You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Mengapa banyak orang mengasosiasikan gerhana dengan kiamat?
- Penulis, David Cox
- Peranan, BBC Future
Pada tanggal 21 Agustus lalu, lebih dari tujuh juta orang dari seluruh dunia berkumpul di berbagai kota di seluruh AS, seiring terjadinya gerhana matahari total pertama sejak 1918 yang melintasi benua Amerika Utara dari ujung barat ke ujung timur.
Jutaan diperkirakan melakukan perjalanan jauh dan luas untuk menyaksikan pengalaman sekali seumur hidup ini.
Tapi bagi orang lain, fenomena selestial ini menandakan sesuatu yang jauh lebih seram ketimbang sekedar perjalanan sederhana - bagi sebagian orang, gerhana matahari total berarti kiamat.
Berbagai kelompok penginjil di seluruh AS, misalnya, telah menggembar-gemborkan gerhana sebagai tanda kiamat yang akan datang. Sebuah situs web nubuat Kristen bernama Unsealed mengklaim gerhana akan memicu awal dari apa yang disebut Tribulation, periode tujuh tahun dimana 75% dari populasi dunia akan hancur.
Sementara itu, bagi banyak orang, gerhana ini adalah acara yang sangat dinanti di musim panas. Dengan 12 juta lagi tinggal di jalur gerhana total terjadi sepanjang 70 mil (112 km) antara Oregon dan South Carolina dimana bulan benar-benar menutupi matahari, 'wisata gerhana' diharapkan menghasilan keuntungan dalam jumlah besar, sebuah tradisi yang dimulai di Eropa pada abad ke-18 saat gerhana melintas di atas ibu kota besar.
Lalu kenapa peristiwa besar dan sangat langka di langit menuai keajaiban dan ketakutan secara bersamaan? Hubungan antara gerhana dan kepercayaan terhadap azab yang akan datang menyentak kembali ke masa ketika hubungan kita dengan langit berlangsung dalam keadaan jauh kurang nyaman.
Ketakutan Kuno
Pada abad ke-7 SM, melintasnya gerhana matahari total di atas pulau Paros di Yunani mendorong penyair Archilocus untuk menulis: "Tidak ada satu pun di dunia yang bisa mengejutkan saya sekarang.Untuk Zeus, ayah dari Olimpus, sudah mengubah siang menjadi malam yang gelap dengan membentengi cahaya dari matahari yang bersinar, dan sekarang terror yang gelap menggelantung di atas manusia. Apapun bisa terjadi."
"Mayoritas orang tidak benar-benar mengerti apa gerhana atau bintang jatuh sampai setidaknya abad ke-17," kata Edwin Krupp, direktur Observatorium Griffith di Kalifornia, Amerika Serikat. Orang-orang Yunani kuni juga tidak sendirian.
Meskipun beberapa ilmuwan astronomi, dari abad ke 8 SM dan seterusnya, berhasil memahami mekanisme selestial di balik gerhana, selama 2.000 tahun sebagian besar penduduk dunia berpegang teguh pada kepercayaan kuno bahwa peristiwa astronomis, dan khususnya gerhana matahari dan bulan, adalah karya pada dewa.
"Ini berkaitan dengan komunikasi dan pendidikan," kata Krupp. "Pada saat itu, informasi lebih sulit menyebar, jadi mitos dan takhayul dari tradisi lama langgeng. Di zaman purba, orang mengatur kehidupan mereka berdasar tatanan dunia di sekitar mereka, dimana setengahnya adalah langit. Dan kejadian seperti gerhana adalah gangguan kekacauan dalam keteraturan itu. Saat iin masih ada bagian dunia, seperti India, dimana [beberapa] wanita hamil tidak akan pergi keluar selama gerhana karena mereka percaya bahwa mereka rentan, berdasar ketakutan kuno ini."
Untuk mengatasi kejadian semacam itu, banyak budaya kuno biasanya melakukan aktivitas ritualistik sebagai cara untuk mencoba berinteraksi dengan kekuatan atau setan yang mereka anggap sedang bekerja. Salah satu ide yang paling meresap adalah predator berbahaya yang menyerang matahari atau bulan di langit.
Di Asia barat, orang berbicara tentang gerhana matahari sebagai seekor naga melahap matahari. Drum besar akan dipukuli untuk menakut-nakuti binatang itu, sementara di China seekor anjing surgawi dianggap sedang menggigit matahari. Di Peru, setan itu digambarkan sebagai puma raksasa, sementara Viking melihat sepasang serigala langit. Ini mungkin mengejutkan bahwa kata awal untuk menamai gerhana di Cina adalah shih, yang berarti "memakan".
'Rakyat biasa menjerit'
Tapi tidak semua orang menganggap gerhana sebagai sesuatu yang perlu ditakuti. Orang Batammaliba di Togo dan Benin selalu memandang gerhana sebagai pertarungan matahari dan bulan. Mereka mendorong keduanya untuk berhenti, dan memanfaatkan waktu untuk mendamaikan permusuhan lama dan saling memaafkan.
Suku Aborigin di Pasifik Selatan dan suku-suku asli Amerika di pesisir barat laut Amerika melihat gerhana matahari total sebagai masa keintiman, dengan matahari dan bulan menghilang di balik tirai bayangan untuk menyembunyikan aktivitas erotis mereka.
"Cara orang menafsirkan kejadian astronomi ini sejalan dengan kepercayaan budaya mereka," kata Jarita Holbrook, astronom dan profesor di Universitas Western Cape. "Di tempat-tempat di mana ada lingkungan yang lebih lembut, tidak ada yang cuaca yang ekstrem, dan makanan berlimpah, tuhan Anda cenderung lebih baik dan Anda melihat hal-hal dengan cara yang berbeda. Tapi jika Anda hidup dalam agama yang menakutkan di mana para dewa berada di luar untuk mendapatkan Anda maka Anda akan memiliki lebih banyak kecenderungan untuk mengharapkan akhir dunia."
Ini tentu saja terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Dengan populasi yang dipenuhi oleh wabah penyakit, peperangan, dan sangat mengacu pada Alkitab, pikiran mereka selama gerhana matahari atau bulan akan beralih dengan cepat ke Kitab Wahyu yang mengacu pada matahari yang menjadi hitam seperti kain kabung, dan bulan menjadi warna darah.
"Sangat mudah untuk melihat mengapa orang berpikir seperti ini," kata Chris French, seorang profesor dan pendiri Unit Penelitian Psikologi Anomali di Goldsmiths. "Matahari menghilang dari langit selama gerhana matahari, ada semacam simbolisme yang sangat jelas terkait dengan itu. Dengan gerhana bulan, Bulan berubah merah darah. Dan Anda harus ingat bahwa untuk sebagian besar penduduk, mereka mungkin belum pernah melihat ini sebelumnya. Harapan hidup singkat, dan ini bukan kejadian biasa. "
Ketika Spanyol menaklukkan Kekaisaran Aztec di abad ke-16, di antara mereka ada seorang biarawan Fransiskan bernama Bernardino de Sahagún, sekarang dianggap sebagai salah satu antropolog pertama. Dia memberikan catatan langka tentang reaksi masyarakat setempat terhadap gerhana matahari total.
"Matahari menjadi merah, menjadi gelisah dan kacau. Ia tersendat. Lalu ada keributan dan kekacauan. Semua merasa cemas, bingung, ketakutan. Ada tangisan. Orang-orang kebanyakan berteriak, mengangkat suara mereka, menjerit. Ada teriakan di mana-mana. Orang-orang berkulit terang terbunuh sebagai korban. Tawanan tewas. Semua menawarkan darah mereka. Di semua kuil, ada nyanyian dan nyanyian. Sebuah kegemparan, ada seruan perang. Dengan demikian dikatakan, jika ini selesai, maka akan gelap selamanya. Iblis kegelapan akan turun, dan mereka akan memakan manusia. "
Kekuatan bintang atas politik
Dari sedikit orang yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi, beberapa orang dengan sengaja memilih untuk mengabadikan mitos tersebut sebagai cara memanipulasi kekuatan politik untuk keuntungan mereka sendiri.
Pada tahun 1504, dengan krunya yang hampir kelaparan setelah terdampar di lepas pantai Jamaika, Christopher Columbus mengakhiri sebuah pemberontakan dengan menggunakan gerhana bulan untuk meyakinkan orang Indian Arawak setempat bahwa dia mengendalikan langit, memaksa mereka untuk menyediakan makanan. Tiga ratus tahun kemudian, ketika mendirikan kerajaan Zulu, panglima perang Shaka kaSenzangakhona memperkuat kekuasaannya dengan menggunakan peristiwa astronomi untuk meyakinkan bangsanya bahwa dia mengendalikan matahari.
Beberapa orang sengaja memilih untuk mengendapkan mitos sebagai cara memanipulasi kekuatan politik untuk keuntungan mereka sendiri
Sampai kelahiran surat kabar, pengetahuan tentang gerhana dan mengapa hal itu terhadi menjadi semakin meluas. "Di abad ke-17 Eropa, Anda melihat laporan tentang orang-orang yang memprediksi hal-hal buruk dari gerhana, tapi untuk pertama kalinya Anda juga melihat artikel yang diterbitkan mengatakan, 'Ini konyol, ini hanya sekedar tata surya yang sedang bekerja," kata Krupp.
Tapi salah satu alasan mengapa mitos yang berkaitan dengan gerhana masih bertahan sampai hari ini adalah karena faktor sederhna dari kebetulan. "Bagi orang-orang yang percaya pada astrologi dan bahwa langit memberi semacam peringatan untuk suatu kejadian di bumi, anda secara kebetulan menemukan kematian dan kelahiran ketika melihat komet," kata French. "Ini akan terjadi secara kebetulan, tapi bagi orang-orang yang tidak berpikir dalam hal teori probabilitas, ini memberikan bukti lebih lanjut."
Yang lain mungkin lebih intrinsik dan terkait dengan respons fisiologis yang dialami semua orang dalam beberapa hal, saat menyaksikan sebuah peristiwa seasyik gerhana matahari.
"Bila Anda melihat gerhana, tubuh Anda benar-benar meresponsnya," kata Holbrook.
"Ada reaksi keras. Denyut jantung Anda meningkat, terjadi perubahan suhu tubuh, pernapasan, pelebaran pupil, keringat. Ada aliran pemikiran bahwa ini terjadi karena kita dilahirkan dengan pemahaman fisik yang melekat pada dunia, dan ketika Anda melihat sesuatu yang tampak seperti suatu hal yang mustahil, dan gerhana matahari tampak seperti sebuah lubang di langit, ini membuat otak terkejut yang kemudian memprovokasi respon ini. Semua tubuh kita merespons dengan cara yang sma, tapi cara reaksi ini dirasakan dan ditafsirkan bergantung pada budaya."
Mayoritas kita mungkin tidak lagi menatap ke langit dan berpikir dengan takut akan setan yang murka, tapi ketika matahari menghilang dan kegelapan menyelimuti seluruh Amerika pada musim panas ini, akan mudah untuk melihat mengapa kejadian semacam itu telah memicu kekaguman dan teror dalam besaran yang sama. Sejak fajar umat manusia.
Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di If you think an eclipse means doomsday, your're not the first di laman BBC Future.