Pelanggan utama Hollywood bukan lagi laki-laki

carey mulligan

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Penonton perempuan semakin penting dan diandalkan (Kredit foto: Getty Images).

Ketika Anda membeli tiket bioskop belakangan ini, apakah Anda memperhatikan sekitar Anda?

Jika ya, Anda perhatikan bahwa jurang antara penonton perempuan dan laki-laki semakin menyempit.

Penonton perempuan semakin lebih berpengaruh dalam penjualan tiket bioskop.

'The Avengers: Age of Ultron' mendatangkan uang sebesar US$191 juta (Rp3,8 trilyun) di Amerika Utara pada pekan pertamanya, membuat film ini menjadi film film kedua paling laris dalam minggu pertamanya.

Tak diragukan lagi, kesuksesan film ini disebabkan oleh gerombolan remaja laki-laki yang menyambut dengan girang.

Tapi sebenarnya sedang terjadi revolusi kecil-kecilan yang dipimpin oleh kaum perempuan dalam penjualan tiket bioskop di Amerika.

Peristiwa ini terjadi dengan mengesankan pada catur wulan pertama tahun ini di Amerika Serikat, ketika 60% penonton kaum perempuan datang untuk tiga film berikut ini: 'Fifty Shades of Grey', 'Cinderella' dan 'The Divergent Series: Insurgent'.

Ketiga film ini menghasilkan pendapatan lebih dari US$480 juta (Rp9.7 trilyun) hingga sekarang di Amerika Utara, membuat peristiwa ini menjadi sebuah pernyataan yang penting.

"Ketiga film itu membuktikan bahwa perempuan merupakan bagian penting dari penjualan tiket,” kata Paul Dergarabedian, analis media pada perusahaan pengamat penjualan tiket <link type="page"><caption> Rentrak</caption><url href="http://www.rentrak.com/" platform="highweb"/></link>.

shades of gray

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Fifty Shades of Grey menghasilkan US$570 juta di seluruh dunia, membuktikan larisnya film untuk penonton perempuan (kredit foto: AFP/Getty Images)

Di seluruh bidang pada industri film, pengaruh penonton perempuan semakin diakui– sebagaimana halnya kemampuan kaum perempuan untuk membuat film untuk melayani kebutuhan kaum perempuan.

“Reese Witherspoon sedang memusatkan perhatian untuk menciptakan karakter dalam film untuk dirinya dan para perempuan lain,” kata aktor Inggris Michael Sheen, yang percaya bahwa kaum perempuan sedang membuat kemajuan penting.

“Menurut saya, demografi penonton sedang berubah, maka segala sesuatu yang tidak menceritakan tentang laki-laki paruh baya kulit putih (yang menjadi model umum film Hollywood) bisa juga laris,” katanya.

Kemampuan kaum perempuan untuk mendorong penjualan tiket bukan sesuatu yang mengejutkan bagi aktris terkenal Carey Mulligan, yang berpendapat bahwa studio-studio film Hollywood selama ini amat lambat dalam memanfaatkan kekuatan kaum perempuan.

“Menurut saya, Hollywood bisa dibilang sedang sedikit berupaya mengejar ketertinggalan mereka,” katanya.

“Telah terbukti bertahun-tahun belakangan ini, terutama dengan Jennifer Lawrence bermain di film 'The Hunger Games', (film dengan bintang utama perempuan dan mengalami sukses besar).

Film itu merupakan yang terbesar pada dekade lalu. Ialah yang menjadi bintang di film itu, dan ia juga yang berhasil mendatangkan penonton, maka jelas kita bisa menarik minat penonton dalam jumlah besar dengan memakai bintang utama perempuan.

Soalnya, apakah Hollywood telah cukup menangkap kesempatan itu dan menyediakan film baru yang membuat penonton lebih terlibat lagi.”

Pada musim panas tahun ini, ada sejumlah besar film yang mencoba mendekati kaum perempuan: film komedi 'Hot Pursuit', 'Pitch Perfect 2' dan 'Spy', juga film misteri-romantis 'Paper Towns'.

Alasan praktis

Resse Witherspoon

Sumber gambar, 12 Alamy

Keterangan gambar, Perempuan sutradara seperti Reese Witherspoon, yang juga produser film 'Wild', berperan amat penting agar penonton perempuan 'dianggap' dengan pantas (kredit for: 12/Alamy)

Tapi mengapa industri film Amerika lambat dalam melayani penonton perempuan?

Apakah karena seksisme? “Menurut saya, sebagiannya (adalah pikiran konvensional) yang selalu (condong pada ide) bahwa penjualan tiket ditujukan pada penonton laki-laki usia 18-24 tahun, khususnya di saat musim panas,” kata Dergarabedian.

Namun ide ini tersingkir. “Angka tidak bohong,” katanya.

“Studio-studio Hollywood ujung-ujungnya amat pragmatis dan mereka realis – mereka menyadari bahwa jika mereka ingin menarik sejumlah besar konsumen ke bioskop, mereka harus membuat film yang mampu membuat sejumlah besar populasi, yaitu penonton perempuan, merasa terhubung dengan cerita.”

Awal tahun ini, ada kecemasan di kalangan studio Hollywood karena beberapa film yang menargetkan penonton kaum laki-laki muda, ternyata gagal di pasaran – di antaranya 'Chappie', 'Jupiter Ascending' dan 'The Gunman'.

Tantangan terbesarnya adalah banyaknya persaingan dari hiburan yang bisa didapatkan di rumah bagi kelompok demografis tersebut.

“Tak perlu diragukan bahwa video games dan 'video on demand' telah menggantikan minat kelompok laki-laki muda untuk pergi ke bioskop,” diakui oleh Matthew Baer, produser film 'Maggie', yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger.

Penonton laki-laki remaja masih ada untuk film 'franchise' populer seperti 'Star Wars' dan 'Avengers', tapi mereka merupakan kelompok yang sulit dijangkau dengan tontonan lain.

“Masalahnya adalah, bagaimana Anda bisa membuat laki-laki muda mau ke bioskop selain film horror dan film yang spektakuler yang bisa melampaui segala kelompok dan kelas sosial?

Far From the Madding Crowd

Sumber gambar, Fox Searchlight Pictures

Keterangan gambar, Eksekutif industri film kini sadar laki-laki juga tertarik pada film yang berorientasi pada perempuan seperti film Far From the Madding Crowd (kredit foto: Fox Searchlight Pictures)

Namun aktris Carey Mulligan percaya bahwa penonton perempuan muda seleranya lebih terbuka ketimbang yang dibayangkan oleh banyak orang – setidaknya itulah pengalamannya dalam penayangan perdana film yang dibintanginya 'Far From the Madding Crowd', di London.

“Saya bertemu dengan sekelompok laki-laki yang amat menyenangkan di penayangan perdana di London, mereka berumur 14-15 tahun yang menonton film itu,” katanya.

“Mereka tidak menangis atau menjerit-jerit menonton film itu. Anda bisa menikmati karya sastra klasik yang difilmkan tanpa harus menjadi seorang perempuan. Menurut saya, para penonton seperti ini sering diremehkan.”

Bukti dramatis bahwa penonton bisa tertarik terhadap apa yang disebut sebagai “hiburan buat kaum perempuan” dapat ditemukan pada 'Frozen' – film animasi tahun 2013 yang mengisahkan dua orang putri raja yang bersaudara.

Film ini memang dianggap sebagai hiburan bagi anak perempuan kecil dan ibu-ibu mereka, ketika pertamakali ditayangkan.

Namun film ini ternyata berhasil meraih penonton dari berbagai kalangan, dengan penghasilan sebesar US$1,27 miliar di seluruh dunia dan menjadi film dengan pendapatan terbesar kelima di dunia sepanjang sejarah.

Kekuatan perempuan

Angka terakhir memperlihatkan di tahun 2014, 51% penonton bioskop adalah kaum perempuan.

Namun bukan hanya jumlah penonton ini yang penting. “Penonton perempuan kini semakin diandalkan,” kata Dergarabedian yang melihat peran perempuan tak hanya pada “film-film perempuan” tetapi lebih luas daripada itu.

Dan sejalan dengan itu, franchise yang telah mapan turut menyesuaikan diri dengan menambah karakter perempuan –sebagai bagian dari upaya sadar untuk melayani seluruh penonton, tak hanya kaum laki-laki.

The Avengers: Age of Ultron memasukkan peran seorang tokoh perempuan baru yaitu Elizabeth Olsen yang memerankan Scarlett Witch.

DC Comics juga berencana memfilmkan 'Wonder Woman' di tahun 2017, dan Marvel Comics tengah mengerjakan tokoh perempuan untuk Captain Marvel untuk tahun 2018.

Pemilihan peran perempuan ini tampaknya mengesankan tetapi banyak yang berpikir kemajuan sesungguhnya hanya bisa ditentukan oleh para pengambil kebijakan di industry film.

Pada akhirnya bukan produser dan sutradara, melainkan para eksekutif yang memutuskan apakah film yang ditujukan bagi kaum perempuan diberi kesempatan untuk diwujudkan.

Komedian Rachel Harris yang baru-baru ini menjadi juri pada festival film Tribeca Film yang memberi penghargaan kepada perempuan pembuat film, mengakui kebanyakan eksekutif di Hollywood adalah laki-laki yang masih enggan membuat film untuk perempuan.

“Ini harus dimulai dengan lebih banyak perempuan menjadi eksekutif di industri film, menempatkan mereka dalam posisi untuk menyatakan bahwa cerita tentang perempuan memang komoditi yang laris,” kata Rachel.

elisabeth olsen

Sumber gambar, Walt Disney

Keterangan gambar, Bahkan film superhero seperti Avengers: Age of Ultron menampilkan lebih banyak tokoh perempuan seperti Scarlet Witch yang diperankan Elizabeth Olsen (kredit foto: Walt Disney Studios Pictures)

Belum jelas apakah dengan banyaknya eksekutif perempuan berarti secara otomatis akan menghasilkan lebih banyak film untuk melayani kaum perempuan.

Namun presiden Lucasfilm, Kathleen Kenney, yang mengawasi produksi film 'Star Wars', telah membawa dampak.

Berbicara pada sebuah diskusi panel perayaan Star Wars di Anaheim, Kalifornia, ia menyatakan bahwa film Star Wars terbaru akan menampilkan “banyak karakter (perempuan) baru yang menarik.”

Tanda-tanda perubahan sudah tampak. 'Star Wars: The Force Awakens' dipenuhi oleh tokoh perempuan kuat – Daisy Ridley, Gwendoline Christie dan peraih Piala Oscar Lupita Nyong’o yang akan memainkan satu tokoh penting di sana.

Ada juga Felicity Jones yang akan membintangi salah satu tokoh jagoan dalam film carangan Star Wars, 'Rogue One'.

Dengan perkembangan ini dan rekam jejak terakhir penjualan tiket film yang didorong oleh penonton perempuan, ada harapan yang besar.

“Ini merupakan sebuah perbatasan yang baru,” kata Dergarabedian. “Hollywood akhirnya mampu berjualan kepada penonton perempuan yang besar jumlahnya ini.”

Sedikit demi sedikit tampak terjadi perubahan dan kini eksekutif studio film yang mengabaikan pertumbuhan kelompok perempuan dalam film mengalami ketertinggalan.

Yang mendorong hal ini terjadi adalah bisnis, dan bukan motivasi idealistis menuju kesetaraan gender.

Namun tetap saja ini merupakan sebuah kemajuan – dan perubahan besar ketimbang beberapa tahun lalu ketika penonton perempuan sama sekali tak masuk hitungan Hollywood sama sekali.

Tom Brook adalah wartawan yang tinggal di New York yang sering melaporkan tentang industry film untuk BBC sejak tahun 1985.

Ia menjadi pembawa acara Talking Movies di BBC World News sejak tahun 1999.

Silakan baca artikel ini dalam bahasa Inggris di <link type="page"><caption> Hollywood: A boys' club no longer?</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20150506-hollywood-a-boys-club-no-longer" platform="highweb"/></link> dan artikel lainnya di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>