Perempuan yang menyelamatkan benih pusaka Palestina

Sumber gambar, SAIF DAHLAH/AFP/Getty Images
- Penulis, Tessa Fox
- Peranan, BBC Travel
Benih pusaka sangat penting bagi warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel di Tepi Barat sejak 1967. "Dengan setiap benih kita dapat mencapai lebih banyak otonomi," kata seorang perempuan yang mengumpulkan benih..
Bagi pustakawan benih Vivien Sansour, benih adalah makhluk hidup. Melihat benih pusaka menghilang adalah tragedi kemanusiaan.Benih pusaka tidak dimodifikasi secara genetik dan diserbuki terbuka. Benih ini penting untuk kesehatan pertanian di seluruh dunia.
Di sebelah barat Betlehem, pegunungan berbatu yang terjal membingkai lembah hijau yang berkelok-kelok hingga hilang ditelan cahaya matahari. Desa Battir di Tepi Barat terletak di sisi salah satu gunung, rumah-rumah batu berwarna kremnya menyatu dengan alam sekitar.
Dari kejauhan, satu-satunya petunjuk lain tentang keberadaan manusia adalah terasering kuno yang melapisi gunung seperti tangga raksasa.
Baca juga:
Teras-teras ini adalah petak pertanian berdinding batu yang ditanami zaitun dan sayuran sejak zaman kuno.
Desain pertanian seperti itu, bersama dengan sistem irigasi mata air kuno, membuat Battir masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2014.
Dipimpin Vivien Sansour, lanskap kuno ini menjadi rumah yang sempurna untuk sebuah inisiatif yang menyelamatkan benih pusaka Palestina, melestarikan akar budaya.
Semula Sansour tidak berniat membuat Perpustakaan Benih Pusaka Palestina.
Terlahir dari kerinduan untuk menemukan makanan Palestina yang dia makan ketika kecil, perpustakaan benih bermula tahun 2014.
Saat itu Sansour mencari benih tanaman baladi bandora ("tomat negaraku"), tanaman tahan kekeringan. tomat pusaka yang cocok dengan ditanam di daerah itu. Baladi, nama benih pusaka itu, berarti "negeriku".
"Saya bertanya tentang benih-benih itu dan orang-orang berkata 'Oh, tidak ada yang punya lagi', 'Sudah mati dan hilang'," kata Sansour.
"Saya tidak mau percaya bahwa semuanya sudah mati dan hilang. Saya meyakini dalam hati saya bahwa tidak semuanya hilang. Saya tidak berpikir bahwa saya akan memulai perpustakaan benih; Saya hanya ingin hal-hal yang saya cintai."
Bagi Sansour, benih adalah makhluk hidup, dan melihat benih pusaka menghilang adalah tragedi kemanusiaan.
Sejauh ini, Sansour telah menyimpan 47 varietas benih pusaka Palestina, termasuk salah satu favoritnya, wortel ungu jazar ahmar, serta semangka J'adii yang tahan kekeringan, yang berasal dari kota pertanian Jenin di utara.

Sumber gambar, Eddie Gerald/Getty Images
Dedikasi Sansour berasal dari kecintaannya pada orang-orang dan cerita mereka. Dia meluangkan waktu minum teh dan kopi selama bertahun-tahun dengan orang-orang di sekitar tanah airnya, duduk bersama dan mendengarkan para tetua, dan mendengar nama-nama baru dari tanaman berusia beberapa generasi dan memulai misi untuk menemukan benih.
Begitulah cara dia menemukan lusinan buah dan sayuran yang hampir hilang, termasuk mentimun putih baladi yang dia dengar dari seorang pria berusia 80-an. Pria itu mengenang aroma mentimun, yang dia gambarkan tidak seperti varietas lainnya.
Waktu panen sering kali menjadi pengalaman seluruh keluarga, dan banyak hidangan dibuat untuk dimasak pada waktu-waktu tertentu. Panen baladi bandora yang melimpah, misalnya, secara tradisi dirayakan dengan memasak galayet bandora: hidangan pedas tomat baladi yang digoreng dengan cabai, bawang putih dan minyak zaitun dan disajikan dengan roti pipih.
Labu yakteen pusaka sering diisi dengan nasi, buncis, dan daging giling sebelum dimasak dalam kishik, saus tajam yang terbuat dari yogurt bubuk kering dan biji-bijian.
Benih pusaka tidak dimodifikasi secara genetik dan diserbuki terbuka. Benih ini penting untuk kesehatan pertanian di seluruh dunia.
Sansour percaya benih-benih ini sangat penting bagi warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel di Tepi Barat sejak 1967. "Dengan setiap benih kita dapat mencapai lebih banyak otonomi," katanya.
Menyimpan dan menggunakan kembali benih dari tahun ke tahun, ini mungkin dilakukan untuk varietas pusaka, juga menjadi alternatif sistem global yang mengharuskan petani untuk membeli benih baru setiap tahun.
Metode industri pada 1960-an mengubah pertanian berbasis matahari dan tanah menjadi sistem yang mengharuskan penggunaan pestisida dan benih steril yang tidak dapat disimpan dan digunakan lagi.
Keanekaragaman benih pusaka menjadi korban gagasan kemajuan, dan kebanggaan petani terhadap pengetahuan tradisional mereka tentang pertanian berangsur-angsur berkurang.
Di bagian paling utara Tepi Barat adalah desa Al Jalamah. Di sini, Majid Abu Farha merawat lahan yang dipenuhi deretan semangka pusaka, zukini, tomat, kacang polong, dan labu.
Dia telah menggunakan biji baladi alami selama tiga tahun, sejak bertemu Sansour melalui seorang teman dan menghadiri lokakarya tentang penyimpanan benih.
"Kami bangga memiliki benih sendiri dan menggunakan warisan kami, benih kakek kami, karena itu adalah cara untuk menjaga identitas kami," kata Abu Farha.
Tanah di sekitar Battir adalah bagian dari Bulan Sabit Subur, bersama dengan Irak modern, Suriah, Yordania dan Lebanon. Dari wilayah ini, gandum dijadikan tanaman pertanian.
Beberapa jenis gandum yang ditanam Sansour dan komunitasnya berasal dari sekitar 10.000 tahun yang lalu, berasal dari awal pertanian.
"Alasan orang Inggris makan biskuit dan semua orang makan roti adalah karena nenek moyang kami," kata Sansour.
Perpustakaan Sansour memperbarui siklus benih ini tumbuh dan disimpan. Ditanam sekali lagi, tanaman pusaka membangun kembali percakapan kuno dengan tanah dan lingkungan yang memungkinkan mereka untuk terus berkembang, dan tetap ada di meja makan untuk generasi yang akan datang.

Sumber gambar, Anadolu Agency/Getty Images
Situs agro-ekologi yang dibuat Sansour dan timnya di Dar Abu Hassan Guesthouse di Battir adalah ruang bagi petani setempat untuk mengunjungi, minum kopi, dan menghidupkan kembali tradisi dan pengetahuan yang berharga ini. Tempat ini mencakup perpustakaan benih dan teras kuno yang ditanami dengan benih pusaka. Sansour mengatakan bahwa dia mempelajari semua yang dia ketahui dari para petani.
"Yang saya lakukan adalah mengatakan "tidak apa-apa mencintai diri kita". Saya tidak akan berhenti mencintai dan peduli pada hal-hal yang dibilang primitif dan tidak diperlukan," kata Sansour.

Sumber gambar, Abed Omar Qusini/Reuters
Perpustakaan benih bukan hanya tentang mengumpulkan benih pusaka, tetapi juga memungkinkan orang untuk selaras dengan akar mereka dan untuk mencintai diri mereka sendiri.
Sansour mengumpulkan benih tanaman Palestina dan membaginya dengan para petani di Tepi Barat dan dengan orang-orang Palestina di diaspora.
Ketika para petani mengunjungi Sansour, Fatima Muammar, yang membantu Sansour mengelola perpustakaan dan memanen benih, menyambut mereka dengan teh dari mint yang baru dipetik.
Meskipun lahir di Battir dan selalu dikelilingi oleh pertanian, Muammar tidak pernah tertarik bertani sampai Sansour membuka perpustakaan, yang memberi dia harapan.
"Sansour bekerja dengan biji yang kami pikir sudah hilang, dan setiap hari saya belajar sesuatu yang baru tentang nenek saya atau tentang tanah tempat saya dibesarkan," kata Muammar.
Jalur masuk ke situs agro-ekologi baru-baru ini ditanami apel pusaka sehingga pengunjung dapat mencium aroma bunga saat mereka tiba.
Selama berbulan-bulan, Sansour dan timnya merehabilitasi teras kuno, mengumpulkan batu dari tanah dan memasangnya seperti potongan puzzle untuk membentuk teras yang menahan tanah, memperbaiki drainase dan mencegah erosi.
Proyek ini secara alami menjadi pengalaman antargenerasi ketika para tetua setempat berbagi pengetahuan mereka dengan pekerja muda yang memiliki otot untuk memindahkan batu besar.
"Ini adalah metode kuno yang brilian; namun, sangat sedikit orang sekarang membuat terasing, dan pengetahuan mereka yang tahu seni terasering juga menghilang saat mereka meninggal," kata Sansour.
Sansour tahu dia tidak bisa sepenuhnya mengubah metode pertanian lokal, tapi dia berharap bisa membantu mempertahankan setidaknya sebagian dari lahan pertanian tradisional ini sehingga generasi mendatang punya referensi untuk melihat seperti apa warisan hayati mereka dan menjaganya.
"Saya harap kita bisa terus menggarap tanah ini, benar-benar tangan kita ada di hati kita ketika membicarakannya, dan saya sedih karena saya khawatir," kata Sansour.
Benih bukan satu-satunya yang disimpan Sansour. Untuk melestarikan resep Palestina yang memanfaatkan makanan pusaka, Sansour menciptakan Traveling Kitchen yang dibuat dengan tangan dari kayu, dan dapat dikemas ke dalam mobil.
Dalam salah satu acara dapur pop-upnya, Sansour membuat riqaq o addas, hidangan pasta dan miju-miju dengan saus asam buah sumac berry liar. Sansour juga menyukai Battiri baitinjan, terong dari Battir, yang ia gunakan untuk membuat mutabal mahshi.
Untuk membuat variasi dari mutabal tradisional, terong dipanggang di atas api panas sampai hangus dan kemudian dipotong di tengah untuk diisi dengan bawang putih dan rempah segar termasuk zaatar, ramuan liar dari keluarga thyme, dipetik dari gunung.
Campuran jus lemon dan tahini yang dibuat dari biji wijen yang ditanam secara tradisional di utara disiramkan di atasnya sesaat sebelum disajikan.
Traveling Kitchen memungkinkan orang berkumpul untuk berbagi dan melestarikan cerita. Sesepuh yang datang untuk makan bersama sering kali menyebut nama tanaman yang belum pernah didengar Sansour. Interaksi ini memulai siklus baru jatuh cinta pada sebuah cerita - seperti yang dia lakukan dengan gandum Abu Samra (yang berarti "yang gelap dan tampan") - dan mengejar varietas pusaka lain yang hilang, mencari, sampai dia menemukan benih yang tersisa untuk ditanam sekali lagi, dipanen dan disimpan.
Anda dapat membaca artikel ini dalam Bahasa Inggris di BBC Travel dengan judul The woman saving Palestinian heirloom seeds










