potret yang lebih utuh, dalam tradisi beberapa film dokumenter tentang musisi rock – beberapa dari mereka terkenal, berapa lagi kurang – yang menampilkan mereka secara personal sembari menempatkan dalam budaya yang menghasilkan mereka.
Dont Look Back, Bob Dylan (1967)
Bicara tentang tokoh yang selalu menghindar dan misterius, Bob Dylan adalah putra mahkotanya dan sutradara DA Pennebaker dengan kamera panggulnya mengikuti Dylan ketika tur di Inggris tahun 1965. Ketika itu, Dylan hampir memasuki periode penggunaan musik elektrik (dari sebelumnya yang akustik). Sifatnya yang gelisah tampak jelas, dan pasti ini diperkuat dengan amphetamine yang ia telan. Sang penyanyi ini tampil sebagai sosok penuh pusaran kreativitas yang rewel dan sulit dimengerti, dipersenjatai oleh selera humor yang mengesankan. Ia membantai habis orang-orang yang dianggapnya bodoh, apakah itu wartawan sok tahu ataupun penyanyi folk, Donovan. Kritikus terkenal almarhum Roger Ebert menyorot sang bintang, “Bagi mereka yang menganggap Dylan sebagai seorang sosok yang berjuang sendirian dan beretika melawan kepalsuan, sesudah melihat film ini akan merasa kehilangan pahlawan mereka itu.” Namun bagi banyak orang, legenda pemberontakan Dylan, sudah tersimpan aman di hati mereka.
Gimme Shelter, The Rolling Stones (1970)
Tur Rolling Stones di Amerika tahun 1969 telah menjadikan mereka sebagai status “band rock ‘n’ roll terbaik dunia” dan juga nyaris membawa pada akhir tragis pada festival Altamont di Kalifornia. Kamera dari sutradara Albert dan David Maysles tidak melewatkan satu hal pun, termasuk penikaman mematikan terhadap seorang penggemar Afro-Amerika oleh anggota geng motor Hells Angels ketika Stones sedang tampil. Kamera mereka tak berdaya menghentikan bencana itu bergulir di depan mereka. Film ini menyedihkan sekaligus memukau.
The Filth and the Fury, Sex Pistols (2000)
Julien Temple dua kali mencoba bercerita tentang Sex Pistols lewat film. Pertama, "The Great Rock and Roll Swindle" (1980), lebih mirip mockumentary (istilah untuk film dokumenter musik rock 'palsu' yang bermaksud mengolok-olok subjeknya), kisah seloroh lewat musik tiga kunci yang sederhana. Karya yang kedua, menampilkan korban yang jatuh bukan hanya karena para musisi ini mencoba untuk melawan industri musik, tetapi juga melawan masyarakat dan pemerintah. Ketika Johnny Lydon tersedak saat berbicara tentang kematian Sid Vicious, “kecohan” Sex Pistols menjadi sesuatu yang tragis.
Some Kind of Monster, Metallica (2004)
Banyak acuan kepada film "This is Spinal Tap" muncul dalam potret tumbuhnya kelompok 'heavy metal' ini. Dua orang pentolan Metallica, James Hetfield dan Lars Ulrich, memberi akses tak terbatas kepada sutradara senior Joe Berlinger dan Bruce Sinofsky selama dua tahun, ketika kelompok musik ini bertikai, hampir bangkrut dan menyewa “pelatih untuk meningkatkan kepercayaan diri” seharga US$40.000 per bulan, yang ujung-ujungnya mencoba menulis lirik lagu untuk mereka. Bagi sebagian penonton, film ini tak ragu lagi akan memperlihatkan bahwa raja musik heavy metal ini menelanjangi diri mereka. Namun pada kasus ini, sang raja lah yang memerintahkan pembuatan film tentang penelanjangan itu.
You’re Gonna Miss Me, Roky Erickson (2005)
Rocker asal Texas ini menggunakan banyak obat-obatan kimia, yang menolongnya menciptakan music rock 'psychedelic' bersama kelompok 13th Floor Elevators. Ia juga menghabiskan waktu di pusat rehabilitasi mental, yang memberinya terapi kejut dan obat penenang yang hampir membuatnya gila sungguhan. Satu dekade kemudian kakaknya menolongnya mencari jalan mengatasi penyakitnya. Daya tahan Roky dalam menghadapi kematian bertemu dengan iblis di dalam dirinya sendiri menghasilkan film yang sungguh mengharukan.
We Jam Econo, Minutemen (2005)
Trio asal Kalifornia yang tersingkirkan secara komersial tetapi inspirasional dan berpengaruh ini, dibentuk oleh dua sahabat dari kota pantai Kalifornia: D Boon and Mike Watt. Film ini mengisahkan cerita keduanya, sekaligus tentang band yang mereka bentuk, Minutemen. Bersama penggebuk drum George Hurley, mereka memasukkan semangat membuncah dan musik lintas aliran ke dalam lagu-lagu pendek, sekaligus mengubah musik berbiaya rendah dengan semangat mandiri menjadi semacam pencarian spiritual. Bintang tamu dalam film ini adalah orang-orang yang banyak bicara, mulai dari Thurston Moore and Flea hingga Ian MacKaye dan Henry Rollins, yang lebih populer ketimbang Minutemen. Namun persahabatan Watt dan Boon menjadi saripati cerita menakjubkan ini. Kisah ini menjadi lebih pedih lagi dengan kematian Boon di tahun 1985 karena kecelakaan mobil selagi trio ini menjalani tur mereka yang tak pernah berakhir.
<italic>Greg Kot adalah kritikus musik pada Chicago Tribune dan salah seorang pembawa acara radio Sound Opinions. Ia menulis beberapa buku, termasuk yang akan terbit I'll Take You There: Mavis Staples, the Staple Singers and the March Up Freedom's Highway tulisan-tulisannya bisa diakses <link type="page"><caption> di sini</caption><url href="http://my.chicagotribune.com/#section/543/" platform="highweb"/></link>.</italic>
<italic>Artikel asli dalam bahasa Inggris bisa dibaca di sini <link type="page"><caption> Montage of Heck: The greatest rock documentaries</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20150501-the-greatest-rock-documentaries" platform="highweb"/></link> di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link></italic>.











