Penggerebekan pesta privat di Depok: ‘Bukan pesta bikini’, pemberitaan media yang ‘pentingkan clickbait’ sudutkan remaja sebagai 'tidak bermoral'

Waktu membaca: 4 menit

Penggerebekan pesta privat di Depok, Jawa Barat, pada Minggu (05/06) yang diikuti pemberitaan dengan label "pesta bikini" dinilai "seksis" dan telah menyudutkan para pengunjung pesta, khususnya remaja perempuan, sebagai "tidak bermoral".

Hal itu disampaikan oleh peneliti untuk media dan isu seksualitas dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Dina Listiorini yang menyayangkan penggerebekan pesta yang dilabeli "pesta bikini" itu.

"Bikini itu kan dilekatkan pada perempuan. Sebenarnya bisa saja 'pesta remaja tidak berizin' atau 'pesta pribadi'. Tapi di sini yang disasar adalah tubuh perempuan, kemudian menjadikan remaja itu sebagai kelompok yang melakukan pembangkangan atas moral baik," kata Dina kepada BBC News Indonesia, Rabu 0(8/06).

Dihubungi terpisah, praktisi media sekaligus pengajar di Winchester School of Art, Universitas Southampton, Inggris, Endah Saptorini menilai bingkai pemberitaan yang "tidak sensitif gender" itu merupakan hasil dari kultur media yang "lebih mengutamakan clickbait".

Sebab, kata dia, istilah "pesta bikini" dinilai lebih sensasional dibandingkan menggunakan istilah lain seperti "pesta privat". Akhirnya, audiens pun menjadi lebih fokus pada urusan moral dibanding pada isu hukumnya yang menjadi alasan utama penggerebekan.

Baca juga:

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar E Zulpan mengatakan bahwa penggerebekan dilakukan karena pesta yang dihadiri oleh sekitar 400 orang itu tidak berizin.

"Tentu masyarakat mengeluh dengan kegiatan seperti itu karena kegiatan ini berlangsung sampai dini hari," ujar Zulpan sebagaimana dilaporkan media di Indonesia.

Usai penggerebekan, polisi sempat memaparkan temuannya di lokasi pesta, seperti adanya sepuluh kotak kontrasepsi (kondom), minuman keras, juga bahwa pengunjung menggunakan "pakaian seksi".

Polisi pun sempat melakukan tes urin kepada para pengunjung, namun hasilnya menunjukkan tidak ada yang positif narkoba.

Tetapi alih-alih fokus pada persoalan "pesta tidak berizin yang dikeluhkan warga", pemberitannya justru lebih fokus pada "pesta bikini" dan temuan alat kontrasepsi tersebut.

Sehari setelah penggerebekan itu, dalam wawancara dengan wartawan di Jakarta, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar E Zulpan sempat ditanya apakah acara tersebut merupakan "pesta bikini".

Zulpan kemudian menjawab bahwa, "Ini masih didalami. Kalau (disebut) pesta bikini karena mungkin pesertanya berpakaian seperti itu."

Dihubungi oleh BBC News Indonesia, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Depok AKBP Yogen Heroes Baruno mengklaim bahwa pelabelan "pesta bikini" itu bukan datang dari pernyataan polisi, melainkan melalui pemberitaan di sebuah media yang kemudian diikuti oleh media lain.

"Ya bikini itu menurut saya kan pakaian renang dua pieces. Kalau di situ bisa dibilang pakaian seksi saja. Dan kalau pesta berarti hampir seluruhnya menggunakan bikini. Ini kan enggak," kata Yogen.

"Pak Direktur Narkoba pun menyatakan itu bukan pesta bikini. Sebenarnya itu lebih ke private pool party," tuturnya.

Tetapi, perbincangan terkait pesta bikini di Depok sudah kepalang ramai di media sosial. Beberapa media bahkan masih menggunakan label itu sampai Rabu (08/06).

Sejumlah media juga mewawancarai beberapa organisasi dan ormas Islam antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI), PBNU, serta Muhammadiyah untuk dimintai komentar terkait "pesta bikini di Depok" yang akhirnya membahas ranah moral.

Lebih pentingkan clickbait

Endah Saptorini menilai bahwa pembingkaian isu penggerebekan yang cenderung sensasional ini terbentuk dari iklim media digital yang mementingkan clickbait.

Hal itu, kata dia, membuat akurasi dan sensitivitas terhadap isu yang diangkat pun seolah dikorbankan demi persaingan mendapat klik.

Pembingkaian seperti ini pun kerap ditemukan pada isu-isu yang terkait dengan seksualitas dan ragam gender.

"Ini kan lingkungan baru yang dibentuk oleh media digital, semua diperhitungkan berdasarkan jumlah klik. Tapi apakah kompetisi untuk ini berarti bisa menghalalkan semua cara?" kata Endah ketika dihubungi.

"Ketika diingatkan, media selalu beralasan bahwa itu maunya pembaca atau penonton, seolah kalau diberi berita seputar 'selangkangan' itu banyak yang baca. Seolah audiens maunya berita tentang seks dan pornografi," lanjut dia.

Padahal, kata Endah, media semestinya memiliki kuasa untuk membangun konstruksi informasi yang akan diterima oleh publik.

Persekusi atas nama moral

Sementara itu, Dina Listiorini mengaku heran mengapa sebuah pesta pribadi bisa digerebek dan pada akhirnya dikaitkan dengan isu moral.

Ditambah lagi dengan pemberitaan media yang sensasional, Dina menilai telah terjadi "persekusi yang mengatasnamakan moral".

"Saya lihat videonya enggak semuanya pakai bikini, tapi kemudian disamaratakan dengan bikini. Karena itu pesta di kolam renang, apa salahnya dengan bikini? Saya rasa enggak ada yang salah dengan private party ini, kenapa digerebek?" kata Dina.

"Dan dengan [media] meminta misalnya orang-orang dari kelompok agama untuk berkomentar, ini menunjukkan bahwa media menempatkan ini pada bingkai moral," lanjut dia.

Dia juga menyayangkan pernyataan polisi terkait penemuan kondom dan bagaimana media menjadikan hal itu sebagai salah satu fokus pemberitaan, yang sebetulnya tidak berkaitan dengan isu utamanya. Ini mempertegas bagaimana media mengeksploitasi isu ini karena berkaitan dengan seksualitas. Sayangnya, itu hanya dilihat dari sudut pandang moral secara hitam dan putih.

Penemuan sepuluh kotak kondom itu kemudian menimbulkan prasangka bahwa pesta itu adalah pesta seks, yang kemudian dibantah sendiri oleh polisi karena tidak menemukan fakta telah berlangsung "pesta seks".

"Padahal kalau kita bahas dari isu kesehatan reproduksi, kita seharusnya bangga bahwa remaja itu sadar akan kesehatan reproduksi mereka. Tapi memang ada masa ketika kondom itu tidak dilihat sebagai proteksi, melainkan benda yang dikaitkan dengan maksiat dan seolah mengamini hubungan seks di luar pernikahan."

Pemilihan istilah "pesta bikini" pun, bagi dia sudah memberi stigma yang negatif kepada para peserta pesta, terutama remaja perempuan.

Ironisnya, Dina mengatakan stigma negatif itu dipopulerkan oleh media yang seharusnya memiliki kuasa membangun informasi sebagai sumber pengetahuan masyarakat.