Kota di India berupaya menyelamatkan diri dari kelangkaan air bersih akut, dari hari tanpa air menuju target 1.000 penampungan air

    • Penulis, Kalpana Sunder
    • Peranan, BBC Future

Kota Chennai di kawasan tenggara India menjadi pemberitaan global saat mengalami kekeringan parah pada musim kemarau tahun 2019.

Kini pemerintah Chennai melirik lahan-lahan basah purba untuk memastikan suplai air bersih bagi warga kota.

Kalaiselvi Murugan setiap hari mulai beraktivitas pada pagi buta. Perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di kota Chennai, India, ini bangun subuh untuk menghindari antrean mengambil air bersih dari pompa air di permukimannya.

Dengan bangun pagi, Murugan bisa menempatkan ember plastik di antrean terdepan.

Setelah mengumpulkan air bersih untuk kebutuhan rumah susun mungilnya di lantai tiga, Murugan berjalan kaki ke rumah bosnya di kawasan menengah atas. Di apartemen yang ditinggali bosnya itu, air bersih disuplai setiap hari dari truk-truk tangki.

Chennai dihuni sekitar 11 juta penduduk. Kota ini tidak memiliki sungai yang terus-menerus mengalir untuk menjamin ketersediaan air bersih warganya.

Chennai akhirnya bergantung pada angin muson timur laut dan empat bendungan besar untuk suplai air bersih mereka.

Namun ketergantungan mereka pada empat bendungan itu terbukti berisiko besar. Juni 2019, Chennai jadi pemberitaan global saat pemerintah kota menyatakan hari tanpa air.

Momentum yang selama ini mereka hindari, yaitu saat empat bendungan di kota itu mengering, akhirnya terjadi.

Krisis air itu memicu sejumlah langkah ekstrem untuk memastikan bantuan terhadap warga kota Chennai, salah satunya mengirim air bersih lewat kereta api dari kota lain sejauh 200 kilometer.

Namun, Chennai sebenarnya juga rawan banjir. Perubahan iklim meningkatkan hujan ekstrem menjadi tiga kali lipat antara tahun 1950 dan 2015.

Di sisi lain, musim hujan yang diandalkan warga Chennai menjadi semakin tidak menentu. Akibatnya, musim kemarau dan musim hujan berlangsung secara ekstrem.

Di kota itu, orang-orang berduit menyewa truk tangki untuk mengisi penyimpanan air bersih mereka. Sementara itu, kelompok warga lainnya bergantung pada air mineral kemasan atau, seperti Murugan, harus berjalan dan mengantre di pompa air.

Masalah air di Chennai memiliki sejarah panjang. Dua pemerhati lingkungan lokal, yaitu Nityan dan Jayaraman, menyebut persoalan ini terjadi saat Inggris menguasai India pada abad ke-17.

Pada saat itu, kata mereka, cara Chennai mendapatkan suplai air berubah.

"Masalah pasokan air bersih diselesaikan dengan solusi sementara dan ini justru membuat Chennai menghadapi lebih banyak masalah," kata Jayaraman.

Sekarang, berabad-abad setelah awal era kolonisasi tersebut, Chennai melisik alam sekitarnya dengan harapan hari tanpa air bersih tidak akan terulang lagi.

Sebelum penjajahan Inggris, Chennai dan daerah sekitarnya dikenal sebagai kampung yang memiliki danau. Di daerah itu terdapat kolam, danau, rawa-rawa dan lahan basah yang saling terhubung.

Ada pula waduk dan penampungan air kecil di sejumlah kuil yang biasa disebut sebagai "kuil penyimpan air".

Tempat-tempat itu mengumpulkan air hujan dalam jumlah besar untuk warga kota sekaligus menjamin persediaan air bersih sepanjang tahun.

Di bawah pemerintahan Inggris, beberapa lokasi penyimpanan air buatan diperluas secara signifikan sehingga bendungan yang terpusat dapat memasok air ke sebagian besar wilayah Chennai.

Berabad-abad kemudian, Chennai terus bergantung pada beberapa waduk besar karena kota itu berkembang pesat.

Dan laju urbanisasi di Chennai pun harus dibayar mahal. Saat ini hanya tinggal 10% dari lahan basah alami di kota itu yang belum dibangun atau dihancurkan, menurut The Nature Conservancy.

Hilangnya lahan basah ini berlangsung dengan cepat dalam beberapa dekade terakhir. Lahan basah sekarang hanya mencakup 15% dari total luas kota, turun dari 80% pada dekade 1980-an.

Saat ini nama jalan seperti Spur Tank Road dan Lake View Road adalah satu-satunya pengingat bahwa lahan basah alami pernah terbentang di kawasan itu.

Namun di bagian lain Chennai, elang dan burung ibis sendok masih terlihat berterbangan di atas perairan yang dihiasi bunga lili ungu endemik dan dibingkai lanskap gedung-gedung tinggi di kejauhan.

Ekosistem subur ini adalah Pallikaranai Marsh, satu-satunya lahan basah yang masih bertahan di Chennai. Lokasinya berjarak 20 kilometer dari pusat kota.

Lebih dari 30 penampung air alami di kawasan ini mengalirkan kelebihan air ke rawa saat musim hujan.

Ekosistem ini juga merupakan rumah bagi reptil seperti ular Russell yang berbisa, burung madu berkepala abu-abu, dan burung sepatu teratai

Jayshree Vencatesan, pendiri organisasi penelitian keanekaragaman hayati yang berbasis di Chennai, Care Earth Trust, telah mempelajari Pallikaranai Marsh sejak tahun 2001.

Vencatesan menemukan bahwa tanah rawa di sana menyusut dari sekitar 6.000 hektar pada dekade 1960-an menjadi kurang dari 600 hektar pada awal tahun 2000-an. Penyebabnya, kata dia, adalah pembangunan kota yang tidak direncanakan dan kebiasaan membuang sampah secara sembarangan.

Temuan Vencatesan menjadi dasar putusan Pengadilan Tinggi Madras untuk melarang perambahan baru di lahan basah. Otoritas kota pun lantas berencana memulihkan beberapa ekosistem lahan basah.

Pada tahun 2007, sebagian dari tanah rawa di Chennai dinyatakan sebagai cagar alam. Pada 2018, anggaran sebesar 1,65 miliar rupee (sekitar Rp322 miliar) dialokasikan untuk memulihkan rawa-rawa.

Sejak saat itu, Departemen Kehutanan di negara bagian Tamil Nadu berusaha menghilangkan spesies invasif. Mereka juga mengurangi pembuangan sampah dan limbah yang tak diolah serta perambahan wilayah tak berizin.

Selain menyediakan tempat berlindung yang langka bagi satwa liar, pelestarian rawa dan pemulihan kantong vegetasi di seluruh kota memungkinkan Chennai menyerap air hujannya dan mengisi kembali air tanah.

Adapun, upaya rehabilitasi sungai-sungai utama di Chennai menghadapi tantangan yang lebih besar.

Tiga sungai utama di Chennai dan kanal terbesarnya dulu dicemari limbah industri dan limbah padat yang membuat sebagian sumber air itu tidak layak untuk dikonsumsi atau digunakan untuk mandi.

Tahun 2006, pemerintah Tamil Nadu mendirikan badan hukum bernama Adyar Poonga Trust untuk melindungi dan memulihkan tiga sungai itu.

Terusan Buckingham, yang membentang melalui sebagian besar wilayah kota yang sejajar dengan pantai juga menjadi target kerja lembaga tersebut.

Ini diyakini sebagai usaha yang signifikan dari otoritas lokal. Lebar terusan itu menyusut dari yang awalnya 200 meter menjadi kurang dari 50 meter karena timbunan sampah.

Namun habitat di muara sungai sudah mulai pulih. Anakan dari 173 spesies flora, seperti bakau dan tumbuhan lain di kawasan mangrove seperti rhizophora, avicennia, dan bruguiera ditanam di lahan lebih dari 140 hektar.

Dan tampaknya program itu berhasil.

Jumlah spesies tumbuhan di area yang direstorasi itu meningkat selama proyek berlangsung dari 141 spesies pada tahun 2007-2008 menjadi 368 pada 2019-2020.

Kawasan itu sekarang menjadi rumah bagi makhluk hidup mulai dari mudskipper dan kepiting, hingga biawak.

Pemulihan masih jauh dari selesai karena sungai-sungai di Chennai masih jadi lokasi pembuangan sampah dan sejumlah besar limbah yang tidak diolah.

Namun selama bertahun-tahun, kondisinya terlihat menjadi lebih baik. Warga Chennai dapat melihat lebih banyak burung. Di hamparan air yang bebas dari puing-puing, air yang tadinya tergenang kini benar-benar terlihat mengalir.

Walau proyek pembaruan ekosistem ini telah berlangsung selama beberapa dekade di Chennai, ambisi peremajaan lahan basah dalam skala yang lebih besar muncul setelah banjir dahsyat tahun 2015.

Usai bencana banjir itu, Chennai beralih ke solusi yang berbasis alam untuk menghadapi perubahan iklim.

Salah satu capaian yang ingin didapatkan adalah mengubah Chennai menjadi "kota dengan 1.000 penampungan air".

Tujuan proyek ini adalah memulihkan sistem kuno Chennai, dari kolam yang saling berhubungan, waduk kecil di kuil dan penampungan air kecil. Ini adalah sumber-sumber air sebelum Chennai berkembang pesat.

Madras Terrace, sebuah firma arsitektur lokal, adalah salah satu mitra dalam proyek ini. Mereka ingin memfokuskan kerja pada pemulihan waduk candi yang bersejarah.

"Waduk di candi adalah barometer permukaan air di suatu daerah," kata Sudheendra NK, direktur Madras Terrace. Sejauh ini, otoritas Chennai sudah memulihkan 15 waduk kuil, tapi Sudheendra ingin lebih dari itu.

Tim dari firma Teras Madras juga ingin menaikkan permukaan air. Caranya, mereka akan mengumpulkan air limbah yang telah diolah melalui selokan bervegetasi.

Dimulai di kawasan Mylapore, infrastruktur hijau ini akan ditempatkan secara strategis di sepanjang jalan, di halaman belakang dan halaman hotel. Sebuah proyek percontohan sedang dilakukan di sejumlah sekolah setempat, walau kemajuannya terhambat pandemi Covid-19.

Peran lahan basah sangat banyak dan beragam, mulai dari menyimpan air permukaan, mengisi ulang air tanah, dan menyediakan habitat bagi satwa liar yang semakin berkurang.

Dorongan untuk menyelamatkan lahan basah di Chennai, sebagai penyangga banjir dan kekeringan yang diperkirakan akan makin memburuk di India, sudah jelas.

Namun karena lahan basah di Chennai terus berkurang, ada tantangan besar untuk memulihkan ekosistem itu dan memastikan air bersih terus tersedia untuk warga kota.

Meski begitu, pendiri Care Earth Trust, Vencatesan, tidak putus asa. Kemajuannya proyek ini stabil. Perusahaan milik pemerintah Chennai memprioritaskan 200 lahan basah untuk direstorasi.

Mereka akan bekerja sama dengan organisasi seperti Nature Conservancy dan Care Earth Trust.

Vencatesan bukanlah orang yang gentar dengan hambatan seperti itu. "Ketika saya mulai mengerjakan Pallikaranai Marsh, banyak orang menghalangi saya dengan berkata upaya itu tidak ada gunanya," ujarnya.

"Tapi sekarang, ini menjadi patokan untuk restorasi lahan basah, tidak hanya di India, tetapi secara global," kata Vencatesan.

---

Tulisan ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Futuredengan judulHow to stop another 'Day Zero'.