Mengapa Anies Baswedan, Mahfud MD, dan TGB populer dalam bursa cawapres?

    • Penulis, Mehulika Sitepu
    • Peranan, BBC News Indonesia

Hasil penelitian terbaru lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), menyebutkan ada lima nama calon wakil presiden yang paling disukai massa pemilih nasional untuk pilpres 2019 mendatang.

Gatot Nurmantyo, Sri Mulyani Indrawati, Mahfud MD, Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang, dan Anies Baswedan, adalah nama-nama yang menurut survei terbaru SMRC merupakan kandidat calon wakil presiden yang paling disukai pemilih di Indonesia.

Dan tiga di antaranya -Mahfud MD, TGB dan Anies Baswedan- dianggap memiliki kedekatan dengan umat Islam, hal yang dianggap penting pada Pilpres 2019.

"Itu yang menjadi isu sekarang, kan? Karena sejak 2014 sampai sekarang itu kan ada isu siapa calon yang dianggap pro umat dengan antiumat. Maka nama-nama yang dari kalangan santri itu menjadi penting," ujar CEO Riset SMRC Djayadi Hanan.

Djayadi menjelaskan, pemilihan calon wapres yang dekat dengan umat Islam, penting bagi Joko Widodo yang dianggap "lebih mewakili kalangan nasionalis dan sering kali dipotret kurang pro terhadap umat Islam".

Meski begitu, Prabowo yang sudah dianggap lebih dekat dengan umat Islam pun juga butuh sosok serupa karena tak cukup hanya narasi semata, keterwakilan kandidat pun penting.

Hal itu diafirmasi oleh Direktur Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia, Aditya Perdana, mengatakan kedekatan sosial dan emosional seorang kandidat calon wakil presiden sangatlah penting, karena calon presidennya harus memperhatikan kelompok-kelompok yang berbeda dengan kelompok yang sudah "dipegang".

Betatapun menurutnya itu bukanlah faktor tunggal. Aditya mencontohkan Prabowo dan Agus Yudhoyono, yang latar belakangnya sama-sama militer ternyata juga direspons baik oleh pemilih.

Namun, apakah memilih cawapres semata-mata hanya karena kedekatan emosional dengan satu kelompok tertentu akan merugikan masyarakat?

"Sejak tahun 2004, sejak pemilihan presiden secara langsung, faktanya kita dihadapi situasi dimana tokoh politik menjadi figur yang sangat sentral, menjadi figur yang sangat penting bagi pemilih, ketimbang partai politiknya," jawab Aditya.

"Jadi urusan program, urusan nanti mau dibawa seperti apa kebijakan yang dihasilkan nampaknya itu belum menjadi satu hal yang diprioritaskan oleh pemilih, atau pun sebaliknya, si kandidat merasa 'ini dulu deh yang dijual, kedekatan secara emosional dan psikologis dulu yang harus disampaikan'," tambahnya.

Bagaimana dengan pemilih sendiri?

Di Jakarta, Muhamad Fauzi mengatakan pemimpin yang Islam dan Islamis penting karena "di Indonesia penduduknya mayoritas Islam."

Namun, bagi Abidin dan Nur Aini Sri Rahayu, memilih pemimpin bukan hanya sekedar Islam, namun yang bisa "merangkul semua".

Terlepas apakah seorang calon wakil presiden harus memiliki kedekatan dengan kelompok Islam atau tidak, kelima nama yang disukai oleh pemilih massa nasional berdasarkan survei SMRC itu dianggap sudah memiliki pengalaman yang cukup untuk maju sebagai calon wakil presiden.

Dan kita tinggal menunggu siapa yang akan didaftarkan di KPU pada Agustus mendatang.