Vilhelm Hammershøi: Pelukis Eropa terbaik soal kesepian

Sumber gambar, Erik Cornelius/National Museum Stockholm
- Penulis, Cath Pound
- Peranan, BBC Culture
Karya pelukis Denmark Vilhelm Hammershøi dan interiornya yang kosong menjadi sebuah teka-teki. Bertepatan dengan pameran baru karya-karyanya di Paris, Cath Pound mencoba mengungkap misteri itu.
Saat dia melukis kompor, sofa atau serangkaian pintu berwarna putih, seniman Denmark abad 19 Vilhelm Hammershøi bisa menambahkan makna pada objek-objek di ruang kosong itu dengan "kualitas yang asing, sebuah cerminan dari kehadiran yang sublim," kata sejarawan seni Julius Elias pada 1916.
Karya-karyanya juga meliputi potret-potret yang enigmatis, lanskap dan kota yang kosong dan tampak seram, serta serangkaian lukisan telanjang yang diam-diam meresahkan. Namun karyanya yang menggambarkan interior dengan warna-warna abu-abu dan putih dan kadang menampilkan seorang perempuan terlihat dari belakang, telah memikat penikmat kontemporer sejak kemunculannya kembali sekitar 20 tahun lalu.
"Setiap hari kita melihat banyak gambar dan sebagian besarnya mengerikan, dan kemudian Anda melihat lukisan interior kosong Hammershøi. Tanpa ingin terdengar menyederhanakan, namun melihatnya terasa seperti berada di kelas yoga. Anda harus mengeluarkan semua diri Anda untuk kembali ke yang mendasar," kata Jean-Loup Champion, kurator Hammershøi, maestro Lukisan Denmark, pameran baru khusus soal karya-karya Hammershøi di Musée Jacquemart-André di Paris sampai November.
Lukisan-lukisannya memang mendukung perenungan yang hening, bahkan ketika rasa tenang yang muncul di awal kemudian malah menjadi sesuatu yang meresahkan.
Dalam lukisannya yang indah, Sunshine in the Drawing Room III (1903), permainan cahaya yang lembut punya kualitas yang menenangkan; namun ketenangan itu kemudian membawa isolasi eksistensial.

Sumber gambar, The Royal Danish Library
Kursi kosong yang menghadap pintu tertutup dalam Interior with Windsor Chair (1913) menunjukkan ketidakhadiran atau antisipasi akan kedatangan seseorang.
Seluruh ruangan itu terlihat memiliki kesan yang tak membumi akan sebuah ruang tunggu antara dunia ini dan selanjutnya.
Ketidaknyamanan di rumah
Hammershøi melukis saat interior menjadi motif yang sangat populer.
Rumah dilihat sebagai tempat berlindung dari semakin meningkatnya industrialisasi dan seniman dengan antusias menggambarkan konsep hygge dalam lukisan yang menunjukkan kenyamanan dan kehangatan. "Tapi Anda tak bisa merasakan itu di depan (lukisan) Hammershøi," kata Champion. "Sebaliknya, (lukisannya) sangat mengganggu."
Hammershøi tampaknya adalah orang yang tak banyak bicara, tenang dan menahan diri, sama seperti seninya.
Dia punya lingkaran teman dekat dan keluarga yang kecil dan tertutup, sebagian besar dari mereka muncul dalam karya-karyanya, tapi secara umum dia hidup seperti seorang pertapa, jarang muncul di publik atau mengomentari karyanya.
Dari 1898 sampai 1909, tempatnya tinggal adalah sebuah apartemen di Strandgade 30 di distrik Christianshavn di Kopenhagen, dan di sinilah dia melukis sebagian besar lukisan interiornya.
Hammershøi lebih memilih estetik yang kosong, kontras dengan interior mewah yang umum dimiliki oleh orang-orang kelas menengah atas.
Dia dan istrinya, Ida, mengecat putih pintu serta tembok, dan tembok serta langit-langit diwarnai berbagai nuansa abu-abu, biru, dan kuning, dan lantainya berwarna coklat tua.

Sumber gambar, Städel Museum - ARTOTHEK
Dekorasi interior yang minimal, termasuk dua sofa, lemari berlaci, beberapa meja dan piano, diatur secara sistematis untuk menghasilkan komposisi dengan palet terbatas dan non-natural terpisah dari kenyataan, dan memberi kesan yang tak membumi.
Kesan ini kemudian semakin kuat ketika muncul sosok Ida, yang hampir terlihat dari belakang.
Meski perempuan merupakan bagian integral dari genre lukisan Belanda dan Masa Keemasan Denmark yang jelas adalah pengaruh Hammershøi, dan berfungsi memberikan kesan narasi kehangatan atau keintiman, tapi elemen-elemen itu tak tampak dalam karya Hammershøi.
Kehadiran Ida tak memberi kehidupan pada lukisan interior tersebut. Karyanya tetap saja terkesan sulit dijangkau dan dipahami, sama seperti perempuan dalam lukisannya.
Perempuan di jendela
Ketakterjangkauan itu kemudian semakin kuat saat Hammershøi membalikkan motif jendela yang familiar di Zaman Keemasan sebagai cara untuk berdialog dengan dunia luar.
Namun lukisan Interior, Strandgade 30 (1901) yang memperlihatkan Ida berdiri dalam bayangan menghadap tembok, tak mampu atau tak mau mendekati jendela yang berada di depannya, Hammershøi menciptakan sebuah metafora untuk kesepian seseorang.
Kesendiriannya ditegaskan oleh bingkai, yang kosong tanpa gambar dan tergantung di tembok di belakangnya. "Anda tidak tahu kenapa perempuan malang ini berdiri menghadap tembok seperti itu," kata Champion. "Tak ada petunjuk akan apa yang terlintas di pikirannya."

Sumber gambar, TX0006154704, terdaftar 22 Maret 2005
Bingkai kosong muncul lagi di lukisanInterior with a Woman Standing (tanpa tanggal) di mana Ida berdiri dengan kepala tertunduk di depan jendela.
Mungkin karena cahayanya yang lebih lembut atau kesan halus dari tembok warna biru telur asin, tapi di sini dia terlihat sedang merenung daripada sendirian.
"Saya rasa ini adalah salah satu alasan orang tertarik," kata Champion. "Karena tak ada psikologi, tak ada cerita, Anda bisa menempelkan pikiran Anda sendiri ke lukisan itu."
Hanya ada satu lukisan yang menampilkan Ida sedang tenang, dan ini adalah Rest (1905) dan dia terlihat sedang duduk memunggungi kita, bersandar di kursi, dan lehernya tampak menjadi fokus sensual yang tak biasa.
"Ini sangat istimewa, karena tak terlihat seperti yang lain," kata Champion. "Saya menemukan hal-hal yang tak ada di lukisan lain…ada kelembutan di lukisan ini. Tampaknya dia ingin melukis sebuah potret, tapi dari belakang."
Lukisan ini adalah contoh yang jarang terjadi dalam upaya Hammershøi untuk menampilkan kehangatan. Kontras dengan saat Ida muncul dan terlihat dari depan dalam lukisan Three Young Women (1895) bersama dua saudari iparnya.
Bukannya menunjukkan keluarga bahagia, lukisan tersebut malah memperlihatkan sesuatu yang opresif. "Mereka tak terhubung, masing-masing seperti terkekang dalam dunianya sendiri," kata Champion.

Sumber gambar, RMN-Grand Palais (musée d'Orsay) / René-Gabriel Oj
Hammershøi mungkin membalikkan motif dari pendahulunya di lukisan Belanda dan Denmark, tapi dia juga bisa dilihat sebagai pendahulu dari Edward Hopper.
Champion sepakat bahwa "ada rasa ketidaknyamanan yang sama." Dalam perbandingan antara karya Hopper yang paling terkenal, Nighthawks (1942) dan Three Young Women, menurut Champion, "selalu ada pertanyaan tentang kesendirian, Anda merasa sendiri ketika berada di depan dua lukisan ini."
Meski begitu, dia melihat Hopper sebagai pelukis yang lebih berempati terhadap penggambarannya akan keresahan.
"Ada lukisan Hopper yang indah yang menggambarkan seorang perempuan setengah telanjang duduk di tempat tidur dan ada jendela, dan itu saja." kata Champion. "Anda bisa merasakan drama yang sebelumnya terjadi. Ada narasi, itu bedanya."
Pelukis zaman ini?
Dalam lukisan Hammershøi, kita dibiarkan untuk memproyeksikan emosi kita dalam lukisan dan jika emosi yang kemudian muncul adalah kecemasan dan kegelisahan, maka mungkin itu lebih merupakan refleksi dari zaman kita hidup daripada niatan sang maestro Denmark yang tak bisa kita ketahui.
Meski Hammershøi hidup di masa saat Denmark berhadapan dengan kehilangan wilayah dalam jumlah besar dan ketegangan yang terus muncul dengan Eropa, mungkin saja penikmat kontemporer bereaksi sama terhadap karyanya.

Sumber gambar, Ribe Kunstmuseum
Namun kemampuannya untuk menarik keluar perasaan-perasaan itu dari dalam diri kita bukanlah satu-satunya kekuatannya. "Tentu saja, kita tak lupa bahwa lukisan ini luar biasa indah," kata Champion.
Emil Hannover, seorang sejarawan seni dan teman Hammershøi melihat karya-karyanya sebagai "protes sunyi melawan kenorakan selera masa ini".
Dalam era kita yang mungkin lebih norak dan lebih tak berselera sejak Denmark di akhir abad 19 dan awal abad 20, di masa di mana kita berupaya mengurangi benda-benda di rumah kita dari pembelian yang tak perlu dan mengurangi gangguan tak perlu dalam otak kita, tak heran jika lukisannya menjadi mengena.
Meski Hammershøi terkesan meresahkan, tapi ada ketenangan dalam kekosongan yang dilukiskannya — dia adalah pelukis yang kita butuhkan sekarang.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini di Why Hammershøi is Europe's great painter of loneliness di laman BBC Culture












