You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Virus corona dan psikologi panic buying: Semata antisipasi atau kepanikan irasional?
- Penulis, Bryan Lufkin
- Peranan, BBC Worklife
Di tengah merebaknya kasus virus corona, masyarakat membanjiri pasar-pasar swalayan di seluruh dunia. Apakah mereka hanya sekedar mempersiapkan diri atau kepanikan irasional?
Sabtu malam lalu, Kristina May memutuskan mampir di pasar swalayan di wilayahnya, di kota Seattle, Amerika Serikat (AS), untuk membeli beberapa kebutuhan dapur selama sepekan dan perbekalan untuk turnamen baseball yang akan datang.
Apa yang diperkirakannya sebagai kunjungan singkat berubah menjadi antrean panjang selama tiga jam di depan kasir, dengan ratusan pembeli memborong barang-barang di tengah kejadian luar biasa virus corona.
May, seorang warga negara bagian Washington, sebenarnya sudah mendengar pernyataan Gubernur Jay Inslee hari itu bahwa negara dalam keadaan darurat setelah pengumuman korban pertama yang meninggal karena Covid-19 di AS.
"Di kebanyakan tempat, masyarakat saling memahami dan relatif tenang. Tetapi kesabaran makin lama makin tipis," kata Moy, yang mencuit foto-foto antrean panjang dan warga dengan troli yang dipenuhi air minum kemasan.
"Tisu toilet dan susu adalah barang-barang yang lenyap dari rak-rak toko lebih cepat daripada yang bisa saya hitung, dan air karbonasi juga nyaris ludes."
- Virus corona: Panic buying terjadi di enam kota besar, 'ini bukti tidak ada kebijakan yang solid di seluruh kementerian dan pemda'
- Virus corona: Sekitar 50 juta orang akan kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata akibat pandemi
- Virus corona: Sejumlah negara 'tiadakan sementara' salat Jumat, Indonesia imbau masjid 'gulung karpet dan semprot antiseptik' - apakah efektif mencegah penularan Covid-19?
Moy bukanlah satu-satunya yang mengalami antrian panjang dan rak-rak kosong. Permintaan besar-besaran untuk beras dan mi instan di Singapura mendorong Perdana Menteri (PM) Lee Hsien Loong meyakinkan masyarakat bahwa ada cukup persediaan untuk semua warga.
Di Auckland, Selandia Baru, pembelanjaan di pasar swalayan melonjak 40% pada Sabtu lalu, dibandingkan hari yang sama tahun lalu.
Dan para pembeli di Malaysia yang ingin mengisi "pandemic pantries" - penimbunan bahan-bahan kebutuhan pokok sampai krisis reda - telah mendorong peningkatan penjualan pembersih tangan sampai sebesar 800% setiap minggu. (Semua tempat itu telah mengonfirmasi kasus Covid-19)
Hal ini merupakan konsekuensi nyata dari panic buying - sebuah fenomena yang terjadi dalam suatu krisis yang dapat meningkatkan harga-harga dan mengambil barang-barang penting dari tangan orang-orang yang sebenarnya jauh lebih membutuhkan (seperti masker wajah untuk para pekerja kesehatan).
Jadi kenapa orang-orang melakukan itu? Para ahli mengatakan jawabannya terletak pada ketakutan akan hal yang tidak diketahui, dan memercayai bahwa peristiwa dramatis memerlukan tanggapan yang dramatis - meskipun, dalam kasus ini, tanggapan terbaik sebenarnya adalah sesuatu yang biasa saja, seperti mencuci tangan.
Kerugian dari panic buying
Dengan peristiwa-peristiwa seperti bencana alam yang sering terjadi, seperti badai atau banjir, secara berkala orang-orang mengisi tempat penyimpanan mereka untuk keadaan darurat.
"Mempersiapkan diri untuk sesuatu yang buruk merupakan tindakan rasional," kata David Savage, profesor bidang perilaku dan mikro ekonomi di University of Newcastle, Australia, yang menulis tentang rasionalitas di balik penimbunan di tengah krisis.
Namun: "Menjadi tidak rasional jika membeli 500 kaleng kacang panggang untuk sesuatu yang kemungkinan hanya merupakan isolasi selama dua minggu.
Perilaku seperti itu dapat memperburuk kekurangan - seperti yang terjadi ketika Badai Harvey menghantam kota kaya minyak, Houston, Texas, 2017.
Tindakan pencegahan yang diambil oleh kilang-kilang minyak, ketika akhirnya banjir, telah menghentikan sementara pasokan bensin dan solar di Amerika Serikat.
Sebenarnya hal itu sudah diperkirakan, tetapi masalahnya bertambah buruk ketika orang-orang berbondong-bondong ke stasiun pengisian bahan bakar dan mengisi mobil mereka dengan panik, hal ini berkontribusi pada tingginya harga bensin selama dua tahun.
Penimbunan yang tidak rasional dapat juga menyebabkan peningkatan harga, kata Steven Taylor, dosen dan psikolog klinis di University of British Columbia, dan penulis buku The Psychology of Pandemics.
"Jika harga dari satu tisu toilet meningkat tiga kali lipat, hal itu dianggap sebagai komoditas yang semakin langka, yang dapat menyebabkan kecemasan," katanya.
Ada banyak contoh kenaikan harga sebagai reaksi terhadap Covid-19 - suatu laporan telah menemukan bahwa 20 paket masker wajah dihargai lebih dari $100 di situs e-commerce seperti eBay dan Etsy.
Harga tinggi ini telah menyebabkan perusahaan melakukan tindakan untuk menghentikan spekulan mengambil keuntungan dari lonjakan permintaan.
Pada Selasa, misalnya, Amazon mengumumkan telah menghapus lebih dari satu juta produk kebutuhan dasar karena klaim yang menyesatkan dan peningkatan harga gila-gilaan.
Rantai farmasi Inggris, Boots dan LloydsPharmacy pada Selasa mengumumkan bahwa mereka akan membatasi penjualan pembersih tangan dua botol setiap pelanggan.
Pasokan masker wajah juga ketat. Pemerintah AS sudah memberi rekomendasi agar orang-orang berhenti membelinya - bukan hanya karena masker bedah tidak memberikan cukup perlindungan dari Covid-19, tetapi karena mungkin tidak cukup bagi pekerja kesehatan profesional yang memerlukannya untuk menjalankan tugasnya.
Fakta bahwa rantai pasokan raksasa China berada di pusat penyebaran virus corona telah memperburuk panic buying, kata Ben Oppenheim, direktur senior di perusahaan riset penyakit menular Metabiota yang berbasis di San Francisco.
"Banyak narasi berfokus pada gangguan produksi global dan rantai pasokan. Ada ketidakpastian tentang apakah kita akan mengalami kekurangan obat-obatan, masker dan barang-barang konsumtif lainnya, dan bahwa ketidakpastian itu perlu diklarifikasi dan ditangani," katanya.
Psikologi panic buying
Ada perbedaan yang jelas antara persiapan bencana dan panic buying, kata Taylor.
Pada kasus angin topan atau banjir, kebanyakan orang berpikir adil tentang barang-barang yang mungkin mereka butuhkan jika terjadi pemadaman listrik atau kekurangan air.
Tetapi karena kasus ini tidak jelas sampai tahap apa efek yang akan diakibatkan oleh Covid-19, ketidakpastian ini mendorong pembelian besar-besaran.
Menurut Taylor, panic buying didorong oleh ketakutan, dan keinginan untuk berusaha keras memadamkan ketakutan itu: seperti antrian berjam-jam atau membeli jauh lebih banyak dari yang Anda butuhkan.
Kita sudah pernah melihat hal seperti ini berdasarkan sejarahnya. Pada 1962, selama krisis misil di Kuba, ketika perang nuklir tampaknya begitu dekat, keluarga-keluarga Amerika memenuhi ruang bawah tanah mereka dengan berkaleng-kaleng makanan dan berbotol-botol air guna bertahan hidup dari bom atom.
Lalu ada Y2K, pada pergantian milenium. Di tengah kekhawatiran bahwa kesalahan besar ketika jam internal komputer diatur ulang ke "00" untuk tahun 2000 dapat menghancurkan pasar global atau mengirim rudal terbang, orang tidak hanya menimbun banyak barang yang tidak mudah rusak dan air botolan, tetapi juga uang.
Pada 1999 Departemen Keuangan Amerika Serikat telah diperintahkan untuk mencetak $50 miliar tambahan karena memperkirakan orang-orang akan menarik tabungan dan menimbun uang tunai.
Panic buying menolong orang-orang merasa dapat mengontrol situasi, kata para ahli.
"Dalam keadaan seperti ini, orang-orang merasa perlu melakukan sesuatu yang sebanding dengan apa yang mereka anggap sebagai tingkat krisis," kata Taylor.
"Kami paham bahwa mencuci tangan dan menutup batuk adalah apa yang Anda butuhkan saat ini."
"Tetapi untuk banyak orang, mencuci tangan tampak terlalu biasa. Sedangkan sekarang terjadi peristiwa dramatik, maka reaksi dramatiklah yang dibutuhkan, jadi hal itulah yang menyebabkan orang-orang rela membuang uang untuk barang-barang yang dirasa bisa melindungi mereka."
Oppenheim setuju. "Mungkin benar bahwa panic buying lebih merupakan mekanisme psikologis untuk menghadapi ketakutan dan ketidakpastian; suatu cara untuk memastikan kontrol atas situasi dengan melakukan suatu tindakan."
Savage kemudian menunjukkan hal lain yang juga menentukan: takut rugi. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak ingin dilewatkan.
"Kehilangan $100 terasa lebih buruk daripada memenangkan US$100," katanya. "Jika kemudian kita menyadari bahwa kita butuh tisu toilet dan kita tidak mengambilnya ketika ada kesempatan, kita akan merasa tidak enak."
Akhirnya, mentalitas kelompok juga menambah perilaku ini. Para ahli mengatakan fakta bahwa panic buying yang terjadi dapat memancing orang lain untuk ikut berpartisipasi.
"[Panic buying] mendapatkan tempat yang lebih di media sosial dan berita-berita, dan hal itu meningkatkan khawatir kehabisan, yang memperburuk panic buying," kata Taylor. "Ada efek bola salju yang meningkatkan rasa urgensi."
"Jika semua orang di Titanic berlarian untuk mendapatkan sekoci, Anda pasti akan ikut lari, tidak peduli apakah kapalnya akan tenggelam atau tidak," katanya.
Suatu reaksi alamiah?
Beberapa ilmuwan berpikir bahwa label "panic" yang digunakan dapat menyebabkan sedikit kekeliruan,
"Panik adalah keadaan subjektif, emosional dan sebagaian besar yang dapat kita amati adalah perilaku," kata Oppenheim.
"Mungkin seseorang membaca artikel atau beberapa twit tentang gangguan rantai pasokan di China dan kekurangan masker wajah di Hong Kong, dan kemudian membuat suatu keputusan yang sangat beralasan untuk menimbun masker untuk berjaga-jaga jika terjadi kasus serius.
"Yang bisa kami simpulkan dari pembelian itu adalah waktunya, jadi hal tersebut bisa terlihat sebagai kepanikan, meski sudah dipikirkan dengan baik."
Dalam sebuah penelitian di tahun 2010, Owen Kulemeka dari University of Illinois menulis bahwa panik dan perilaku anti sosial bukanlah karakteristik pembelanjaan pra bencana.
Sebaliknya, sebagian besar pembeli ini hanya terorganisir, dan "mereka yang menunda pembelian karena mendapat informasi yang tidak tepat dari perkiraan dan kurangnya sumber daya (mereka khawatir membeli persediaan yang akan sia-sia jika badai tidak terjadi) sebagai alasan untuk menunggu sampai menit terakhir.
"Di Hong Kong, beberapa ahli berpendapat bahwa panic buying bisa terjadi karena kepercayaan publik terhadap pemerintah untuk menangani krisis semacam ini mencapai titip terendah sepanjang masa."
Selain itu, ada kesinambungan tentang bagaimana orang-orang bereaksi terhadap krisis massal, kata Helene Joffe, seorang dosen psikologi di University College London.
"Untuk menghadapi ancaman yang tidak diketahui, orang-orang mengandalkan apa yang mereka ketahui tentang ancaman yang tampaknya serupa," katanya.
Dia menyebutkan bagaimana beberapa orang mengaitkan Covid-19 dengan Sars, jenis virus corona yang berbeda yang pernah menjadi pikiran utama dunia pada tahun 2003.
Dia menunjukkan bahwa ada lebih sedikit kasus, tetapi lebih fatal.
"Jadi, kaitan dengan Sars akan melemahkan [atau] mengurangi kepekaan akan risiko. Orang lain mengaitkan dengan Black Death, yang tentu saja, akan meningkatkan kesadaran akan risikonya."
Informasi yang bagus merupakan hal yang penting, kata Oppenheim. "Jika kita dapat mengelola ketakutan dan ketidakpastian masyarakat, kita dapat mengurangi kepanikan dan pembelian di saat-saat terakhir."
Tindakan alternatif terhadap panic buying
Suatu perencanaan yang baik ketimbang panic buying harus dipersiapkan sepanjang tahun untuk kemungkinan keadaan darurat atau krisis.
Yang juga penting diingat adalah bahwa semua orang juga membutuhkan barang-barang tersebut, karena peristiwa ini belum tertangani: penuhi apa yang memang menjadi kebutuhan Anda dan keluarga, tetapi hindari keinginan untuk menimbun persediaan yang cukup untuk mengisi bunker hari akhir.
Karena ketika panic buying dilakukan secara bersama-sama, hal tersebut dapat menyebabkan harga melangit, atau persediaan menjadi sedikit untuk mereka yang berrisiko tinggi membutuhkan hal-hal seperti masker wajah, daripada masyarakat pada umumnya.
Perlu dicatat pentingnya sumber informasi yang berkualitas untuk menghindari rumor dan berita palsu.
Di Jepang, tersebar berita palsu di sosial media tentang persediaan kertas tisu dan tisu toilet yang hampir habis karena China tidak akan lagi mengekspor produk-produk ini.
Guna menghentikan panic buying, para pejabat lokal dan asosiasi industri harus membuat pernyataan yang mengingatkan orang-orang bahwa hampir semua kertas toilet dan tisu diproduksi secara lokal dan ada banyak persediaan.
"Ketakutan perlu diakui dan dikelola," kata Joffe. "Kami tidak ingin takabur, tetapi kepanikan tingkat tinggi tidak berguna untuk mempersiapkan [atau] mencegahnya."
Mungkin, jika ada dorongan untuk melakukan panic buying, ada baiknya menanyakan apa yang benar-benar Anda takuti.
"Jika orang benar-benar merasa tertekan dan cemas tentang hal ini, maka mungkin mereka harus mencari bantuan dari seorang profesional kesehatan mental," kata Taylor.
Adapun sebagai pembeli yang hanya mencoba untuk membeli kebutuhan mingguan keluarga, Kristina Moy di Seattle berkata bahwa dirinya belajar dengan keras bagaimana menghadapi sekumpulan pembeli panik di komunitasnya.
"Lain waktu, saya pasti akan menunggu kehebohan itu mereda atau melakukan pemesanan persediaan saya dari Amazon," katanya.
"Itu adalah pengalaman antri tiga jam yang tidak ingin saya ulangi lagi."
Artikel ini pertama kali tayang dalam bahasa Inggris dengan judul Coronavirus: The psychology of panic buying di BBC Worklife.