Kisah mahakarya seni yang dijarah Nazi, pengingat tragedi yang dialami warga Yahudi selama Perang Dunia II

    • Penulis, Diane Cole
    • Peranan, BBC Culture

Dalam sejarah seni yang panjang terdapat sejarah penjarahan seni yang hampir sama panjangnya.

Kita terpesona oleh harta karun dari negeri nun jauh di sana, yang berasal dari era kuno, meski sebagian besar dari kita buta tentang asal-usulnya.

Yang kerap tidak diceritakan adalah bagaimana sebuah karya seni diperoleh. Acap kali, karya seni dijarah secara brutal dari pemilik aslinya sebagai rampasan perang. Sebagian lain dikuasai seiring penaklukan kolonial dan atas perintah penguasa lalim.

Hingga kini, kita banyak membaca tentang perselisihan internasional atas kepemilikan dan restitusi. Salah satunya terkait tudingan bahwa museum seni terbesar di Swiss diduga memajang setidaknya 90 karya dengan asal-usul yang bermasalah.

Kontroversi baru-baru ini berfokus pada asal dan nasib berbagai barang berbahan perunggu dari Benin dan sejumlah lempengan serta patung logam yang menghiasi istana Kerajaan Benin di wilayah Nigeria modern.

Setidaknya beberapa di antara benda seni itu sedang dalam proses menemukan jalan kembali ke Nigeria dan Republik Demokratik Kongo dari banyak museum dan negara-negara yang pernah menjajahnya.

Beragam benda seni itu kini masih berada di Belgia, Jerman, British Museum dan New York's Metropolitan Museum.

Sejarah pencurian dan penyelamatan karya seni seperti itu juga terungkap dalam pameran yang digelar baru-baru ini di Museum Yahudi New York. Pagelaran itu berjudul Afterlives: Recovering the Lost Stories of Looted Art. Dalam ajang itu, kisah penjarahan disajikan melalui kekayaan seni dan budaya.

Baca juga:

Karya seni yang 'merosot'

Di pembukaan pameran di Museum Yahudi, New York, kami melihat satu demi satu kanvas luar biasa karya Pierre Bonnard, Marc Chagall, Paul Cézanne, Henri Matisse, Camille Pissarro, dan pelukis modernis besar Eropa lainnya.

Masing-masing lukisan itu disertai kisah tentang bagaimana karya seni tersebut dijarah oleh Nazi. Banyak dari karya ini diambil dari kolektor dan seniman yang kebetulan merupakan orang Yahudi.

Beberapa lukisan ini secara sengaja hendak dihilangkan karena dianggap tidak sesuai dengan definisi sempit Hitler tentang seni Arya yang seharusnya.

Menurut Hitler, karya seni Arya harus merepresentasikan nilai-nilai baik ras. Sebaliknya, lukisan yang disita Nazi diciptakan dalam konsep ekspresionisme. Banyak lukisan itu abstrak, sesuai ciri karya modernis, yang oleh Nazi dilabeli sebagai "karya seni yang merendahkan ras Arya".

Dalam pameran itu terdapat pula deretan benda-benda ritual berbahan perak yang pernah menghiasi rumah dan sinagoga komunitas Yahudi di Eropa.

Sejumlah benda seni itu dapat dan semestinya dikagumi karena keindahannya. Namun dalam konteks pameran ini, karya itu berbicara lebih lantang tentang bagaimana mereka dijarah dari pemilik aslinya, dicerabut dari fungsinya untuk menyambut hari Sabat atau merayakan tonggak kehidupan dan kematian menurut tradisi Yahudi.

Anda tidak bisa mengelilingi galeri ini tanpa membayangkan rasa kehilangan yang dialami begitu banyak orang sepanjang sejarah. Dorongan emosional pameran ini sangat dalam.

Baca juga:

Sederet karya seni ini adalah penyintas material dari komunitas Yahudi di Eropa. Masing-masing dari benda ini memiliki kisah berbeda, dari "kehidupan setelah kematian", hingga bagaimana mereka bertahan.

Namun secara keseluruhan, kisah-kisah ini juga mengikuti perjalanan nasib setiap karya, dari pencurian, pemindahan, hingga penyelamatan hingga restitusi akhirnya.

Jalan yang berbeda menuju kehidupan setelah kematian seperti itu terlihat dari saat Anda memasuki pameran.

Anda akan disambut, pertama kali, oleh lukisan cantik karya seniman Ekspresionis Jerman, Franz Marc.

Karya bertajuk The Large Blue Horses yang dilukis pada tahun 1911, menggambarkan tiga kuda berwarna biru cerah, yang berkerumun bersama di latar depan, dengan lereng bukit di belakang dengan sapuan warna biru, merah dan hijau.

Meskipun Marc mati berjuang untuk Jerman dalam Perang Dunia Pertama, Hitler melarang karyanya.

Tapi karya itu lolos dari jangkauan Nazi karena pada tahun 1938 pemiliknya, seorang warga Jerman, mengirimnya ke London, untuk dimasukkan dalam pameran seni "anti-Hitler".

Dari pameran itu, lukisan tersebut melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk ambil bagian dari pameran bertajuk Seni Terlarang Jerman Abad ke-20. Pada ajang itu, seorang warga AS membelinya. Kini lukisan tersebut menjadi bagian dari Walker Art Center di Minneapolis.

Dan tampaknya, lukisan itu memiliki kesamaan tema untuk dipajang dalam pameran di New York, yang artinya, dia dipinjamkan sekali lagi.

Di dekat lukisan itu terdapat lukisan Max Pechstein (1912), berjudul Nudes in a Landscape.

Lukisan ini baru saja dikembalikan oleh pemerintah Prancis kepada ahli waris bankir dan kolektor seni berdarah Yahudi kelahiran Jerman, Hugo Simon.

Perjalanannya yang suram merupakan simbol dari jalan yang seringkali panjang dan berkelok-kelok yang dilalui oleh seni jarahan hingga akhirnya diganti.

Perjalanan hidup Simon juga berbahaya. Dia melarikan diri dari Berlin ke Paris ketika Hitler berkuasa pada tahun 1933. Setelah Prancis jatuh ke tangan Jerman pada tahun 1940, dia melarikan diri sekali lagi, kali ini ke Brasil.

Namun lukisan itu tertinggal di Paris dan disita oleh Nazi. Lukisan itu tidak muncul lagi ke publik sebelum akhirnya pada tahun 1966, ditemukan di gudang di Palais de Tokyo di Paris. Bagaimana lukisan itu berada di tempat itu masih menjadi misteri sampai hari ini.

Sejak tahun 1998, lukisan itu disimpan di museum seni modern di Nancy, Prancis.

Lukisan lain yang dipamerkan berdekatan adalah lukisan hijau, kuning, putih bergaya impresionis tahun 1892 karya Pierre Bonnard, Still Life with Guelder Roses. Ini adalah satu dari 2.000 lukisan yang dicuri Nazi dari seorang kolektor, David David-Weill. Dia adalah filantropis Prancis-Amerika yang mengepalai bank Lazard Frres.

Lukisan ini dikembalikan kepada David Weill pada tahun 1946, tak lama setelah karya seninya ditemukan pasukan Sekutu di antara banyak karya yang disembunyikan Nazi di sebuah tambang garam Austria.

Perjalanan yang sulit

Kelancaran pengembalian karya seni ini membuat restitusi terdengar mudah. Tetapi cobalah Anda melangkah ke ruang sebelah, karya yang lain mengisahkan restitusi yang sedang berlangsung, mungkin tak ada habisnya, dalam bentuk lukisan geometris tahun 1939, karya seniman Yahudi Jerman Fédor Löwenstein.

Lukisan itu kini dalam proses dikembalikan kepada ahli waris pemilik aslinya oleh pemerintah Prancis. Kisah lukisan ini merupakan pertautan antara kelangsungan hidup dan restitusi yang acak.

Setelah disita, karya tersebut dipindahkan ke ruang penyimpanan di Galeri Jeu de Paume di Paris yang dikenal sebagai "The Room of the Martyrs".

Di sini, perwira Jerman dapat memilih karya jarahan pilihan mereka; karya yang tersisa sering dianggap "merosot" dan direncanakan untuk dihancurkan.

Tapi lukisan ini lolos dan selamat, mungkin dengan bantuan Rose Valland, sejarawan seni yang diam-diam melacak sekitar 20.000 karya yang dibawa ke sana. Catatannya memainkan peran kunci dalam memulihkan banyak barang seni curian pascaperang.

Terlepas dari upaya yang dilakukannya, Valland tidak bisa menyelamatkan mereka semua. Foto hitam putih ruangan itu, mungkin dari tahun 1942, menunjukkan lukisan-lukisan karya André Derain dan Claude Monet, yang tidak pernah muncul kembali setelah perang. Kemungkinan besar karya itu sudah dihancurkan.

Mustahil untuk tidak beralih dari foto ini dengan rasa syukur atas kehadiran karya-karya mulia yang dipamerkan di sini antara lain oleh Paul Cézanne, Pablo Picasso, Henri Matisse, dan Marc Chagall.

Pengunjung pameran juga tidak diperbolehkan untuk mengabaikan kehidupan dan nasib keluarga yang memiliki semua harta benda ini pada satu waktu.

Serangkaian foto keluarga lama berbaris di atas apa yang tampak seperti mantel ruang tamu, mengisyaratkan seperti apa kehidupan keluarga Yahudi kelas menengah yang normal sebelum Nazi memaksa mereka keluar.

Dan kemudian, mengikuti garis waktu horor Nazi, muncul koleksi potret dan gambar yang dibuat secara rahasia, kemudian disembunyikan, oleh seniman yang dikebumikan di kamp konsentrasi Nazi.

Mungkin tidak mengherankan bahwa berjalan melalui galeri, saya sering merasa tenggelam dalam dunia yang kacau balau oleh pencurian, tidak pernah lebih dari ketika saya menatap vitrines benda-benda ritual Yahudi.

Benda berupa cangkir Kiddush, tongkat lilin Sabat, penunjuk Taurat, dan benda suci lainnya itu berbaris berdampingan seolah-olah untuk penjualan besar-besaran, tanpa komunitas, mungkin tidak ada orang, yang hidup untuk mengklaimnya.

Begitulah, sampai komunitas Yahudi yang masih hidup di luar Eropa - termasuk Museum Yahudi di New York - turun tangan setelah perang untuk membantu menyelamatkan banyak benda ritual tak bertuan.

Semua karya seremonial yang dipamerkan dalam pameran ini menemukan kehidupan setelahnya sebagai bagian dari koleksi permanen Museum, bagian dari upaya besar-besaran untuk menyelamatkan sisa-sisa budaya Yahudi Eropa.

Sedang mencari

Bahwa warisan benda-benda seni dan budaya yang dijarah juga meninggalkan misteri bagi generasi berikutnya adalah subjek dari bagian akhir pameran. Beragam karya baru yang ditugaskan oleh empat seniman muda kontemporer yang tinggal di Israel, Berlin, dan Brooklyn: Maria Eichhorn, Hadar Gad, Dor Guez, dan Lisa Oppenheim.

Masing-masing seniman ini mendekati sejarah ini dari perspektif yang berbeda.

Seniman konseptual Eichhorn membenamkan kita dalam upaya memulihkan, menemukan, dan mengembalikan benda-benda yang dijarah.

Dia melakukannya dengan mengelilingi kita dengan kasus-kasus aktual dari kertas arsip, buku besar, laporan, dan buku. Semuanya diperlukan untuk memverifikasi, mengesahkan, menganalisis, mengotentikasi setiap artefak, setiap item.

Latar audio dari rekaman suara filsuf Hannah Arendt yang terus-menerus diputar membawa pengunjung meresapi karya Eichhorn tersebut.

Dia membaca berbagai memo yang dia tulis dalam kapasitasnya sebagai direktur agensi yang ditugasi memilah-milah peti besar barang yang ditemukan.

Dalam instalasinya, Dor Guez, putra dari seorang ibu Palestina dan seorang ayah Yahudi Afrika Utara, menciptakan tampilan benda-benda, dokumen, dan cetakan bergaya museum untuk menghidupkan kembali banyaknya kehilangan yang dialami keluarganya yang berlatar belakang Yudea, Tunisia, dan Arab.

Lukisan kolase seperti mimpi berskala besar karya Hadar Gad didasarkan pada foto-foto sejarah setelah penghancuran properti Yahudi oleh tentara Nazi.

Terakhir, Lisa Oppenheim mendasarkan rangkaian kolase fotonya yang berkabut secara misterius pada satu-satunya gambar yang tersisa dari lukisan pelukis Prancis, Flemish Jean-Baptiste Monnoyer, yang menghilang setelah disita oleh Nazi dari sebuah rumah warga Yahudi di Paris .

Ini, kemudian, adalah kehidupan setelah kematian yang tersisa.

Dampak emosional dari pameran ini luar biasa: kegembiraan dan rasa syukur atas penyelamatan begitu banyak karya seni yang indah; kesedihan atas kerugian yang dialami oleh komunitas Yahudi Eropa yang hancur; dan akhirnya terhibur dengan pengetahuan bahwa kisah mereka bertahan lama.

Bahkan mungkin ada secercah harapan bahwa narasi ini juga bisa membawa beberapa perspektif dalam menyelesaikan banyak kasus restitusi yang sedang berlangsung di seluruh dunia.

Sementara itu, perjalanan pola dasar karya seni jarahan dunia terus berlanjut.

Pameran Afterlives: Recovering the Lost Stories of Looted Art ada di Museum Yahudi New York hingga 9 Januari 2022.

Versi Bahasa Inggris dari artikel ini, The masterpieces stolen by the Nazis, bisa Anda simak di laman BBC Culture.