You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Ocean's 8 ini seberapa bagus dan asyik?
- Penulis, Caryn James
- Peranan, BBC Culture
'Film ini tidak pernah kurang dari hiburan yang segar semilir, tetapi tidak pernah lebih dari sekadar hiburan yang tidak imajinatif,' kata kritikus Caryn James.
Mengapa seorang lelaki menyutradarai Ocean's 8? Itu pertanyaan yang langsung muncul tentang film versi perempuan waralaba Ocean, dengan Sandra Bullock sebagai Debbie Ocean, adik Danny George Clooney.
Darah akal bulus yang licin mengalir dalam setiap anggota keluarga mereka. Tak heran kalau Debbie mendalangi sekelompok perempuan maling untuk berusaha mencuri sejumlah mutu manikam saat berlangsungnya acara adi busana New York yang terkenal, Met Gala.
Ternyata gaya Gary Ross, atau ketiadaan gayanya, adalah penyebab utama kelemahan film ini.
Pertanyaan sebenarnya, mengapa sutradaranya adalah pria, Gary Ross? Ternyata versi perempuan dari cerita Ocean ini adalah gagasannya, karenanya dia menyutradarai dan menulis (bersama Olivia Milch) skenarionya. Ternyata juga gaya Gary Ross, atau ketiadaannya, adalah penyebab utama kelemahan film Ocean yang satu ini.
Karir Ross sarat dengan film-film kacang goreng jagung beleduk yang tidak lebih baik dari yang seharusnya, seperti Pleasantville, Seabiscuit dan Hunger Games pertama, yang mendapat kekuatannya dari pemerannya, Jennifer Lawrence. Pemeran yang terdiri dari para bintang di Ocean's 8 - yang mencakup Cate Blanchett, Mindy Kaling, Rihanna dan Anne Hathaway - menciptakan sejumlah peristiwa komik yang menonjol.
Film ini tidak pernah kurang dari hiburan yang segar semilir, tetapi tidak pernah lebih dari sekadar hiburan yang tidak imajinatif. Ross menerapkan suatu pendekatan dengan perjalanan ringan yang aman, ke genre yang seharusnya mendebarkan dengan pergerakan yang cerdas memasuki detil alur yang pelik lebih cepat dari kemampuan penonton untuk menebak apa yang akan terjadi.
Cerita ini didasarkan pada premis seksis bahwa para perempuan maling - dan perempuan penonton sebagai implikasinya - memusatkan segala urusan pada busana mewah dan perhiasan. Pandangan yang dangkal itu ditempatkan pada cetak biru Ocean's yang baku. Di bawah namanya yang imut, Debbie adalah seorang perempuan ahli tipu daya yang keras yang menghabiskan lima tahun waktunya di penjara untuk menyusun akal bulus: memastikan bahwa seorang bintang Hollywood (Hathaway, meyakinkan sebagai mahabintang yang sangat memusatkan perhatian pada diri sendiri) mengenakan kalung Cartier seharga $150 juta (Rp2 triliun lebih) ke acara kaum crème de la crème itu, tanpa menyadari adanya rencana muslihat untuk melepaskan kalung itu dari lehernya.
Seperti dalam tiga film Ocean berlatar Las Vegas yang disutradarai oleh Steven Soderbergh, film ini pun memberi waktu yang cukup untuk penyusunan tim para pencoleng itu. Hasilnya sangat kabur, tergantung pada keefektifan masing-masing aktris dalam menggunakan naskah untuk menjadi sesuatu yang lebih baik.
Adegan-adegan Mindy Kaling berjalan baik, karena ia memberi sentuhan komikal yang sempurna pada peran sebagai Amita, seorang ahli perhiasan yang tinggal di rumah ibunya, dan hidup dari bisnis kecil-kecilan keluarganya. Helena Bonham-Carter menampilkan peran sebagai perancang busana nyentrik yang dililit utang $ 5 juta (Rp70 miliar) kepada dinas pajak. Tidak banyak dari sosok peran Rihanna yang bisa dibahas, tetapi sangat lucu melihat bintang ini bermain dalam penampilan yang berbeda, mengenakan baju dan sepatu kerja yang berantakan, namun dia adalah peretas yang begitu lihai sampai bisa masuk ke dalam sistem keamanan Met.
Dan Bullock berselancar dengan mudahnya dalam alur cerita, membuat bagian-bagiannya menjadi utuh. Debbie tidak menampilkan segi-segi kepribadiannya, tetapi ia melontarkan sejumlah dialog yang bagus. "Di suatu tempat di luar sana ada seorang gadis berusia delapan tahun yang bermimpi menjadi penjahat," katanya kepada para anggota timnya sebelum bergerak melakukan aksi terbesar mereka itu.
"Mari kita kakukan hal ini untuknya."
Andai saja film ini menggunakan lebih banyak kalimat bernada getir begitu, atau dialog-dialog yang bergulir dengan nada yang konsisten.
Sarah Paulson tersia-siakan dalam peran sebagai ibu rumah tangga di pinggiran kota, seorang penadah barang curian yang kangen pada keasyikan mendebarkan sebagai penjahat. Kejutan terbesar adalah bagaimana Cate Blanchett begitu terbenam dan tidak menarik. Perannya, seorang pemilik klub bernama Lou, dimunculkan sebagai seorang yang bertingkah dalam penampilan bagai David Bowie, mulai dari namanya hingga wig pirangnya sampai jumpsuit hijau yang ia kenakan ke acara pesta kaum jetset itu. Skenario film ini menanam sedikit isyarat seksual tentang hubungan Lou dengan Debbie, tetapi pada akhirnya sosoknya adalah yang paling tidak mengesankan.
Hal yang diluputkan
Kadang-kadang film ini terasa seperti iklan wisata New York City. Itu nampak saat Debbie mengakali Metropolitan Museum of Art, tempat Met Gala biasa diselenggarakan dan berkelana menjelajahi galeri-galeri museum itu, dengan karya-karya Modigliani dan Van Gogh di latar belakang.
Begitu banyak nama merek bermunculan, ditambah dengan sejumlah kunjungan ke Cartier dan lawatan singkat ke kantor majalah Vogue. Banyak kasino mendapat publisitas gratis dalam film-film Ocean karya Soderbergh; maka kali ini hal itu merupakan suatu taktik yang dijalankan bukan untuk meningkatkan nilai otentik peristiwa, melainkan untuk memperhatikan iklan-iklan terselubung tapi terang-terangan itu.
Dan parade fashion tingkat tinggi pada malam Met Gala rekaan ini meluputkan kecerdasan dan keasyikan dari hal-hal yang nyata. Yang terjadi kemudian bukan penampilan keanggunan melainkan keberanian yang nekad, kadang-kadang kocak menggelikan.
Untuk malam gala tahun ini yang bertema terkait Katolik, Rihanna mengenakan sebuah mahakarya yang komik, busana yang didasarkan pada apa yang ada di lemari pakaian Paus, dengan hiasan kepala keperakan yang serasi dengan gaun mini dan mantelnya. Met Ball memperlakukan fashion secara ultra-serius, kesempatan yang tersia-siakan dalam suatu film yang dimaksudkan untuk menjadi lucu.
Saat-saat mereka mengenakan busana yang lebih normal justru yang paling hidup. Mandy Kaling, berpakaian seperti petugas dapur, mengunci dirinya di toilet perempuan Met dan diam-diam mempreteli kalung super mahal itu. James Corden yang kemudian muncul sebagai penyelidik asuransi, yang syukurlah bukan dalam penampilan klise yang kikuk, dan langsung mendorong cerita jadi lebih hidup.
Sepanjang film ini, Ocean's 8 meyentil-nyentil isyarat bahwa Danny Ocean sudah mati. Atau apakah itu justru merupakan salah satu tipu dayanya sejak sekian lama? Isyarat yang tak dieksplisitkan, tentu saja, adalah kemungkinan bahwa Clooney akan muncul. Namun seperti semua hal di Ocean's 8, lebih baik memperlakukan hal ini tanpa harapan yang terlalu muluk.
Sebuah komedi sukses yang berpusat pada perempuan, seperti Bridesmaids, memainkan ritual yang berbeda dibanding yang berpusat laki-laki. Kegagalan seperti yang dialami Ghostbusters terbaru membuktikan bahwa sekadar menyisipkan karakter perempuan begitu saja ke dalam suatu waralaba tidak pernah cukup.
Dan membayangkan apa yang mungkin bisa dihasilkan pembuat film yang benar-benar kreatif - siapa pun dari Soderbergh hingga Greta Gerwig - maka jadi terasa berat bahwa film Ocean yang ini tamnpil begitu malu-malu.
Mengapa repot-repot menyalakan lagi suatu film waralaba jika tidak bisa memanfaatkan ramuan keberhasilannya, setidaknya sedikit saja? ★★ ☆☆☆
Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Film review: Ocean's 8 isn't good but is it fun? di laman BBC Culture