Bisakah kita mencintai dua orang di saat bersamaan?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, William Park
- Peranan, BBC Future
Kita kerap melihat hubungan asmara sebagai pemahaman eksklusif antara dua individu. Namun norma ini mulai dipertanyakan ketika banyak orang menemukan cara-cara baru untuk mendefinisikan arti cinta dan romantisme.
- Apakah ada jenis makanan yang dapat meningkatkan kehidupan seks Anda?
- 'Jihad cinta' dan undang-undang yang mengancam cinta lintas agama di India
- Rancangan qanun poligami di Aceh: 'Pernikahan monogami saja belum tentu adil apalagi dengan berpoligami'
- Nenney Shushaidah, perempuan Malaysia yang jadi penentu pernikahan poligami
"Apa arti eksklusivitas untuk Anda?" tanya Amy Hart, kontestan acara reality show di televisi Inggris pada 2019, Love Island.
Hart bisa melihat pasangannya, Curtis Pritchard, terpojok oleh pertanyaan itu. Belum lama, Pritchard mencium gadis lain di belakang Hart.
Hart lalu menjabarkan daftar kesalahan Pritchard dengan kalem dan tenang, sementara pria tersebut mengerut di kursinya. Mulai dari bagaimana mungkin Pritchard memiliki perasaan romantis pada dua orang di saat bersamaan, bagaimana Hart membutuhkannya, dan perasaan kecewa yang dirasakannya.
Di sini, Hart berasumsi bahwa hubungan romantis hanya melibatkan dua orang saja, dan Pritchard melanggar aturan itu. Namun kita tahu, secara sejarah, hubungan antarmanusia jauh lebih rumit ketimbang monogami yang kini normal di banyak masyarakat.
Bisakah kita kembali ke akar non-monogami kita?
Non-monogami konsensual atau consensual non-monogamy (CNM) memungkinkan kedua belah pihak yang berpasangan bebas untuk mengeksplorasi hubungan dengan orang lain.
Ini bisa berarti banyak hal, seperti polyamory (hubungan romantis satu individu dengan beberapa orang sekaligus) hingga swinging (tukar-menukar pasangan), atau bentuk-bentuk hubungan "terbuka" lainnya.
Apa pun bentuknya, satu yang harus ada dalam CNM adalah pasangan mendiskusikan secara terbuka dan menyetujui batasan-batasan, seperti sejauh apa mereka bisa bertindak dalam hubungan tersebut, termasuk kapan dan di mana.
Dengan definisi ini, kelakuan Pritchard tidak bisa disebut CNM, karena Hart tidak pernah memberikan persetujuan. Namun keberadaan orang-orang CNM di masyarakat, meski minoritas, mungkin bisa menjelaskan mengapa Pritchard melakukan tindakannya.
Terlepas dari lazimnya hubungan monogami, manusia sangat terobsesi untuk berhubungan seksual dengan orang lain selain pasangannya.
Psikolog Justin Lehmiller bertanya kepada 4.000 orang Amerika untuk menggambarkan fantasi seksual yang mereka miliki dalam bukunya, Tell Me What You Want. Melakukan threesome adalah fantasi paling populer, dengan margin cukup besar. Dan apakah threesome, jika bukan aktivitas non-monogami konsensual?

Sumber gambar, Getty Images
"Jika kita menghitung semua orang yang saat ini menjalin hubungan, sekitar 5% mendefinisikan hubungan mereka CNM," kata Amy Muise, asisten profesor psikologi di Universitas York, Toronto, Kanada.
Namun jika kita juga menghitung orang-orang yang setidaknya pernah mencoba CNM, maka angkanya bertambah tinggi. "Sebanyak 21% orang pernah menjadi non-monogami dalam beberapa kesempatan sepanjang hidupnya."
Sebagai gambaran, jumlah rumah tangga yang tidak berbicara dengan Bahasa Inggris di AS adalah 21,9%. "Saya tidak terkejut bila CNM lebih umum," kata Amy Moors, asisten profesor psikologi di Universitas Chapman, California.
"Ada hal yang disebut keinginan sosial yang menjelaskan mengapa orang-orang akan memberikan jawaban yang sedikit lebih konservatif pada pertanyaan dalam survei. Alasan yang sama mengapa orang kerap melebih-lebihkan seberapa banyak mereka makan sayuran dan buah dalam sehari, atau mengecilkan seberapa banyak mereka minum."
Untuk ukuran minoritas yang cukup besar itu, kesempatan bertemu dengan pasangan di luar rumah mungkin kecil sekarang ini, saat banyak negara membatasi interaksi sosial karena adanya pandemi Covid-19.
Orang-orang dalam hubungan CNM mungkin mendapati diri menghabiskan lebih banyak waktu dengan pasangan yang tinggal bersama mereka, dan harus membiasakan diri jauh lebih jarang bertemu dengan pasangan lainnya.
Bagaimana keadaan ini memengaruhi keadaan mental mereka, masih belum jelas. Meski, sebuah penelitian tentang hubungan jarak jauh mengatakan bahwa hubungan jarak jauh juga bisa menjadi sangat memuaskan.
Tapi di luar itu, seperti yang dikatakan oleh psikolog sosial, dalam keadaan yang lebih normal, ada alasan untuk percaya bahwa orang-orang dalam hubungan CNM merasakan keuntungan yang tidak dirasakan oleh teman-teman monogami mereka.
Kapan monogami mulai dilakukan manusia, masih menjadi perdebatan. Beberapa antropolog mengutip fakta bahwa nenek moyang kita, manusia purba, sangat dimorfik secara seksual — bahwa laki-laki dan perempuan memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda menjadi salah satu bukti non-monogami.
Tingkat dimorfisme seksual yang tinggi menunjukkan adanya tekanan selektif seksual yang kuat pada satu (atau kedua) jenis kelamin.
Pada beberapa spesies, seperti gorila, pejantan yang ukurannya lebih besar kemungkinan besar lebih sukses secara seksual dengan menggunakan ukuran tubuhnya yang lebih besar untuk memenangkan persaingan dengan pejantan-pejantan lain.
Seekor gorila gunung jantan yang dominan akan memonopoli 70% dari semua kopulasi, sebagai contoh, sehingga menciptakan komunitas yang poligini, di mana banyak betina kawin dengan satu jantan.
Tapi dimorfisme seksual tidak selalu berjalan seperti ini. Spesies yang menggunakan penampilan mencolok, seperti burung dengan bulu yang indah atau ikan dengan warna cerah, bersaing untuk mendapatkan perhatian lawan jenis, alih-alih bertarung secara fisik.
Perbedaannya dengan manusia, sering kali spesies ini bukan makhluk sosial, sehingga satu jantan atau satu betina tidak dapat mengontrol semua pasangan potensial mereka dalam satu area.
Meski begitu, catatan terhadap fosil manusia purba tidak lengkap. Logika serupa juga bisa dipakai untuk memperdebatkan fakta yang sebaliknya — bahwa nenek moyang kita memiliki tingkat dimorfisme yang sama dengan manusia modern. Ini bisa dibuktikan dengan melihat fosil-fosil yang berbeda. Dengan demikian, monogami bisa jadi sudah dilakukan manusia jauh lebih awal.
Keberagaman, atau ketiadaan, kromosom Y pada manusia juga dipakai sebagai alasan untuk menunjukkan bahwa manusia berpoligami hingga relatif baru-baru ini. Para antropolog membantah bukti tersebut, namun beberapa berpendapat bahwa kemiripan dalam data genetik pria menunjukkan bahwa hanya sedikit pejantan yang kawin di masa evolusi manusia.
Baru-baru ini, keragaman ini meningkat, yang menunjukkan bahwa lebih banyak pejantan yang kawin karena praktik monogami.

Sumber gambar, Getty Images
Kita tahu dari bukti-bukti arkeologis bahwa manusia purba hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari keluarga dekat.
Permodelan komputer pada masyarakat pemburu dan pengumpul menunjukkan bahwa mereka harus kawin dengan individu di luar kelompok mereka untuk mempertahankan populasi secara keseluruhan.
Oleh karena itu, ada sejumlah besar individu yang kawin di dalam masyarakat pemburu dan pengumpul. Mempertahankan keluarga dengan garis keturunan genetis sama adalah hal yang mustahil.
Model ini menunjukkan bahwa masyarakat pemburu dan pengumpul adalah monogami serial — pasangan akan tinggal bersama secara eksklusif selama waktu yang dibutuhkan untuk menyapih anak, sebelum melanjutkan mencari pasangan baru.
Ini terbukti menguntungkan secara seksual bagi para pria, yang kemungkinan menjelaskan mengapa pria lebih tertarik pada hubungan terbuka.
Penelitian Lehmiller tentang fantasi seksual menemukan bahwa pria lebih tertarik dengan seks berkelompok (26% pria dibandingkan dengan 8% wanita). Tren serupa terlihat pada tipe-tipe "seks sosial" yang lain, seperti keinginan untuk pergi ke pesta seks atau klub swingers (17% pria dibanding 7% wanita).
Meski begitu, para perempuan yang mengaku tertarik dengan fantasi semacam itu lebih mungkin melakukannya. Jumlah orang dalam sampel sama yang melaporkan pernah melakukan seks berkelompok, misalnya, adalah 12% pria dan 6% wanita. Dari sini terlihat, wanita memiliki kemungkinan lebih besar untuk menemukan peluang yang tepat.
Yang juga kita ketahui, dalam 85% masyarakat secara global, bentuk-bentuk hubungan non-monogami akan dikenai sanksi. Perjanjian Lama bahkan dipenuhi dengan referensi poligami. Namun, kondisi default di sebagian besar masyarakat sekarang adalah monogami.
Hubungan monogami mungkin umum sekarang, tapi bagaimanapun Anda melihatnya, secara historis manusia tidaklah monogami seperti kita sekarang. Lalu, mengapa menjadi monogami seumur hidup dianggap sebagai kondisi default?
"Sulit untuk menjawab pertanyaan itu dengan ringkas tanpa mengatakan, media menyebabkannya," kata Moors, menekankan pada pengaruh seni dan budaya kepada kita saat manusia tumbuh dewasa.
"Sebagian besar dari kita saat tumbuh dewasa, memiliki orang tua yang menikah dalam perkawinan monogami. Di seluruh dunia, kita memiliki institusi perkawinan."
"Sejak manusia mengambil tanah dan mengakuinya sebagai milik mereka, saat itulah pernikahan menjadi populer. Karena ini adalah cara jelas untuk menjaga kendali atas properti Anda dan menyerahkannya kepada keluarga," ujar Moors. "Sejak itu pula, kita mulai memprioritaskan pasangan dan heteroseksualitas."
Apakah berhubungan dengan orang lain di luar pasangan lebih baik?
Berulang kali, para peneliti CNM menunjukkan bukti bahwa pasangan dengan minat seksual yang berbeda melaporkan keadaan yang lebih baik ketika mereka memiliki pasangan seksual lebih dari satu.
"Dalam sebuah hubungan, sering kali ada ketidaksesuaian antara kepentingan kedua pasangan," kata Muise. "Orang dengan mitra seksual lebih dari satu secara umum merasa lebih puas. Jika Anda memiliki ketertarikan secara seksual dengan orang lain, kemungkinan mengeksplorasinya akan sehat untuk Anda."
Yang kurang dilakukan dalam penelitian tentang CNM adalah studi jangka panjang, di mana sekelompok orang yang tertarik dengan hubungan terbuka diteliti selama beberapa tahun, dimulai dari saat mereka melakukan diskusi soal CNM dengan pasangan.

Sumber gambar, Getty Images
Beberapa penelitian mulai mengisi kekosongan itu. Salah satunya, orang-orang yang penasaran dengan CNM dan orang-orang yang tidak pernah mempertimbangkan berada dalam hubungan terbuka diberikan serangkaian kuesioner tentang hubungan dan kepuasan seksual mereka.
Di awal penelitian, tidak seorang pun dari responden yang mau mendiskusikan tentang memiliki hubungan terbuka dengan pasangannya.
Di akhir penelitian, mereka diberikan pertanyaan sama tentang seberapa puas mereka dalam hubungan mereka, namun juga ditanyai apakah mereka telah melakukan hubungan terbuka.
"Untuk orang-orang yang mengaku menginginkan hubungan terbuka dan kemudian melakukannya, tingkat kepuasan mereka jauh lebih tinggi," kata Samantha Joel, asisten profesor psikologi sosial di Universitas Western di London, Kanada.
"Sementara, orang-orang yang memikirkan CNM tapi tidak melakukannya, tingkat kepuasan mereka turun, tapi tidak signifikan."
Joel mengatakan, naiknya tingkat kepuasan di antara orang-orang yang memilih CNM mungkin merupakan hasil sampingan. Kualitas kehidupan seksual mereka dengan partner kedua menyeret naik tingkat kepuasan mereka dengan partner pertama, karena tiba-tiba tekanan bahwa satu orang harus menyediakan semua kesenangan seksual menghilang.
"Kita tahu ketika seseorang merasa bahagia dengan kehidupan seksualnya, mereka berkomunikasi dengan lebih baik," ujar Joel. "Tapi orang-orang dalam hubungan CNM mengatakan mereka memiliki komunikasi yang terbuka dengan pasangannya — sangat sulit menerapkan CNM jika pasangan tidak terbuka tentang batasan-batasan.
Sementara pada pasangan monogami, diskusi terbuka tentang batasan-batasan ini kerap kali tidak terjadi."
Kepuasan emosional — perasaan aman, pengasuhan, dan kedekatan — cenderung meningkat seiring waktu dalam hubungan normal. Sementara itu, spontanitas dan kegembiraan, yang terkait dengan erotisme, berkurang seiring waktu.
"Pada mulanya semua seksi dan panas, tapi lama-kelamaan menjadi mudah ditebak," kata Rhonda Balzarini, psikolog di Universitas York. "Unsur kebaruan sulit dipertahankan, maka begitulah keseksian itu pudar."
Balzarini memberikan contoh pasangan utama yang kemungkinan Anda nikahi secara legal, hidup bersama, dan memiliki anak-anak. Secara umum mereka diasosiasikan memiliki tanggung jawab dalam kehidupan monogami.
Dengan semua tugas ini, ada kebutuhan akan prediktabilitas — yang tidak seksi, kata dia. Partner kedua mungkin tidak pernah berbagi tanggung jawab ini dengan Anda, sehingga kemerosotan kegembiraan tidak pernah terjadi. Hasilnya, partner kedua cenderung menyediakan frekuensi seks lebih tinggi dengan komitmen lebih sedikit.
"Saya pikir secara umum ada tarik-menarik antara kebaruan dan rasa aman, dan berada dalam hubungan CNM adalah cara untuk memenuhi kedua kebutuhan itu sekaligus," ujar Joel. "Ini bukan satu-satunya cara, namun ini salah satu cara dan berhasil untuk sebagian orang."
Bagaimana menghadapi rasa cemburu
Keuntungan CNM paling besar terlihat pada pasangan utama yang saling mendukung kebahagiaan satu sama lain, ujar Muise. "Sepertinya ada sesuatu tentang pasangan utama yang ingin melihat pasangannya merasa puas secara seksual namun tidak merasa perlu menjadi orang yang memuaskannya," katanya.
"Saat mereka melihat pasangan utama mereka termotivasi oleh kebahagiaan mereka, maka mereka akan lebih nyaman memenuhi kebutuhan mereka."
Ini adalah konsep psikologis yang disebut compersion — yakni ketika seseorang bisa merasakan kesenangan dengan melihat kesenangan orang lain.
Konsep ini mungkin lebih sering Anda lihat di luar hubungan romantis. Misalnya, melihat seseorang membuka hadiah. Compersion juga bisa diterapkan saat melihat orang lain merasa puas secara seksual.
Jadi, bagaimana orang-orang dalam hubungan CNM mengatasi rasa cemburu?
Bagi pria, rasa cemburu lebih kuat dirasakan pada perselingkuhan seksual ketimbang perselingkuhan emosional, tulis Katherine Aumer, peneliti di Universitas Pasifik Hawaii, dalam penelitian akan compersion pada pasangan monogami dan CNM.
Pria lebih termotivasi untuk mengetahui garis paternal anak-anak mereka, seperti ditunjukkan dalam teori evolusi. Mengidentifikasi garis maternal dari seorang anak bukanlah soal yang rumit bagi wanita.
Para perempuan, meski demikian, cenderung lebih merasa cemburu terhadap perselingkuhan emosional, lanjut Aumer. Dengan adanya tekanan evolusioner pada perempuan untuk membesarkan anak, perempuan sangat termotivasi untuk menjaga pasangan laki-laki tak ke mana-mana supaya mereka bisa menyediakan makanan dan perlindungan bagi mereka dan anaknya sementara mereka menyusui.
Jika pasangan pria secara emosional tertarik pada perempuan lain, sang ibu mungkin tidak akan menerima makanan, perlindungan, dan rumah terbaik darinya.
Mengapa ada yang memilih menjadi non-monogami?
Orang-orang tertentu terbukti lebih baik dalam mengelola lebih dari satu hubungan di waktu bersamaan, ketimbang orang lain.
Sementara itu, teori tentang keterikatan menggambarkan bagaimana rasa aman atau tidak aman menjelaskan mengapa beberapa orang tidak bersedia berbagi pasangan.

Sumber gambar, Getty Images
Chris Fraley dari Universitas Illinois telah mengumpulkan data kuesioner daring pada responden selama dua puluh tahun. Total 200.000 orang mengisi survei, dan ini menjadi data tentang berbagai perilaku oleh para peneliti.
Menggunakan data ini, Moors menemukan bahwa orang-orang yang memiliki hubungan poligami memiliki kecemasan dan penghindaran lebih rendah dari yang lain. Tentu saja, Moors mengatakan penemuan ini korelasional. Bisa saja, hanya orang-orang yang merasa aman, tidak mudah cemas, dan tidak mudah menghindar yang tertarik dengan gaya hidup ini.
Apa yang mungkin terlihat dari profil psikologi orang-orang yang menyukai gaya hidup CNM adalah mereka memiliki kebutuhan emosional yang tidak bisa dipuaskan oleh satu orang saja.
"Orang-orang dalam hubungan poli mungkin secara umum memiliki kebutuhan yang lebih tinggi," kata Balzarini.
"Kami menemukan orang-orang monogami seimbang dalam hal kebutuhan akan kasih sayang dan erotisme mereka. Namun orang-orang poli memiliki kebutuhan ini dalam skala ekstrem. Mereka mungkin membutuhkan kedua hal ini secara bersamaan dan susah memenuhinya dengan satu pasangan saja."
"Pasangan utama yang bersifat mengayomi mungkin kurang bisa menggairahkan secara erotis."
Sayangnya, hanya ada terlalu sedikit data untuk membangun profil seorang pelaku CNM, kata Moors. Dia juga berkata tidak ada hubungan antara umur, pendapatan, lokasi, pendidikan, ras, etnis, agama, atau pilihan politik dengan CNM dalam penelitiannya.
Orang-orang yang menyatakan diri sebagai lesbian, gay, atau biseksual juga lebih mungkin menjalani CNM, namun hanya itu polanya.
Untuk sesuatu yang tampaknya menjangkau semua lapisan masyarakat, masih ada stigma tanpa henti terkait gaya hidup non-monogami. Moors memberi contoh, betapa normal orang berpikir cinta platonis atau cinta kepada keluarga bisa diberikan pada banyak sekali orang, namun untuk alasan tertentu kita menganggap cinta romantis itu terbatas.
"Kita sudah tahu cara memiliki hubungan tertutup dengan banyak orang sekaligus," kata dia. "Namun kita diharapkan percaya bahwa cinta romantis harus dibatasi? Berapa banyak orang dekat yang Anda miliki? Oh, menjijikkan sekali jika Anda punya terlalu banyak? Sangat konyol."
Kita menuntut terlalu banyak dari pasangan kita. Kita mengharapkan mereka bisa menjadi pemandu hidup kita, sahabat, dan orang kepercayaan. "Kita tidak harus mendapatkan semua itu dari satu orang," ujar Moors. Mungkin akan lebih baik bila kita bisa menyebarkan semua kebutuhan itu pada lebih dari satu orang.
Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul The benefits of having many lovers pada laman BBC Future.












