Album 'Lover' Taylor Swift : Perjuangan untuk mempertahankan status superstar

Sumber gambar, Efren Landaos/SOPA Images/LightRocket Getty Images
- Penulis, Nick Levine
- Peranan, BBC Culture
Taylor Swift menjadi salah satu ikon budaya pop abad ke-21, terlepas dari berbagai 'serangan' yang mengarah padanya. Dengan album barunya, Lover, mampukah ia mempertahankan statusnya sebagai superstar?
Siapa musisi yang paling sukses di dunia? Taylor Swift adalah salah satu artis yang jelas memiliki klaim atas status itu.
Sejak meluncurkan album perdananya pada tahun 2006 lalu, penyanyi sekaligus penulis lagu asal Pennsylvania, Amerika Serikat, itu telah bertransformasi dari seorang musisi country berbakat yang terinspirasi Shania Twain, Faith Hill dan Dixie Chicks, menjadi sesosok ikon pop yang telah menggunakan pengaruhnya di industri rekaman untuk memperjuangkan royalti streaming musik yang lebih baik bagi sesama musisi.
Dalam perjalanannya, ia juga menerima penghormatan dari banyak pihak, termasuk menjadi musisi kelima yang berhasil dua kali mendapatkan penghargaan Grammy untuk kategori bergengsi 'Album Tahun Ini' (album Fearless pada tahun 2009 dan album 1989 pada tahun 2014).
Bulan lalu, Swift dijuluki sebagai selebriti dengan bayaran tertinggi di dunia oleh majalah Forbes, dengan pendapatan kotor sekitar AS$185juta (sekitar Rp2,6triliun) sepanjang tahun 2018.
Media bisnis juga melaporkan bahwa kesepakatannya dengan Republic Records milik Universal Music Group, yang baru ia tandatangani November lalu, dapat membuatnya menerima penghasilan hingga AS$200juta (Rp2,8triliun).
Album ketujuh Taylor yang diberi judul Lover dirilis Jumat 23 Agustus lalu; jika album ini tidak menjadi bagian dari rantai kesuksesannya memuncaki tangga album Billboard 200 yang keenam kali, industri musik akan sangat terkejut.
Rekor Taylor di tangga lagu Billboard Hot 100 juga mengesankan - Dua lagu pertama album Lover, yaitu Me! dan You Need to Calm Down, hanya tertahan oleh lagu milik Lil Nas X, Old Town Road.

Sumber gambar, Getty Images
Tapi di saat yang sama, Taylor telah kehilangan kepercayaan dirinya yang tinggi, tidak seperti pada masa puncaknya ketika album 1989 yang dirilis tahun 2014 sukses besar, baik secara komersial maupun di mata para kritikus musik.
Dua tahun setelah itu, ia dihujani banyak 'serangan' akibat perselisihannya yang berantakan dan tersiar luas dengan Kim Kardashian dan Kanye West terkait sejauh mana Taylor mengetahui bahwa namanya akan disebut dalam lagu Kanye, Famous.
Dalam lagu itu, dengan menggunakan istilah seksual yang kasar, West merujuk pada insiden di MTV Video Music Awards 2009 ketika ia memotong pidato Swift saat menerima penghargaan VMA dan mengatakan kepada penonton bahwa Beyoncé yang seharusnya memenangkan penghargaan itu.
Ketika Famous dirilis, Taylor secara terbuka mengatakan: "Saya sangat ingin untuk tidak diikutsertakan dalam narasi ini, sesuatu yang saya tidak pernah minta untuk dilibatkan."
Namun, kemudian Kim Kardashian, istri Kanye, mengunggah video Snapchat yang tampaknya memperlihatkan Taylor memberikan izin kepada West untuk menyebut namanya dalam lagu itu. Dengan segera, banyak penikmat musik yang menyatakan untuk "memboikot" Taylor.
Kejadian memalukan itu terus menghantuinya hingga kini.
"Kejadian memalukan di depan umum, di mana jutaan orang mengatakan bahwa kamu dalam tanda kutip diboikot, adalah pengalaman yang membuat saya merasa sangat dikucilkan," ungkap Taylor kepada Vogue awal bulan Agustus lalu.
"Saya rasa tidak banyak orang yang dapat benar-benar mengerti bagaimana rasanya dibenci jutaan orang secara terang-terangan."
Perubahan persona, dari 'kuat' menjadi 'ceria'
Setelah kejadian yang "menjatuhkan"-nya itu - seperti yang digambarkan di media - album Reputation yang ia rilis tahun 2017 memperkenalkan sosoknya yang lebih kuat dan garang dari sebelumnya - yang tampaknya menikmati statusnya sebagai "penjahat" baru musik pop.
Setelah Kim Kardashian menyebut dirinya sebagai "ular" di media sosial, Taylor dengan cerdik menjadikan ular kobra raksasa sebagai dekorasi utama rangkaian tur dunia Reputation.
Akan tetapi, meski ia mengakui bahwa semua aksi publisitas negatif itu adalah rancangannya sendiri, Reputation tetap menjadi album Taylor dengan angka penjualan yang paling rendah.
Kini dalam mempromosikan album Lover, Taylor mencoba berputar 180 derajat secara ambisius - ia mencoba menampilkan sosok yang ceria, nyaman dengan dirinya sendiri, dan lebih terlibat secara sosial daripada dirinya di masa lampau.
Bulan Oktober tahun lalu, ia memecahkan kebisuan pandangan politiknya dengan mendukung dua kandidat Partai Demokrat dari kampung halamannya di Tennessee.
"Tema utama kampanye ini adalah nilai-nilai positif, namun dengan sebuah tujuan," ungkap Hugh McIntyre, jurnalis musik majalah Forbes. Ia merujuk pada lirik dari dua single pertama album Lover.
Me! bertemakan penerimaan diri, sementara You Need to Calm Down menunjukkan kesetiaan pada komunitas LGBT dengan lirik seperti "Why are you mad when you could be GLAAD?", yang merujuk pada organisasi aktivis LGBT.
McIntyre juga berpendapat bahwa Taylor menunjukkan lebih banyak sisi "humanis"-nya dalam kampanye albumnya ini, seperti pada sebuah video yang baru-baru ini viral di mana Taylor tampak mabuk di sebuah pesta.
"Bahkan jika pun itu direncanakan," tuturnya, "itu adalah momen yang ia butuhkan."
Tapi di situlah letak masalahnya. Bagaimanapun, tuduhan yang mengatakan bahwa ia kerap "merencanakan" segala hal yang ia lakukan telah menempel pada diri Taylor sejak ia menjadi terkenal.
Dalam wawancaranya tahun 2015 lalu, ia menolak keras tuduhan itu dan menyebutnya sebagai cara yang "sangat ofensif" untuk menggambarkan kepribadiannya.
Meski jelas bahwa ia tidak menyukai karakterisasi atas karir dan personanya itu, belum jelas apakah kini Taylor berusaha untuk melupakannya.

Sumber gambar, Stephen Lovekin/WireImage/Getty Images
Selama beberapa tahun, sejumlah media amat tertarik untuk mencoba mencari tahu lagu apa yang menceritakan kisah mantan kekasihnya, dan memunculkan gagasan bahwa Taylor pada akhirnya memanfaatkan kehidupan pribadinya untuk keuntungan komersial.
"Jujur saja, saya pikir itu sudut pandang yang sangat seksis," ujar Taylor dalam sebuah wawancara pada tahun 2014.
"Tidak ada yang berkata seperti itu tentang Ed Sheeran. Tidak ada yang berkata seperti itu tentang Bruno Mars."
Sementara itu, latar belakang Taylor yang kaya sebagai putri pialang saham Merril Lynch tidak membuatnya terlihat seperti seorang seniman yang keberhasilannya sepenuhnya organik.
Keluarganya sengaja pindah dari pinggiran kota Pennsylvania ke Nashville ketika ia berumur 14 tahun agar ia bisa mengejar cita-citanya berkarir di jantung industri musik country.
Kepindahannya dan keluarga jelas terbayar lunas, namun kisah itu tidak semenarik kisah perjuangan artis-artis lain.
Lady Gaga kerap berbicara tentang pengalamannya mengasah kepribadian musikalnya di bar-bar Lower East Side di kota New York yang dikenal kumuh. Sementara Ed Sheeran menceritakan momen ketika ia harus tidur di sofa rumah Jamie Foxx selama enam minggu sebelum ia menjadi seorang bintang.
Bahkan, meskipun upaya Miley Cyrus untuk melepaskan persona Disney Channel yang lekat dengannya terasa sangat kikuk, kisah itu memiliki unsur kesembronoan yang memikat hati.
Masalah identitas
"Meski menjadi fenomena yang mendunia, Taylor Swift selalu kesulitan mencari tempat bagi dirinya sendiri," ungkap Dr Kirsty Fairclough dari Sekolah Seni dan Media di Universitas Salford, "dan ini sering diartikan sebagai kurangnya identitas dan sebuah identitas yang terasa kurang otentik."
Bagi banyak penggemar musik pop, kurangnya 'keaslian' itu pertama kali muncul ke permukaan pada tahun 2015 ketika Taylor memulai Tur Dunia 1989-nya yang ke-85.
Di konser besar outdoornya di Hyde Park London bulan Juli itu, Taylor membawa serta sejumlah selebriti ke atas panggung, seperti supermodel Martha Hunt, Kendall Jenner, Karlie Kloss, Gigi Hadid dan Cara Delevingne, plus juara dunia tennis Serena Williams - anggota kelompok pertemanannya yang banyak media sebut sebagai 'squad'-nya.
Hal itu tampak sangat mirip dengan representasi visual kebangkitan feminis yang pernah Taylor sebutkan sebelumnya dalam promosi albumnya.
Akan tetapi seiring tur yang terus berlangsung, sosok bintang tamu yang Taylor undang ke atas panggungnya semakin acak dan membingungkan. Di satu titik, ikon Hollywood Julia Roberts dan ikon perlawanan terhadap norma arus utama (counterculture) Joan Baez tampil di konsernya di Santa Clara, California.
Bintang film Inggris, Ian McKellen, kemudian mengungkap bahwa ia menolak tawaran Taylor untuk tampil di panggungnya.
Berbagai bintang tamu kejutan yang dibawa Taylor terasa seperti bonus bagi penggemarnya yang membayar sejumlah uang untuk menonton konsernya. Tapi bagi orang lain, hal itu juga tampak seperti cara licik Taylor agar dirinya tetap berada dalam radar berita dunia hiburan dan menggarisbawahi magnet kuatnya sebagai seorang superstar.
"Estetika dan 'persekutuannya' yang berubah-ubah tampak membingungkan dalam narasi keseluruhan yang menjadikan Taylor Swift sebagai pusat kebudayaan semesta," ujar Fairclough.
Taylor tidak takut mengkritik sesama artis yang ia rasa telah merugikannya - sama seperti klaimnya bahwa Kanye West mencoba untuk membentuk "narasi" tentangnya, Taylor juga menuduh Tina Fey dan Amy Poehler dengan sengaja melontarkan lelucon yang tidak sopan terhadapnya - namun keberatannya akan hal tersebut di media kemudian ditafsirkan sebagian publik sebagai tindakan yang mementingkan diri sendiri, di mana sejumlah kritik menuduhnya "berpura-pura menjadi korban".

Sumber gambar, Larry Busacca/Getty Images
Fairclough menambahkan: "Dia sering menunjukkan status sebagai seseorang yang tidak diunggulkan (underdog), tetapi dari semua kualitas diri yang membuat banyak orang menyukainya, ada beberapa hal lain yang membuat mereka mempertanyakannya - dan itu adalah hal-hal yang tidak dengan mudah bisa ia hindari. Sebagai perempuan yang terkenal di seantero dunia, cantik, kurus, orang kulit putih, dan sangat kaya, dia adalah sosok underdog yang sangat tidak simpatik."
Jebakan aktivisme bintang pop
Ketika Taylor tidak menunjukkan dukungannya terhadap kandidat mana pun pada Pemilihan Presiden AS 2016, bagi sejumlah kritikus, ia tampak seperti tidak bisa atau tidak ingin membahas hal lain selain masalah pribadinya dan kesulitan menghadapi masalah yang jauh lebih besar.
Belakangan ia menjelaskan bahwa keputusannya untuk tetap diam saat itu dilatarbelakangi pandangannya bahwa jika ia bersuara, hal itu akan bersifat kontra-produktif.
"Sayangnya pada pemilu tahun 2016 Anda punya lawan politik yang memanfaatkan gagasan tentang dukungan selebriti," ujarnya kepada Vogue.
"Ia berkeliling sambil mengatakan, 'Saya bagian dari rakyat. Saya untuk Anda. Saya peduli dengan Anda.' Saya langsung tahu saya tidak akan membantu."
Namun upayanya baru-baru ini untuk menjadi lebih sadar secara sosial juga mengundang kritik, serta menyoroti garis tipis yang harus dilalui bintang pop modern ketika mereka mencoba untuk menampilkan diri mereka sebagai seorang aktivis.
Dalam video musik You Need to Calm Down yang dirilis bulan Juni lalu, yang sengaja bertepatan dengan bulan peringatan LGBT, Taylor mengelilingi dirinya dengan sejumlah tokoh LGBT termasuk pembawa acara kondang Ellen DeGeneres, bintang YouTube Todrick Hall, peseluncur es Adam Rippon, penyanyi Hayley Kiyoko dan aktris Laverne Cox.
Video itu dibuat di taman trailer penuh warna yang dikepung oleh sekelompok pengunjuk rasa yang membawa-bawa poster anti-gay.
Di akhir video, Katy Perry muncul, dan kedua bintang pop itu berpelukan, seperti menandakan akhir dari perseteruan mereka yang panjang dan banyak diperbincangkan.
"Saya bertanya jika ia tertarik untuk ambil bagian dan Katy mengatakan, 'Saya sangat senang jika kita menjadi simbol maaf'," ungkap Taylor saat video itu dirilis. "Saya pikir juga demikian."
Akan tetapi, meski Taylor mendukung solidaritas LGBT secara terbuka dengan apa yang disebut oleh lembaga amal LGBT GLAAD sebagai donasi yang "sangat dermawan", upayanya untuk menjadi aktivis pendukung hak-hak kaum LGBT belum terbukti dikenal secara luas.

Sumber gambar, Getty Images
"Video musik You Need to Calm Down sangat tidak peka secara budaya, benar-benar konyol," ujar Paul Flynn, jurnalis budaya pop terkemuka dan penulis buku Good As You: 30 Years of Gay Britain.
"Sebagai orang yang peduli terhadap tumbuh kembang anak-anak muda LGBT dan berbagai pesan yang mereka dapat, saya rasa menyamakan homofobia dengan perdebatan secara online yang Anda lakukan dengan bintang pop lainnya bukan saja hina, tapi sebenarnya juga cukup berbahaya."
Flynn juga mengatakan bahwa "dukungan di abad 21 haruslah tentang memahami komunitas LGBT, dan bukan sekadar mengumpulkan mereka. Tapi itulah yang dilakukan Taylor Swift. Ketika ia (merasa sebagai) artis yang "tidak keren", ia mengelilingi dirinya dengan orang-orang keren seperti Lena Dunham, Hadid bersaudara dan (blogger fesyen) Tavi Gevinson.
"Kini ia punya masalah dengan profil politiknya, dan perlu menonjolkan hal itu di era di mana ada ekspektasi bagi bintang pop untuk memiliki pandangan politik. Hal itu sangatlah sinis dan bagian dari strategi promosinya: jika ada masalah, libatkan orang lain untuk menutupi kekurangan itu ketimbang melakukannya sendiri."
'Sangat tidak keren'?
Tapi apapun pendapatmu tentang strategi promosi Taylor, dapat dikatakan, gagasan untuk membuat strategi promosi yang disusun secara hati-hati mulai terasa sedikit kuno.
Beberapa artis pendatang baru seperti Cardi B dan Billie Eilish lebih blak-blakan dan tampil apa adanya; sesama bintang pop Ariana Grande pun menolak jadwal peluncuran musik secara tradisional yang diajukan label rekaman dengan menelurkan dua album dalam kurun tujuh bulan.
Dr Kirsty Fairclough mengatakan bahwa strategi Taylor yang sangat kentara "tampak sangat tidak keren di masa kini di mana bintang-bintang pop yang 'lepas' dan sangat aktif serta sadar politik adalah sosok-sosok yang bisa 'nyambung' dengan masyarakat".
Tetap saja, jurnalis musik Hugh McIntyre percaya bahwa Taylor dapat melewati masalah imej yang tengah ia hadapi jika album Lover mengandung bukti bahwa ia telah menemukan kembali 'mantra'-nya dalam menulis lagu.
"Sejauh ini, lagu-lagunya tidak sekuat biasanya," ujarnya.
"Selama promosi album 1989, tak ada yang bisa mengkritik lagu-lagunya seperti Shake It Off dan Blank Space. Bahkan meskipun ada yang tidak bagus, lagu-lagu itu sangat enak didengar dan musik itu mengalahkannya.
"Tapi itu tidak terjadi dengan lagu Me! dan terutama You Need to Calm Down. Saya rasa ia bisa membalikkan keadaan itu jika musiknya cukup bagus," ujarnya.
"Anda bisa berhasil dengan apapun di industri musik pop selama Anda memiliki musik yang bagus. Ia butuh lagu yang tidak bisa didebat siapapun untuk menyetir arah pembicaraan."
Lagu ketiga yang juga menjadi lagu andalannya, Lover, adalah lagu yang indah, temaram, mengingatkan kita pada akar musik country Taylor, tetapi bukan lagu yang dibutuhkannya.
Ketidakpastian itu membuat album Lover mungkin menjadi album paling menarik di sepanjang karir Taylor. Setelah dirilis Agustus lalu, pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah: 'Apakah albumnya enak?', tapi 'apakah albumnya cukup enak untuk bisa menambal personanya yang cacat?'
Dan, jika album ini gagal menangkap kembali kedigdayaan Taylor dulu, hal itu adalah kabar mengkhawatirkan bagi para bintang pop, baik pendatang baru maupun yang sudah mantap, tentang dinamika perpindahan kekuatan industri musik saat ini.
Bagaimanapun, jika seseorang seperti Taylor Swift tidak mampu mengontrol imejnya dengan sukses di tengah lansekap pop yang super-canggih, sangat kritis dan sadar politik, lantas siapa yang mampu melakukannya?
Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dalam Taylor Swift's Lover: The struggle to maintain superstardom di BBC Culture.










