Ketika masalah pribadi dan urusan kerja berbenturan

Sumber gambar, iStock

Apa yang harus dilakukan ketika bawahan di kantor sedang mengalami masalah pribadi dan mempengaruhi kinerjanya?

Pertanyaan: Jelas bagi saya bahwa bawahan langsung saya di kantor sedang mengalami krisis pribadi, tampaknya masalah gangguan makan dan kekalutan mental (breakdown). Pendekatan saya adalah selalu membiarkannya --karena kehidupan pribadinya bukanlah urusan saya -- tetapi itu mulai menganggu pekerjaannya. Bagaimana saya bisa membantunya menghadapi masalah ini sembari mengurangi dampaknya di ruang kerja?

Jawaban: Ada tiga masalah di sini: rekan kerja Anda sedang mengalami masa sulit; itu mempengaruhi pekerjaannya; dan dia tak punya siapa pun di kantor yang bisa memberi dukungan. Masalah terakhir adalah salah organisasi dan bosnya: yaitu Anda.

Jelas bahwa budaya di kantor Anda telah membuat orang enggan untuk menjadi dekat dengan satu sama lain dan membangun kepercayaan. Itu adalah masalah, karena Anda menciptakan jurang pemisah antara kehidupan pribadi dan profesional. Apa yang seharusnya Anda lakukan adalah memberi batas jelas antara relasi pribadi dan intim, kata John Paul Rollert, profesor ilmu perilaku di Sekolah Bisnis Booth, Universitas Chicago.

Detail personal yang mendalam (intim) tentang kehidupan seseorang harus dijauhkan dari ruang kerja, tetapi kehidupan personal - yang beragam mulai dari pertandingan sepak bola anak laki-laki rekan kerja hingga hal-hal yang Anda sebut di atas - kadang mempengaruhi pekerjaan.

"Jika Anda memiliki batas tegas antara profesional dan personal, pasti akan canggung untuk membicarakan hal itu," kata Rollert yang mengajar etika bisnis.

Pertama, buatlah percakapan tertutup dengan bagian sumber daya manusia (SDM) untuk mengetahui apakah perusahaan memiliki panduan kebijakan. Jangan sampai, ketika Anda mencoba untuk membantu, bawahan Anda menganggap langkah ini sebagai hal yang mengganggu, diskriminatif atau tidak pantas.

Sisihkan waktu untuk berbicara empat mata. Bawa bawahan Anda ke tempat lain dan katakan Anda ingin membantu. Dengarkan apapun yang dia ingin katakan tentang masalahnya. Lalu, bangunlah percakapan yang halus dan jujur tentang bagaimana masalahnya mempengaruhi perusahaan dan tim Anda. Sejumlah langkah ini disebut Rollert sebagai 3C: care (kepedulian), candor (keterusterangan), dan confidentiality (kerahasiaan).

Anda tidak bisa memaksa dia untuk mengungkap detil yang dia tak ingin ceritakan, tetapi Anda harus jelaskan bahwa masalah pribadinya juga mempengaruhi pekerjaan dan tim. Dia mungkin tidak sadar bahwa itu terjadi, atau bahkan tidak mengetahui bahwa orang-orang di kantor bertanya-tanya apa yang terjadi padanya. Ini umum terjadi pada orang dalam situasi traumatis, kata Rollert.

"Mereka seakan buta atas efek yang dia sebabkan ke orang lain."

Gunakan contoh spesifik dan data untuk menggambarkan bagaimana kerja tim terseok-seok. Lalu, ajukan solusi, berkonsentrasilah pada hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk melonggarkan tekanan pada karyawan Anda. Anda juga bisa menawarkan layanan konseling yang ada di perusahaan Anda, misalnya hotline kesehatan mental atau konsultan panggilan ke rumah, jika ada.

Idealnya, Anda bisa membuat percakapan ini sebelum situasi berada di luar kendali. Jika Anda sampai harus membantu karyawan untuk mendapat perawatan medis atau pergi ke rumah sakit, "itu adalah kegagalan manajemen yang radikal," kata Rollert. Tetapi jangan membuat situasi berkembang ke titik itu. Mulailah sekarang.

Work Ethic adalah kolom dwi-bulanan di BBC Capital yang membahas tentang dilema etika dan interpersonal yang dialami pekerja di dunia. Kami menerima pertanyaan dari pembaca melalui surel: work_ethic@bbc.com.