Lima perdebatan di balik upaya mempercantik Jakarta menjelang Asian Games 2018

Waktu membaca: 4 menit

Beberapa pekan terakhir Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerima kritik bertubi-tubi terkait upaya mereka mempercantik Jakarta menjelang Asian Games 2018. Apa saja?

Asian Games 2018 yang akan dibuka pada 18 Agustus 2018 sudah di depan mata. Untuk menyambut ajang olahraga bergengsi tingkat Asia ini, Jakarta sebagai kota tuan rumah sibuk berbenah.

Jalur pejalan kaki dan sepeda dibangun di jalan protokol, sungai ditutupi jaring, kota dihiasi dengan cat warna-warni, termasuk separator pemisah jalan, dan jembatan penyeberangan diganti dengan lampu lalu lintas untuk menghentikan kendaraan saat pejalan kaki melintas.

Banyak usaha pemerintah provinsi ini menimbulkan komentar pedas dari warganet. Beberapa kali pemerintah menanggapi kritikan dengan mengubah apa yang sudah dilakukan, misalnya kebijakan mengecat pemisah jalan jadi warna-warni, diprotes, kemudian dikembalikan lagi menjadi hitam putih.

Berikut ini rangkumannya.

1. Kali item

Kali item pertama kali disebut dalam perbincangan di media sosial ketika Pemprov DKI memutuskan untuk memasang jaring di atasnya.

Pemasangan jaring hitam, alias waring, kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, penting dilakukan untuk mencegah penyebaran bau tak sedap yang dapat mengganggu atlet lantaran area makan di Wisma Atlet berhadapan langsung dengan kali.

Menurut Spreadfast, ada 54.4000 tweet yang menyebut "Kali Item" sejak pertama kali muncul berita tentang pemasangan jaring 20 Juli 2018, hingga 30 Juli.

Sebagian menertawakan pemasangan jaring, tapi ada juga yang mencoba memahami alasan pemasangan jaring.

Setelah jaring dipasang, benarkah bau hilang? Ikuti penelusuran BBC yang dapat dibaca di artikel ini.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan nilai anggaran pemasangan kain waring di Kali Item diambil dari APBD 2018.

"Kali item total pagu anggaran Rp580.833.000 terbagi tiga segmen," ujar Sandiaga kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (24/07).

Namun beberapa saat setelah jaring dipasang, tampak sampah justru dibuang ke atas jaring tersebut.

2. Separator warna-warni

Warga dikagetkan dengan separator jalan di beberapa tempat di Jakarta yang berubah menjadi warna-warni.

Mereka khawatir marka jalan yang warna-warni akan menganggu pengendara.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan, separator jalan warna-warni merupakan bagian dari persiapan Pemprov DKI Jakarta menyambut Asian Games 2018.

Pada Selasa, 31 Juli, gubernur kemudian menjelaskan kepada media bahwa pembatas jalan yang dicat warna-warni diubah menjadi hitam putih seperti semula.

Alasannya, "Ada ketentuan-ketentuan mengenai marka-marka jalan," kata Anies di Monas, Jakarta Pusat, Selasa, seperti dikutip dari Detikcom.

Warganet pun mempertanyakan, berapa dana yang terpakai untuk mengecat separator menjadi warna-warni, hanya untuk dicat ulang beberapa saat setelahnya.

3. Merubuhkan jembatan penyeberangan

Pemerintah merubuhkan jembatan penyeberangan di dekat Bundaran Hotel Indonesia dan menggantinya dengan pelican crossing, yaitu zebra cross yang dilengkapi dengan lampu lalu lintas untuk kendaraan dan pejalan kaki.

Warganet meragukan ketertiban pengguna jalan, baik dari pejalan kaki maupun pengguna kendaraan.

Pejalan kaki merasa takut menyeberang jika pengguna kendaraan masih tidak tertib.

Pada sisi lain, warga juga ragu pejalan kaki mau tertib dan disiplin menunggu lampu hijau menyala sebelum mereka menyeberang.

Saat BBC mencoba menyeberang, pengendara dan penyeberang jalan tertib, meskipun masih perlu bantuan dari petugas Dinas Perhubungan yang mengatur arus lalu lintas dan menghentikan kendaraan jika lampu pejalan kaki menyala hijau (dan lampu pengendara menyala merah).

"Pejalan kaki adalah kelompok paling harmless di antara pengguna jalan, tapi paling sering dirugikan. Nggak bikin macet tapi jalur seupil aja diserobot. Nggak buang emisi tapi paling banyak menghirup polusi. Nggak bikin celaka tapi rawan dicelakakan karena penyeberangan jarang," kata pengguna Twitter, Sofie Syarif.

4. Jalur pejalan kaki Sudirman

Gubernur Anies Baswedan memulai proyek Gerebek Jalan Sudirman-Thamrin untuk merapikan trotoar sepanjang jalan protokol ini.

Trotoar di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman diperlebar dan ditanami rumput. Tapi, warganet mempertanyakan rumput yang ditanam di depan halte bus. Bagaimana caranya naik bus jika di depan halte tertutup rumput?

Menanggapi protes warganet, gubernur memberikan tanggapan. Menurut gubernur, area rumput itu tidak bersifat permanen.

Setelah Asian Games selesai, rumput tersebut akan dibongkar dan diganti dengan trotoar keras. "Sekarang ini memang sebagian belum dipasang trotoar keras karena masih rumput. Rumput ini sebenarnya temporer," ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (25/07) seperti dikutip dari Kompas.

5. Jalur sepeda

Jalur khusus untuk sepeda dibuat di sepanjang jalan Thamrin dan Sudirman, dengan cara mengecat sebagian trotoar dengan warna hijau.Tapi, foto yang beredar menunjukkan berbagai tiang di jalur sepeda itu, sehingga menimbulkan berbagai komentar dari warganet yang sedih.

Sudah tepatkah cara Jakarta bersolek sedemikian rupa untuk menyambut Asian Games?