Umpatan 'bunuh menteri' disebut efek pawai obor 'bunuh Ahok'

YOUTUBE

Sumber gambar, YOUTUBE

Video demonstrasi belasan hingga puluhan anak dan remaja yang mengenakan sarung dan kopiah beredar viral di media sosial sejak akhir pekan lalu.

Membentangkan spanduk penolakan terhadap Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 23/2017 yang mengatur sistem lima hari sekolah atau full day school, mereka menyanyikan lagu anak Menanam Jagung yang diubah liriknya.

"Bunuh, bunuh, bunuh menterinya, bunuh menterinya sekarang juga," ujar anak-anak itu dalam video.

Sejumlah pihak percaya aksi itu dilakukan santri-santri dari Nahdlatul Ulama dalam aksi protes full day school pada 7 Agustus di Lumajang, walau NU membantahnya dan menyebut ada pihak yang ingin menyudutkan organisasi Islam itu.

Terlepas dari identitas pengunjuk rasa, pakar psikologi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Amitya Kumara menilai kejadian tersebut tidak terlepas dari pawai obor di Jakarta, Mei silam, yang diwarnai umpatan 'bunuh si Ahok'.

"Kalau anak dihasut terus-menerus, hal seperti ini akan menjadi kebiasaan baru karena tidak ada teguran atau sanksi. Kelakuan ini mudah melebar, isunya bergeser, dulu Ahok sekarang menteri," ujar Amitya kepada BBC Indonesia, Selasa (15/08).

Menurut Amitya, remaja cenderung bertindak tanpa pikir panjang. Para pedemo yang meneriakkan 'bunuh menteri', menurutnya tidak menganalisis substansi persoalan, termasuk pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut full day school tidak wajib diterapkan semua sekolah.

"Mereka adalah remaja yang tidak punya kemampuan untuk menyaring dan menganalisis duduk persoalan. yang penting agresif. Usia segitu mudah dipicu isu yang superficial," kata Amitya.

Untuk menghentikan fenomena seperti itu, Amitya menyebut seluruh pihak perlu mengambil peran. Pendidikan karakter yang konsisten menurutnya merupakan kunci memperbaiki perilaku sosial remaja.

"Sebuah aktivitas harus ada konsekuensi. Mengajari karakter tidak dengan hukuman atau disiplin kaku, tapi persistence, pemaknaan dan refleksi," ucapnya.

Lirboyo

Sumber gambar, Getty Images/Ulet Ifansasti

Keterangan gambar, NU menolak program full day school karena menilai kebijakan itu akan berdampak negatif ke berbagai pondok pesantren.

Dalam sejumlah laporan, Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini menyebut para remaja dalam video itu bukanlah santri-santri dari lembaganya yang mengikuti demonstrasi Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia. Helmy menduga sejumlah pihak ingin mengambinghitamkan NU melalui video itu.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet Pramono Anung berharap kepolisian menindaklanjuti dugaan ujaran kebencian 'bunuh menteri'. Ia berkata, video itu berisi peristiwa nyata alias bukan hoax.

Tak hanya itu, Pramono menyebut pendidikan karakter vital untuk menjauhkan anak-anak dari kebencian terhadap seseorang maupun kelompok tertentu.

"Kita juga harus memberikan pendidikan kepada anak-anak untuk tidak membenci kemudian melakukan tindakan yang berlebihan," ujar Pramono kepada pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa siang.