Bagaimana rasa takut, seksualitas dan kekuatan membentuk mitos tentang perempuan yang ditakuti sekaligus dipuja

    • Penulis, Daisy Dunn
    • Peranan, BBC Culture

Hingga hari ini, perempuan yang berkuasa sering kali ditakuti dan dipuja, atau setidaknya, dianggap sebagai ancaman. Gagasan ini telah muncul sejak mitologi kuno yang menggambarkan para dewi memiliki kekuatan menyembuhkan, tapi juga menghancurkan.

Pada abad ke-1, warga di kota Bath, yang menanggung malu lantaran pakaian mereka dicuri ketika sedang berendam, tahu persis siapa yang harus mereka tuju untuk dimintai bantuan.

Dewi Sulis, yang menjaga pemandian air panas, pemandian air dingin dan kolam berendam di kompleks Romawi, dikenal terutama karena kemampuannya untuk menyembuhkan.

Namun dia juga memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membalas dendam.

Lebih dari 100 tablet kutukan kuno telah digali dari mata airnya, banyak di antaranya menampilkan permohonan dengan kata-kata yang tegas kepada Dewi Sulis untuk menghukum mereka yang mengambil alih harta orang lain. Pencuri berhati-hatilah.

Baca juga:

Sulis hanyalah salah satu dari beberapa dewi-dewi mitologi kuno yang ditampilkan dalam pameran Feminine Power di British Museum, London.

Pameran ini mengungkap keunggulan dewi-dewi dan tokoh perempuan dari enam benua selama ribuan tahun yang memiliki beragam wajah-wajah ilahi dari mitologi kuno.

Bersama Sulis - perwujudan dewi Romawi Minerva di Inggris - ada beragam dewi-dewi dari penjuru dunia, mulai dari Sekhmet dari Mesir, Kali dari peradaban Hindu, Kannon dari Jepang dan Coatlicue dari Meksiko.

Sangat mengejutkan betapa banyak dari dewi-dewi ini disembah karena kualitas yang tampaknya kontradiktif.

Sama seperti Sulis yang disembah karena memiliki kekuatan penyembuhan dan kekuatan membalas dendam, demikian pula Inanna dari Mesopotamia kuno yang dipandang sebagai dewi seks dan perang.

Awalnya dia digambarkan sebagai dewi menakutkan yang membawa kematian bagi orang-orang di medan perang dan membawa duka bagi keluarga yang ditinggalkan.

Namun dalam tulisan-tulisan lain, dia disembah karena potensi seksualitas yang ia miliki.

Raja-raja Sumeria melakukan yang terbaik untuk menggabungkan dua kemampuan yang bertentangan itu dengan membayangkan diri mereka tidur dengan Inanna untuk mendapatkan perlindungannya dalam perang.

Ini, mungkin sebagian, merupakan cara untuk meredam ketakutan mereka akan otoritasnya.

Kemampuan para dewi yang melampaui batas-batas sosial yang ditetapkan antara jenis kelamin di Bumi ini adalah salah satu hal utama yang membuat mereka lebih unggul dari para perempuan fana.

Inanna, yang juga dipandang memiliki kekuatan mengubah laki-laki menjadi perempuan, dan sebaliknya, perempuan menjadi laki-laki, kadang-kadang bahkan digambarkan seolah-olah dia sendiri adalah laki-laki.

Profesor Mary Beard—salah satu dari lima kontributor tamu dalam pameran Feminine Power— dalam katalog pameran itu mengungkapkan bahwa dewi kebijaksanaan Yunani, Athena, juga memiliki "kemampuan bela diri yang pada dasarnya bertentangan dengan konsep Yunani tentang gender perempuan".

Dewi Romawi, Venus, melampaui batas-batas yang diterima tentang perempuan dengan penuh percaya diri.

Seperti Inanna, dia menemukan tempat di hati pria di medan perang dan juga di kamar tidur.

Mary Beard menjelaskan: "Ini adalah Venus dan kekuatan hasrat yang tak tergoyahkan dan tak terbendung, yang dengan cara tertentu membawa kemenangan militer Roma."

Julius Caesar mengaku sebagai keturunan Venus melalui putranya Aeneas, pahlawan yang berubah menjadi pengungsi dalam Perang Troya, dan menempatkan sang dewi dengan gamblang di beberapa koinnya.

Para pemimpin Romawi berikutnya, juga mendapuk dewi Romawi sebagai ciri otoritas mereka.

Minerva diasosiasikan dengan Wellington dan Napoleon, serta Ratu Elizabeth I.

Gagasan bahwa figur perempuan dengan kekuatan tertentu lebih bermakna bagi perempuan ketimbang laki-laki sepanjang sejarah, tentu saja bisa dibantah.

Amenhotep, seorang Firaun dari dinasti ke-18 di Mesir, melangkah lebih jauh dengan menugaskan pembuatan sejumlah besar patung Sekhmet untuk kuil kamar mayatnya di Sungai Nil, dengan keyakinan bahwa dewi itu akan membantu menangkal penyakit sampar dan wabah.

Dan, para pria juga membuat setidaknya beberapa patung pemujaan dan karya seni dewi yang masih bertahan sampai sekarang.

Belinda Crerar, kurator utama pameran tersebut, mengatakan kepada BBC Culture, "Dalam banyak kasus, kami tidak tahu persis siapa yang membuat benda-benda itu. Kami cenderung berasumsi bahwa benda-benda itu dibuat oleh pria, tetapi kenyataannya tidak demikian.

"Di bagian pertama pameran ada piring perunggu, mungkin dibuat di Birmingham, dan didekorasi oleh perempuan."

Ditakuti dan dipuja

Banyak dewi dianggap memberikan dukungan kekuatan kepada para perempuan ketika mengandung dan melahirkan anak, tapi, ada juga individu yang dipandang memiliki kekuatan untuk melakukan yang sebaliknya.

Tokoh-tokoh dengan kekuatan khusus ini sebenarnya bisa menjadi sumber kecemasan bagi perempuan di bidang yang paling membutuhkan bantuan mereka.

Di antara bangsa Sumeria, ada Lamashtu, dewi dengan kepala singa dan rahang keledai, yang diyakini menyusup ke dalam rumah perempuan saat mereka sedang melahirkan untuk mencuri bayi mereka.

Di Meksiko, Cihuateteo atau "wanita ilahi"—arwah calon ibu yang meninggal saat melahirkan—dikabarkan akan kembali dalam lima hari di tahun Aztec untuk merenggut bayi yang baru lahir dari buaian mereka.

Ada juga Lilith, yang digambarkan sebagai istri pertama Adam dan sebagai pembawa kematian bayi dan kemandulan perempuan.

Sebuah patung Lilith yang menyeramkan oleh seniman kontemporer Kiki Smith dipamerkan di salah satu dinding pameran.

Mata birunya yang garang bisa membuat Anda lengah.

Dewi-dewi ini adalah manifestasi mendalam dari ketakutan manusia yang nyata.

Bisa dikatakan bahwa rasa cemas telah membentuk beberapa kisah tentang tokoh-tokoh perempuan dengan kekuatan tertentu, yang sampai kepada kita.

Dalam banyak budaya di peradaban awal, Bumi itu sendiri dipandang sebagai perempuan, atau berputar di sekitar perilaku dewi Bumi.

Mitos Yunani kuno tentang Demeter dan Persephone, misalnya, digunakan untuk menjelaskan keberadaan musim.

Setelah mendengar bahwa putrinya, Persephone, telah diculik oleh dewa dunia bawah Hades, dewi pertanian Demeter berkabung dan membuat tanaman yang biasa dia lindungi mati.

Di dunia bawah, persediaan biji delima bagi Persephone untuk membuatnya tetap dalam kegelapan hanya bisa untuk setengah tahun saja. Setelah itu, ia kembali ke dunia atas.

Kembalinya Persephone menjadi penghiburan bagi ibunya, sekaligus menandai musim semi dan panen buah.

Demikian pula, dalam teks-teks Hindu, dewi padi Sri Laksmi digambarkan mendatangkan kehancuran di ladang setelah meninggalkan Bumi.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa kekuatan feminin adalah intrinsik bagi konsepsi manusia tentang planet kita.

Dalam agama Hindu, istri dewa Siwa, Sati, diyakini menjadi bagian dari alam semesta fisik setelah dia meninggal.

Tubuhnya hancur berkeping-keping melintasi lanskap di bawah, menginspirasi fondasi Kuil Kamakhya di Assam, di tempat vulvanya diyakini jatuh.

Hingga kini, sebuah festival diadakan di sini kala musim hujan.

Para penyembah menatap heran saat mata air alami berubah berwarna merah karena rembesan oksida besi.

Seolah-olah sang dewi sedang menstruasi.

Sama pentingnya dengan mode pemujaan ini, orang tidak bisa untuk tidak merasa bahwa pria telah menganugerahkan dewi perempuan dengan kekuatan di atas umat manusia, demi menggambarkan betapa pemerintahan yang dipimpin perempuan di Bumi akan menjadi bencana.

Sementara Sekhmet di Mesir dijunjung karena potensinya yang memberi hidup, seperti Sri-Laksmi dan Demeter, dia juga bisa memberikan kehancuran.

Sekhmet disebut dikirim untuk menjarah bumi setelah manusia memberontak melawan ayahnya, dewa matahari, Ra.

Sekhmet melakukan apa yang diperintahkan, namun dia terlena.

Ra sangat malu dengan putrinya yang haus darah sehingga dia memanggilnya. Tapi Sekhmet tak menuruti perintah ayahnya.

Satu-satunya cara Ra bisa menghentikannya adalah dengan menyamarkan alkohol sebagai darah sehingga dia terlalu mabuk untuk melanjutkan aksinya.

Hingga hari ini, perempuan yang berkuasa sering kali ditakuti dan dipuja, atau setidaknya, dianggap sebagai ancaman dalam kesuksesan mereka dan kemampuan mereka untuk menghancurkan.

Jika contoh-contoh masa lalu mengungkapkan sesuatu, itu adalah bahwa figur otoritas perempuan selalu siap untuk bangkit dan menentang ekspektasi.

Mereka brilian karena menjadi segala sesuatu yang orang anggap mereka tidak bisa lakukan.

Feminine Power - the Divine to the Demonic ada di British Museum, London, hingga 25 September.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, How fear, sex and power shaped ancient mythology, di laman BBC Culture.