Popdut Via Vallen, Dangdut Hiphop NDX: Akankah bertahan?

    • Penulis, Famega Syavira Putri
    • Peranan, BBC Indonesia
  • Waktu membaca: 6 menit

Apakah Anda penggemar dangdut atau bukan, sulit untuk menghindar dari lantunan Sayang yang dinyanyikan oleh Via Vallen. Tapi lagu Sayang rupanya berasal dari sebuah lagu Jepang.

"Saya awalnya tidak pernah mendengarkan dangdut, tapi akhir-akhir ini saya jadi dengar Via Vallen, NDX A.K.A, karena banyak dibicarakan orang di sosial media," kata Arya Perdhana, pekerja teknologi di sebuah perusahaan di Jakarta Selatan.

Via Vallen adalah penyanyi asal Jawa Timur bernama asli Maulidia Octavia yang menjadikan genre pop dangdut sebagai andalannya dalam bermusik.

Tembang Sayang yang dikemas dalam wujud video klip sudah disaksikan 148 juta penonton dalam satu tahun terakhir.

Jumlah ini menjadikan video tersebut sebagai salah satu video dangdut paling banyak disaksikan di Youtube, hanya kalah oleh video Nella Kharisma, pedangdut bergenre sama, dengan 165 juta penonton.

Total penonton video Via Vallen di akun resmi labelnya, Ascada Musik, sudah mencapai 265 juta penonton. Jumlah ini belum menghitung video-video dari akun lain saat Via Vallen bernyanyi dari panggung ke panggung.

"Tak dapat dipungkiri bahwa sejak Via Vallen dengan lagu 'Sayang' itu, dangdut bisa lebih naik kelas. Karena awalnya hanya (didengar oleh orang) low ke middle. Sekarang middle ke high sudah bisa menikmati musiknya yang tidak kampungan," kata Head of Promo Ascada Musik, Trosta Susiswa kepada BBC Indonesia.

Trosta mendefinisikan genre musik Via Vallen sebagai popdut, alias lagu pop dangdut.

"Dia berbeda dari penyanyi dangdut pada umumnya karena dia tidak menjual goyangan, dia hanya menjual kualitas vokal yang di atas rata-rata," kata Trosta.

Tak hanya bisa berdangdut, Via Vallen juga menyanyikan lagu pop.

Acada Musik Indonesia, label yang menaungi Via Vallen, mengaku melihat potensi pedangdut asal Jawa Timur itu setelah melihatnya di Youtube. Ketika itu Via Vallen banyak menyanyikan versi dangdut koplo lagu-lagu pop Indonesia.

"Alasan kami mengambil Via Vallen memang karena Youtubenya ramai. Dia sudah kuat di fanbase daerahnya, jadi kami lebih gampang," kata Trosta. Saat itu, sekitar tahun 2013, Via Vallen mulai terkenal tapi hanya di Jawa Timur dan sekitarnya.

Hingga kini, Via sudah mengeluarkan empat single, yaitu Selingkuh, Secawan Madu, Sakit Hatiku, dan Sayang.

Trosta mengaku tidak mempunya strategi digital khusus untuk membuat Via Vallen menjadi viral.

"Alhamdulillah dari lagu 'Sayang' itu responnya luar biasa. Digital tidak ada strategi khusus, kami lempar-lempar saja," kata dia.

Via dan Ascada juga sepakat menjaga image dengan gaya pakaian yang tidak seronok. "Ke depan kami tetap ingin membuat Via Vallen sebagai Ratu Koplo Indonesia," kata Trosta.

Meski sangat populer di dunia online, pemasukan terbesar Via Vallen masih berasal dari honor pentas. Setiap pekan, Via bisa pentas lima sampai enam kali.

Tarif manggungnya mencapai Rp175 juta per jam, untuk menyanyikan tujuh sampai delapan lagu. "Tapi harga ini untuk acara non politik. Untuk acara politik, kalikan dua saja," kata dia.

Pengamat musik Idhar Resmadi melihat fenomena Via Vallen dan Nella Kharisma sebagai akibat dari sensasi viral media sosial.

Dia melihat ada persamaan antara kepopuleran Via Vallen dan meroketnya nama Inul Daratista pada awal 2000-an.

"Mereka masih menjual lagu yang menggambarkan kondisi kelas menengah ke bawah, tetap dengan lirik picisan tentang selingkuh, percintaan, perselingkuhan," kata Idhar.

Dangdut pun tetap sebagai musik kelas menengah ke bawah. "Sejak era Inul, dangdut tidak pernah jauh dari teman-tema seperti itu," kata dia. Kondisi ini berbeda dengan dangdut pada era Rhoma Irama yang menyanyikan lirik soal isu moral dan politik.

Perbedaannya dengan dangdut pop yang diusung Via Vallen adalah pada medianya. "Di era Inul, dia berkembang dari kampung ke kampung, dan jadi populer karena VCD dan DVD bajakan yang mewabah," kata Idhar.

Dangdut dan hak cipta

Di balik sorot lampu kepopuleran Via Vallen dan Nella Kharisma, ada grup dangdut hip hop dari Yogyakarta, NDX A.K.A.

NDX tak punya jutaan penonton di Youtube seperti Via Vallen atau Nella Kharisma, tapi banyak lagu-lagu NDX dinyanyikan ulang oleh kedua pedangdut perempuan itu. Lagu Sayang, misalnya, sempat jadi polemik soal siapa "pemilik" aslinya, Via Vallen atau NDX.

"Lagu itu dibuat oleh Pak Anton Obama, memang meniru lagu Jepang. Saya menciptakan rapnya. Via Vallen kemudian ambil saja rap dan lagunya," kata Yonanda Frisna Damara, vokalis sekaligus pencipta lagu-lagu NDX kepada BBC Indonesia, seraya merujuk lagu yang dinyanyikan Kiroro dari Jepang.

"Kami sempat sakit hati karena kenapa kami tidak dihargai. Dulu waktu lagu 'Sayang' mulai booming, kami pernah dilarang menyanyikannya di salah satu stasiun televisi karena mereka bilang itu lagu Via Vallen," kata Yonanda.

Selain Sayang, semua lagu yang dinyanyikan NDX diciptakan sendiri oleh Ananda. Misalnya, Kimcil Kepolen yang dinyanyikan Via Vallen telah disaksikan 35 juta kali di Youtube. Lagu Kelingan Mantan dinyanyikan Nella Kharisma, telah dimainkan 32 juta kali di Youtube.

Yonanda maupun NDX tak pernah menerima royalti maupun sekadar pemintaan izin dari pihak lain untuk menyanyikan lagu-lagu ciptaan NDX. "Tanpa royalti, bahkan disebut saja tidak," kata dia.

Meski demikian, dia menyatakan tak akan berusaha menggugat.

"Kami prinsipnya dulu cuma senang-senang, curhatan hati pembawa rezeki. Tapi ternyata semakin dalam masuk dunia musik semakin jahat," kata Nanda.

Apalagi, selama ini dia pernah dicurangi oleh tiga label rekaman, hingga saat ini dia memilih untuk melanjutkan bermusik di jalur indie.

Dangdut hip hop, dangdut elektronik

Tak hanya digabungkan dengan pop, dangdut juga dicampur dengan musik genre lain seperti hip hop dan elektronik.

NDX A.K.A adalah salah satu contoh band yang sukses menggabungkan dangdut dengan hip hop. Konser mereka di kota-kota di Jawa bisa dihadiri 20 hingga 30 ribu orang yang turut menyanyikan lagu-lagu dengan judul semacam Kangen Mantan, Oplosan, atau Tewas Tertimbun Masa Lalu.

Yonanda Frisna Damara dan Fajar Ari, kedua pendiri NDX, sebelumnya adalah laden(pelayan) kuli bangunan. Mereka putus sekolah pada kelas 1 SMA dan bekerja serabutan, jadi tukang parkir tukang, jual terompet.

"Kami dulu orang nggak punya, cari cinta susah. Kami diejek, wah ming wong kere (ah, cuma orang miskin). Sakit hatinya kami dilampiaskan jadi lagu. jadilah lagu NDX adalah kisah nyata kita semua," kata Yonanda, vokalis NDX.

Lirik yang jujur dan apa adanya itu yang justru menjadi kelebihan NDX. "Mereka potensinya bagus karena menggabungkan hiphop dengan dangdut, berbahasa Jawa, dengan lirik yang mewakili anak muda zaman sekarang, seperti tema galau, patah hati, mau beli motor bagus tidak punya uang," kata Heru Wahyono, vokalis grup Shaggydog, kepada BBC Indonesia.

"Image NDX keren dan santai, masih muda, band yang dibuat tanpa tujuan apa-apa," kata Heru.

Shaggydog, band dari Yogyakarta yang aktif selama 21 tahun terakhir, berkolaborasi dengan NDX dalam lagu berjudul Ambilkan Gelas.

Heru menjelaskan bahwa dengan kolaborasi tersebut, NDX yang mulanya lekat dengan anak-anak muda kelas menengah ke bawah, menjadi makin diperhitungkan di luar basis fans awalnya.

"Shaggydog bersama NDX itu sesuatu yang menarik karena kami benar-benar berbeda, satu ska reggae yang satu dangdut," kata Heru.

Yonanda Frisna Damara, pendiri NDX, mengakui bahwa mereka melewati perjalanan panjang karena tidak mudah membuat musiknya diterima.

"Dulu NDX dikucilkan, banyak yang mengejek, NDX itu apa? Enggak jelas musiknya, wong ndeso. Setelah dirangkul Shaggydog, band legendaris Jogja yang dianut sama komunitas musik jogja, sekarang NDX mulai diterima," kata dia.

Kini, untuk sekali pentas selama satu jam, NDX dibayar antara Rp 40 hingga 70 juta.

Tapi ambisinya tak berhenti di situ. "Kami nggak mau berhenti di hip hop dangdut, mau tambah genre hip hop dangdut dan trap tapi Jawa," kata dia.

Heru Wahyono sendiri, selain bersam Shaggydog, punya grup dangdut pantura bersama Barokka yang dimulainya sejak 2014. Barokka adalah campuran antara dangdut dengan musik lain, seperti elektronik dan rap.

Dia mengaku terinspirasi dari tren global di mana anak-anak muda menggabungkan musik lokal mereka dengan musik modern. Di Brazil ada favela, di Jamaika ada dance hall, dan digabungkan dengan musik modern, seperti EDM.

"Jadi kenapa saya tidak menggambungkan musik Indonesia sendiri, dalam hal ini dangdut sebagai musik dance rakyat, dengan musik elektronik kekinian," kata Heru.

Heru tengah menyiapkan single baru Barokka, kali ini lagu dangdut yang dicampur dengan rap. "Dangdut biasanya liriknya seputar cinta, skandal, harta, tahta, jadi kali ini saya membuat lagu dengan lirik sosial politik," kata dia.

Akankah bertahan?

Penulis musik Idhar Resmadi memprediksi Via Vallen, Nella Kharisma maupun NDX A.K.A tidak akan membuat genre musik baru yang jadi fenomena besar.

"Karakter musik sekarang memang hibrid, tapi tetap di Indonesia musik yang besar hanya pop dan dangdut," kata dia.

Setelah tahun 2010-an, banyak pemusik yang mengeksplorasi musik-musik asli Indonesia. "Ada metal sunda, hip hop Jawa, keroncong orkes, mereka menjadi fenomena saja tapi tidak akan menjadi besar," kata dosen Universitas Telkom ini.

Meskipun dia mengakui bahwa Via Vallen dan Nella Kharisma membuat orang yang tadinya tidak mau mendengarkan dangdut menjadi ikut bernyanyi setiap lagu Sayang diputar di radio, tapi itu tidak akan membuat mereka menjadi penggemar dangdut.

"Banyak anak muda yang mendengar dangdut untuk bercandaan dan hiburan saja tapi mereka tidak akan mengklaim diri sebagai dangduters, atau pergi nonton dangdut dari panggung ke panggung," kata dia.

Adapun Heru Wahyono merasa lebih optimistis dengan perkembangan generasi baru dangdut yang dimotori oleh para musisi yang mencampurkan dangdut dengan genre lain.

"Ini masih akan berlanjut menjadi generasi baru dangdut, setelah Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, generasi sekarang lebih bervariasi," kata Heru.

Menurutnya, media sosial akan jadi pendorong bagi pertumbuhan musik ini. "Karena dangdut adalah musiknya rakyat," kata dia.

Tantangan untuk pemusik adalah bagaimana membuat dangdut gaya baru ini naik kelas dan bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. "Bisa naik kelas tergantung produser, manajemen bagaimana mengolahnya," kata dia.