Dampak psikologis akibat pandemi Covid-19 diduga akan bertahan lama

    • Penulis, Maddy Savage
    • Peranan, BBC Worklife

Covid-19 telah meningkatkan kecemasan banyak orang. Para ahli memperingatkan bahwa sebagian kecil orang bisa mengalami masalah kesehatan mental yang berkepanjangan, lebih lama dari pandemi itu sendiri.

Dari makan di restoran bersama pasangan dan kerabatnya hingga menghadiri klub buku bersama teman-teman, kehidupan sosial Susan Kemp sebelum Covid-19 cukup aktif.

Namun sejak April 2020, dia hanya lima kali meninggalkan apartemennya di dekat Stockholm, karena merasakan kecemasan sosial dan perilaku obsesif terkait kuman.

"Sepertinya stres tambahan ini sudah kelewat batas, lebih dari apa yang bisa saya toleransi," kata Kemp, seorang copywriter dan mahasiswa paruh waktu berusia tiga puluhan.

Dia menjadi ketakutan saat naik transportasi umum, waspada dengan kebersihan alat makan, dan merasa tak nyaman ketika melihat gambar sel virus corona.

"Gejala utamanya adalah saya mulai menangis. Saya merasa seperti akan mati, dan kemudian saya menangis sampai tubuh dan paru-paru saya terasa sakit setelahnya," kata dia.

Ditambah lagi dengan perasaan kekecewaan yang sangat bahwa dia "mengalami kemunduran" dan ketakutan kalau nantinya butuh waktu bertahun-tahun untuk kembali ke jalur yang benar dalam hal mengelola OCD-nya.

Banyak orang menjadi sedikit lebih cemas selama Covid-19. Namun pengalaman Kemp menunjukkan bahwa untuk sebagian orang, pandemi dapat memicu atau memperburuk masalah kesehatan mental yang jauh lebih serius.

Psikolog khawatir, ini mungkin bertahan dalam jangka panjang.

Steven Taylor, penulis The Psychology of Pandemics, dan profesor psikiatri di University of British Columbia, berpendapat bahwa "untuk 10 hingga 15% minoritas yang malang, hidup tidak akan kembali normal" karena dampak pandemi pada kesejahteraan mental mereka.

Australia's Black Dog Institure, sebuah organisasi penelitian kesehatan mental independen terkemuka, juga menyuarakan keprihatinan tentang "banyaknya minoritas yang akan terpengaruh oleh kecemasan jangka panjang".

Di Inggris, kelompok spesialis kesehatan masyarakat memperingatkan dalam British Medical Journal bahwa "dampak pandemi terhadap kesehatan mental kemungkinan akan bertahan lebih lama daripada dampak kesehatan fisik".

Belajar dari sejarah

Salah satu alasan psikolog prihatin akan potensi dampak jangka panjang Covid-19 adalah apa yang mereka pelajari dari pandemi dan keadaan darurat nasional sebelumnya.

Wabah global SARS pada tahun 2003 dikaitkan dengan peningkatan kasus bunuh diri sebesar 30% pada orang yang berusia di atas 65 tahun.

Strategi untuk meminimalkan penyebaran virus seperti karantina dapat memiliki dampak negatif, seperti menyebabkan gejala stres pascatrauma, depresi dan insomnia.

Kehilangan pekerjaan dan kesulitan finansial selama penurunan ekonomi global juga dikaitkan dengan penurunan kesehatan mental yang berkepanjangan.

"Secara historis, dampak buruk bencana pada kesehatan mental mempengaruhi lebih banyak orang, dan bertahan lebih lama daripada dampak kesehatan," kata Joshua C Morganstein, asisten direktur di Pusat Studi Stres Traumatis di Maryland, AS.

"Belajar dari sejarah, kita harus waspada akan dampak kesehatan mental yang terus berlanjut, lama setelah wabah menular selesai."

Salah satu bagian penting dari penelitian yang dia tunjuk adalah tinjauan retrospektif selama 25 tahun dari dampak kecelakaan nuklir Chernobyl di Ukraina.

Para peneliti menemukan bahwa dua dekade kemudian, perespons pertama mengalami tingkat depresi yang tinggi dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Mereka juga menyimpulkan bahwa dampak kesehatan mental adalah konsekuensi paling signifikan dari bencana tersebut, yang menyebabkan ribuan kematian dan sangat merusak perekonomian.

Riset juga menunjukkan adanya masalah kesehatan mental terutama tekanan psikologis dan PTSD, pada orang yang kehilangan rumah selama Badai Katrina di New Orleans, lima tahun setelah bencana tahun 2005.

Kondisi ini akan jadi lebih parah bagi orang-orang yang memang punya masalah kesehatan mental sebelumnya, atau yang berpenghasilan rendah.

Masalah jangka panjang apa yang akan dikaitkan dengan Covid-19?

Masalah kesehatan mental mana yang paling mungkin bertahan lama akibat pandemi Covid-19? Psikolog menyakini gangguan obsesif-kompulsif bisa menjadi salah satu kandidat utama.

Taylor menjelaskan bahwa ini dapat berdampak jangka panjang karena fakta bahwa OCD muncul dari interaksi antara gen dan faktor lingkungan.

"Untuk orang dengan kecenderungan genetik pada beberapa bentuk OCD (yaitu obsesi kontaminasi dan dorongan untuk selalu bersih), stres Covid-19 kemungkinan akan memicu atau memperburuk OCD," katanya.

"Beberapa di antaranya akan menderita germafobia kronis, kecuali jika mereka menerima perawatan kesehatan mental yang sesuai."

"Kecemasan umum juga merupakan masalah kesehatan mental yang sangat penting untuk diperhatikan," kata Yuko Nippoda, psikoterapis dan juru bicara Dewan Psikoterapi Inggris.

"Ada banyak orang yang sudah menderita kecemasan dalam masyarakat modern kita, tetapi orang yang lebih mudah cemas bisa terus merasakannya dan kondisinya bisa memburuk," kata Yuko.

"Bahkan jika pandemi Covid berakhir, beberapa orang mungkin tetap cemas, karena masih ada risiko varian virus yang lain."

Kesepian kronis yang disebabkan oleh isolasi sosial atau perasaan "kurangnya makna" dalam hidup selama pandemi adalah masalah utama lainnya, kata Nippoda.

Beberapa orang tiba-tiba terjauhkan dari hubungan dekat pada era menjaga jarak sosial dan mungkin merasa sulit untuk membangunnya kembali.

Yang lain sengaja menarik diri dari dunia luar untuk merasakan "rasa aman" dan mungkin menjadi resisten untuk meningkatkan interaksi sosial mereka di masa depan, kata Nippoda.

"Saat orang mengalami stres di dunia luar, mereka dapat melepaskan diri dari dunia itu. Begitu mereka mengalami ketidakterikatan ini, mungkin sulit untuk kembali keluar dan bersosialisasi dengan orang lain."

Sementara itu, stres akibat Covid-19 kemungkinan besar berdampak mental yang lebih besar pada mereka yang memiliki pengalaman hidup yang menyakitkan.

"Mungkin bisa memicu ingatan trauma secara sadar dan tidak sadar, yang bisa mempengaruhi Anda. Dalam hal ini, kondisi kesehatan mental bisa menjadi jangka panjang, karena bisa membuka trauma yang telah tertutup," kata Nippoda.

"Saya terus-menerus takut kehilangan lagi," kata Lindsey Higgins, 35 tahun dari New York, yang kehilangan pasangan karena bunuh diri pada tahun 2014.

Sejak pandemi, dia merasakan kemunculan kembali PTSD.

Setelah beberapa tahun konseling, dia merasa seperti "hidup bergerak maju", tetapi sekarang menjadi "sangat gugup" setiap kali pasangan barunya meninggalkan rumah.

"Jelas, saya tahu bahwa dia tidak akan mati saat dia keluar. Tapi masih ada ketakutan bahwa sesuatu bisa terjadi, dia bisa tertular [Covid-19] dan sakit parah. Saya juga merasakan itu untuk keluarga dan teman."

Pengangguran atau hilangnya pendapatan (karena dampak ekonomi pandemi) dapat memengaruhi kesejahteraan jangka panjang juga.

Banyak penelitian sebelum Covid-19 menghubungkan faktor-faktor ini dengan depresi, stres, atau pikiran untuk bunuh diri.

Data jajak pendapat di AS baru-baru ini menemukan bahwa lebih dari setengah orang yang tidak memiliki pekerjaan atau penghasilannya berkurang selama pandemi telah melaporkan dampak kesehatan mental yang negatif. Tingkatannya lebih tinggi bagi yang memiliki gaji lebih rendah.

Psikolog menekankan bahwa sifat dan skala krisis virus corona yang belum pernah terjadi sebelumnya menambah lapisan ketidakpastian dibandingkan dengan krisis keuangan sebelumnya.

Sampai ada vaksin global, masih belum jelas kapan atau bahkan apakah beberapa industri yang paling terpukul seperti perjalanan dan hiburan akan pulih.

Nippoda menduga bahwa situasi ini sangat menantang bagi mereka yang "tidak pandai menghadapi ketidakpastian" atau kesulitan menangani situasi yang tidak dapat mereka kendalikan.

"Saat ini kita hidup dalam masa-masa yang tidak pasti. Beberapa orang bahkan takut terhadap ketidakpastian dan ketidaktahuan. Ketakutan ini bisa berkepanjangan. "

Apa yang masih perlu kita pelajari

Sejarah akan menentukan berapa banyak dari peringatan dan prediksi ini yang akhirnya benar. Berbagai badan di seluruh dunia telah membuat pedoman untuk menangani masalah ini.

Awal tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan rekomendasi untuk menjaga kesehatan mental, dan pedoman serupa telah dikeluarkan oleh lembaga pemerintah di AS, Inggris, dan negara lain.

Bulan ini, American Psychological Association menerbitkan laporan tentang dampak pandemi terkait stres jangka panjang, dan bagaimana cara mengatasinya dengan lebih baik selama periode ketidakpastian ini.

Para peneliti juga mengumpulkan data empiris yang mereka harap akan memberikan pemahaman yang lebih baik.

Apa efek samping kesehatan mental jangka panjang dari krisis unik ini? Dan bagaimana mengelolanya.

Penelitian besar di Inggris secara khusus mengamati kesehatan mental pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 dan perawat yang bekerja di garis depan.

Di Swedia, para peneliti di Pusat Penelitian Psikiatri di Stockholm melakukan proyek setahun yang melibatkan lebih dari 3.000 orang yang sudah punya masalah kesehatan mental sebelumnya, termasuk depresi, kecemasan, dan OCD.

Sebuah survei nasional Australia oleh Matilda Centre for Research in Mental Health di Sydney tengah mengukur dampak pandemi pada kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat umum.

"Ada kekhawatiran bahwa masalah kesehatan mental mungkin muncul atau meningkat, tetapi ini perlu dipahami dengan lebih baik," kata Nitya Jayaram-Lindström, manajer operasi untuk proyek Stockholm.

Dia mengatakan penelitian Swedia akan fokus pada seberapa besar Covid-19 dapat memperburuk ketidaksetaraan kesehatan mental yang sudah ada, bagaimana gejala pasien berkembang atau berubah tahun depan dan kelompok mana yang paling terpengaruh.

"Kami juga ingin memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketahanan, yang sama pentingnya dengan faktor risiko."

Di Pusat Studi Stres Traumatis di Maryland, Joshua C Morganstein berpendapat bahwa jenis proyek ini akan menjadi sumber daya penting bagi penyedia layanan kesehatan dan pemerintah.

"Pengawasan kesehatan dari berbagai populasi untuk lebih memahami aspek risiko ini sangat penting bagi kami, agar dapat memberikan intervensi dan rencana gelombang pandemi berikutnya dan juga keadaan darurat kesehatan masyarakat di masa depan," katanya.

"Stres itu seperti racun, seperti timbal atau radon. Untuk memahaminya dan bagaimana hal itu memengaruhi masyarakat, kita perlu tahu siapa yang terpapar, kapan, seberapa banyak dan apa efeknya. "

Meskipun sejauh ini hanya ada sedikit data, Morganstein memperkirakan bahwa studi jangka panjang kemungkinan besar akan mengungkap lebih jauh perbedaan kesejahteraan antar ras, jenis kelamin, dan pendapatan yang telah disorot selama pandemi, dan perlu dipertimbangkan lebih dalam saat mengembangkan respons di masa mendatang. .

Ketahanan dan harapan

Terlepas dari kekhawatiran tentang 'ekor' panjang bagi tantangan kesehatan mental yang disebabkan oleh dampak Covid-19, para psikiater mengatakan penting untuk mengetahui bahwa ada beberapa hal positif juga.

Taylor berpendapat bahwa meskipun minoritas yang signifikan akan berjuang dalam jangka panjang, pandemi menunjukkan tingkat ketahanan yang tinggi terhadap stres dalam populasi yang lebih luas.

Ini di luar kapasitas manusia yang akan "bangkit kembali" setelah peristiwa bencana.

Misalnya, di Wuhan, tempat pandemi pertama kali dimulai. Kasus-kasus terkendali setelah penguncian kota selama 76 hari dan tes massal yang ketat.

Lalu Wuhanitu menggelar festival musik taman air besar-besaran pada Agustus. Ribuan orang berdesakan bahu-membahu, tanpa masker dan tanpa menjaga jarak.

Pertunjukan besar juga digelar di Selandia Baru setelah penularan virus oleh komunitas diatasi.

Taylor merenungkan, peristiwa semacam ini tetap terjadi meskipun suasana fatalistik.

Pada awal tahun 2020, ketika "banyak orang meragukan bahwa kehidupan akan kembali normal, dan beberapa berspekulasi tentang dunia pasca pandemi Dickens yang suram".

Dia percaya bahwa "peristiwa serupa kemungkinan akan terjadi di tempat lain di dunia ketika pandemi berakhir".

Psikoterapis Nippoda menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, keadaan buruk pandemi sebenarnya memiliki "dampak yang sangat positif" pada kesehatan mental mereka, yang mungkin juga berlangsung lama.

Pengalaman lockdown, menurutnya, membantu mengurangi tingkat kecemasan atau menghentikan serangan panik beberapa orang yang memiliki tingkat stres tinggi sebelum pandemi.

Ini karena mereka merasakan kebebasan dan keamanan yang lebih besar dengan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Meskipun ada risiko isolasi sosial dan kesepian bagi mereka yang terlalu menarik diri, dia mengatakan bahwa ketika dipaksa tinggal di rumah, ada yang berusaha berjuang untuk keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik di masa depan atau, atau menentukan irama langkahnya sendiri, dengan cara menemukan "zona nyaman mereka sendiri dalam batas antara di dalam dan di luar ruangan".

Beberapa yang lain menggunakan era jaga jarak sosial untuk merapikan rumah, misalnya.

Makin banyak waktu untuk melakukan hobi bisa memicu kepuasan tersendiri dan penghilang stres bagi banyak orang.

Namun, pengalaman semacam ini terasa hampa bagi orang-orang seperti Susan Kemp yang germafobia yang masih berjuang untuk membayangkan akhir pandemi ini.

"Perlu ada keseimbangan antara berhati-hati dan menjadi pertapa mutlak, hal yang tidak dapat saya capai," kata dia.

"Tapi secara irasional saya tidak bisa mengatasi ketakutan saya. Sangat sulit akhir-akhir ini untuk memutuskan kapan saya bersikap rasional dan kapan tidak. "

"Saya merasa sangat, sangat sulit untuk menyeimbangkan diri kembali," kata penderita PTSD dari Amerika Lindsey Higgins, yang tidak yakin gejalanya akan membaik bahkan jika para ilmuwan mengembangkan vaksin.

"Akan makan banyak waktu untuk mendistribusikan, atau meyakinkan orang bahwa mereka harus divaksin. Sejujurnya, saya tidak yakin jika saya akan bisa merasa aman lagi."

Anda dapat membaca versi asli artikel ini di BBC Worklife dengan judul The possible long term mental health impacts.