Trauma tsunami Jepang 10 tahun silam dan 'terapi penyembuhan' melalui jalur pendakian

Jalur PesiMichinokusir

Sumber gambar, Solveig Placie/Getty Images

    • Penulis, Rob Goss
    • Peranan, BBC Travel

Sepuluh tahun setelah tsunami menghancurkan pesisir Jepang, suatu jalur pendakian membantu penduduk lokal untuk menghidupkan dan memulihkan kembali dari tragedi itu.

Setelah dua hari melakukan pendakian di sepanjang pantai timur laut Jepang yang terjal, saya dan putra saya hanya memiliki cukup energi untuk berlari ke Pantai Aketo, melepas sepatu dan kaus kaki kami, lalu menceburkan diri ke samudera Pasifik nan dingin.

Berdiri di pinggir laut, cahaya mulai memudar, kami tidak mendengar apa pun kecuali deburan lembut ombak setinggi tulang kering. Selain beberapa burung camar, pantai sepenuhnya menjadi milik kami.

Tapi ketika tadi melintasi hamparan pasir kelabu ada pengingat bahwa alam tidak selalu setenang ini: bongkahan tembok laut yang hancur dengan pesan peringatan kengerian yang terjadi di sini, 10 tahun silam.

Baca juga:

Pada sore hari, 11 Maret 2011, gempa bumi berkekuatan 9,0 skala Richter mengguncang dari bawah laut sekitar 130km ke arah timur.

Gempa terbesar keempat di dunia sejak rekaman seismik dimulai pada 1900, guncangannya amat kuat sehingga menggeser poros Bumi.

Guncangan kerasnya sangat terasa di wilayah Tohoku timur laut Jepang selama hampir enam menit dan bahkan membuat kehidupan di Tokyo, yang terletak 400 km ke selatan, berhenti mendadak dan melahirkan kepanikan.

Kemudian air laut mulai surut. Kurang dari 30 menit kemudian, gelombang nan pekat dan bergejolak kembali menelan pantai Tohoku, dan meluluh-lantakkan segalanya.

Sore itu, tsunami merenggut sekitar 18.000 jiwa. Dengan lebih dari satu juta bangunan rusak atau hancur, ratusan ribu warga menjadi pengungsi.

Dan tepat ketika kehancuran itu mulai mengendap pada mereka yang, seperti saya, mengawasi dari tempat aman di Tokyo, kemudian muncul hal yang lebih buruk: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Daichi di Fukushima mengalami kehancuran, menyebabkan tambahan 150.000 penduduk terpaksa harus mengungsi.

Upaya pemulihan Tohoku menyedot biaya sebesar 32 triliun yen, atau sekitar Rp4 kuadriliun - meliputi pembangunan jalan, tembok laut dan rumah - ternyata tidak gampang dan kompleks.

Salah satu inisiatif utama adalah pembangunan jalur pendakian yang membentang lebih dari 1.000 km di sepanjang garis pantai timur Tohoku.

Disebut Jalur Pesisir Michinoku, proyek ini dipelopori oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang pada 2012, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan NPO dengan tujuan merevitalisasi masyarakat pesisir yang terdampak, membawa harapan kembali ke wilayah tersebut dan mempromosikan secara keberlanjutan.

Jalur Pesisir Michinoku

Sumber gambar, Solveig PLACIER/Getty Images

Keterangan gambar, Jalur Pesisir Michinoku membentang lebih dari 1.000 kilometer, sepanjang pesisir utara Tohoku.

"Jalur alam nan panjang yang membentang dari Fukushima hingga Aomori dapat dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan alam, gaya hidup lokal, dan jejak bencana dengan para pejalan kaki," demikian keterangan pemerintah dalam proposal awalnya.

Baca juga:

Secara resmi selesai pada Juni 2019, meskipun sebagian besar tidak dilewati selama 18 bulan terakhir karena Covid-19, jalur itu dimulai di kota Soma di Prefektur Fukushima dan berbelok ke utara melalui prefektur Iwate dan Miyagi - tempat tinggal beberapa komunitas yang terdampak tsunami terburuk- sebelum mencapai kota Hachinohe di Prefektur Aomori.

"Jalur ini mengikuti pantai Samudra Pasifik di atas kawasan pejalan kaki yang berumput, melalui hutan, di sepanjang pantai terpencil dan puncak tebing yang menjulang tinggi dan ke pelabuhan perikanan, beberapa berukuran kecil dengan beberapa perahu untuk satu orang dan lainnya dengan armada kapal pukat laut," jelas Paul Christie dari Walk Japan, perusahaan perjalanan wisata yang menawarkan wisata jalur itu secara berpemandu dan mandiri.

"Dari desa-desa pesisir yang tenang dan kota-kota yang terbentang di sepanjang rutenya, sebagian kecil terdampak peristiwa tahun 2011, sementara di tempat lain pekerjaan rekonstruksi masih berlanjut."

Menurut Christie, penyelesaian Jalur Pesisir Michinoku (nama kuno dari Tohoku) telah mendongkrak minat wisatawan nasional dan internasional ke wilayah tersebut.

Tetapi karena masih ada pandemi, ia memperkirakan bahwa tempat ini kemungkinan akan mulai benar-benar ramai pada 2022 dan berharap jalur ini akan segera menjadi rute pendakian yang ikonik seperti jalur Kumano Kodo yang tersohor di Jepang.

"Jalur ini terbuka bagi semua orang yang suka berjalan kaki dan membawa sesuatu yang dapat menghubungkan penduduk lokal dengan pendatang, dan mengenang kebaikan dan keperkasaan alam, termasuk peristiwa yang terjadi di tahun 2011 itu," kata Christie.

Baca juga:

Saya telah melihat sekilas jalur itu pada perjalanan sebelumnya ke Tohoku, tetapi saya sudah lama ingin melihat lebih cermat.

Jadi, dengan ada waktu untuk dihabiskan selama tengah semester musim gugur, putra saya yang berusia 14 tahun dan saya memutuskan pergi ke utara untuk perjalanan pertama kami keluar dari Tokyo selama hampir dua tahun: untuk mendaki di wilayah dari garis pantai di Prefektur Iwate yang kadang-kadang disebut Alpen di Laut.

'Terapi penyembuhan'

Selama dua hari dan sepanjang 30 km, kami menyadari bahwa potongan jalur ini sesuai dengan ongkosnya. Tapi kami juga menemukan bahwa hiking di sini bukan hanya tentang panorama pantai.

Pendakian dua hari kami dimulai di Shiraikaigan, stasiun kereta satu platform dengan hanya satu toilet kecil dan bangku dan tidak ada struktur atau manusia yang terlihat.

Dari sana, kami melewati teluk dengan perahu-perahu nelayan kecil, sebelum pendakian selama dua jam dan melewati bukit berhutan dan kemudian menuruni sungai licin membawa kami ke sebuah sekolah di pinggiran desa.

Di sini, kami melihat pengingat gempa pertama kami: tanda yang memberi tahu kami zona evakuasi tsunami terdekat berjarak 200 meter.

Selama di pantai, kami sering mendapatkan pengingat serupa.

Baca juga:

Saat jalan setapak membawa kami melewati pantai berpasir, pelabuhan nelayan, dan hutan di puncak tebing, di mana beberapa pepohonan tumbuh terpisah untuk memberi kami pemandangan garis pantai yang terjal, ada rambu dan penanda rute evakuasi reguler yang menunjukkan ketinggian tsunami saat menghantam daratan: 13 meter di setiap titik; 17 meter di tempat lain.

Tembok laut yang baru dibangun dan gundukan tetrapoda beton yang menjaga teluk.

Di dataran rendah, kami melewati bangunan yang beberapa di antaranya masih baru.

Meski jalur tersebut sepi karena pandemi, namun sudah ada tanda-tanda bahwa jalur tersebut beranjak ramai dan hidup.

Di tepi Pantai Tsukuehama yang berkerikil, sekelompok gubuk nelayan yang hancur akibat tsunami telah dibangun kembali sebagai fasilitas di mana penduduk setempat dapat mengajari pengunjung tentang budaya daerah melalui kegiatan seperti lokakarya pembuatan garam dan kelas memasak, selain sebagai tempat kerja nelayan.

Di tempat lain, kami melihat tanda-tanda yang mengiklankan wisata pantai yang dikelola nelayan di atas kapal makarel kecil, dan kapal-kapal sewa untuk perjalanan scuba diving.

"Penduduk lokal telah terhubung ke jalur ini sejak awal, mereka membantu memilih rute dan sekarang mengambil bagian dalam pekerjaan konservasi dan menjalankan tur serta aktivitas untuk pelancong," kata Naoko Machida, pemandu lokal yang mengelola pusat informasi yang berjarak 85 km arah utara di Tanesashi.

Dia menyelenggarakan wisata hiking, menunggang kuda, dan kegiatan lainnya di sepanjang bagian jalan setapak di prefektur Aomori dan Iwate.

Untuk lebih memahami peran yang diharapkan terhadap jalur ini dalam pemulihan berkelanjutan di area tersebut, saya juga berbicara dengan Kumi Aizawa, direktur pelaksana Michinoku Trail Club, organisasi nirlaba yang mengawasi pengembangan dan promosi jalur tersebut.

Aizawa menginap di penginapan yang sama dengan kami - bernama Kurosakisou - untuk menyelenggarakan seminar pelatihan dalam bahasa Inggris, guna membantu mempersiapkan pemandu tentang apa yang diharapkan ketika terjadi peningkatan pejalan kaki non-Jepang setelah perjalanan dilanjutkan sepenuhnya.

"Setelah tsunami, banyak relawan yang datang dari luar Tohoku untuk membantu warga sekitar. Sekarang ada penduduk lokal yang ingin memberikan sesuatu kepada pengunjung - apakah itu tempat untuk mendirikan tenda, atau memberi makanan dan air," kata Aizawa.

"Ketika putri saya yang berusia 18 tahun melewati jalan setapak, ada seorang lelaki tua yang sangat khawatir mendengar dia berkemah di pegunungan sehingga dia memberinya kamar dan memberinya makan."

Aizawa menjelaskan bahwa penduduk lokal yang membantu pejalan kaki ini dikenal sebagai "malaikat jalur", dan dia menekankan bahwa meskipun jalur tersebut akan memiliki manfaat finansial langsung bagi banyak bisnis dan keluarga yang hancur akibat tsunami, kesempatan bagi penduduk setempat untuk berinteraksi dengan pejalan kaki karena mereka perlahan-lahan bergerak melalui wilayah ini juga memiliki potensi emosional, dan bukan hanya ekonomi.

"Kehadiran para pendaki juga memberikan kesempatan kepada individu untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat.

Warga setempat tidak dapat berbicara satu sama lain perihal bencana.

Anda dapat bertemu seseorang di bar, tetapi Anda tidak tahu apakah mereka kehilangan istri atau anak, jadi Anda jangan mengungkit-ungkitnya.

Bahkan dalam satu keluarga, sulit untuk berbicara satu sama lain.

Para pendaki berasal dari luar dan itu jelas, sehingga tidak gampang untuk berbicara dengan mereka. Bahkan setelah 10 tahun, orang-orang masih banyak yang terkena tsunami di dalam."

Pada kunjungan lain ke Tohoku sejak gempa bumi, beberapa percakapan ihwal tsunami tetap saya ingat: pemilik penginapan memperlihatkan kepada saya klip video ketika dirinya hanyut, sementara putrinya menjerit putus asa; seorang dokter kehilangan orang tua, istri, dan putri bungsunya karena tsunami saat mengevakuasi pasien dari kliniknya.

Aizawa berbagi cerita lain yang tetap tak saya lupakan: seorang remaja laki-laki yang didorong ke atas tembok ke tempat yang aman oleh seorang perempuan saat air mendekat dengan cepat.

Namun tatkala dia berbalik untuk membantunya berdiri, ombak sudah menggulungnya.

"Butuh waktu empat tahun bagi bocah itu sebelum dia bisa memberi tahu siapa pun tentang apa yang terjadi... itu benar-benar membutuhkan waktu," ujar Aizawa, lalu tercekat seraya menahan tetesan air mata.

"Tapi sangat penting untuk berbicara. Untuk itu Tohoku membutuhkan pendengar - pejalan kaki bisa menjadi itu dalam perjalanan mereka."

---

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, The Michinoku Coastal Trail: Japan's new 1,000km path, bisa Anda simak di laman BBC Travel.