Kenapa sulit sekali mengalahkan Leicester City?

Vardy Mahrez

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Leicester mengandalkan kecepatan para pemainnya seperti Mahrez dan Vardy.

Leicester City baru kalah 2 kali dari 25 pertandingan Liga Primer musim ini, dan ini disebabkan karena mereka berpegang pada kekuatan utama mereka.

Leicester menggunakan taktik serangan balik dan formasi 4-4-2, tapi tak banyak yang bahkan tak mencoba menaklukkan formasi itu.

Banyak tim yakin bisa mengalahkan Leicester dengan taktik mereka sendiri ketimbang mengantisipasi taktik Leicester.

Ini disebabkan tim modern saat ini beranggapan 4-4-2 adalah taktik kuno, tapi Leicester memperlihatkan dengan sistem yang benar, para pemain bisa memainkannya dengan sempurna.

Kunci utamanya adalah pada tim pelatih dan penyempurnaan pada saat latihan, tapi <link type="page"><caption> kecerdasan para pemain sangat penting</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/olahraga/2016/02/160210_olahraga_leicester_cerdas" platform="highweb"/></link>, terutama ketika mereka harus bertahan ketika kehilangan bola.

Serangan balik

Simpson Mahrez

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, Danny Simpson dan Riyad Mahrez (tengah) disamakan dengan Gary Neville dan David Beckham.

Leicester tidak terlalu peduli pada penguasaan bola. Rata-rata penguasaan bola mereka hanya 41%, yang terendah di antara tim yang sekarang menghuni 5 posisi teratas klasemen.

Jumlah umpan per pertandingan juga rendah, hanya peringkat kedua terbawah, 336 umpan per pertandingan, dengan akurasi 69% yang merupakan peringkat terendah di liga.

Namun pertahanan mereka baik, tak memainkan bola terlalu lama dan langsung maju ke depan dengan kecepatan pemain-pemain mereka, untuk menghukum tim lawan.

Mereka sering kehilangan bola karena ingin bermain cepat, dengan umpan jauh dari sepertiga lapangan mereka sendiri.

Untuk megalahkan Leicester, tim lawan perlu bermain bertahan, menumpuk pemain di belakang sehingga tak ada ruang bagi pemain Leicester menggunakan kecepatan mereka.

Leicester bukan satu-satunya tim yang menggunakan taktik serangan balik di Liga Primer. West Ham dan Crystal Palace juga sukses menerapkan taktik ini.

Kompak

Claudio Ranieri

Sumber gambar, epa

Keterangan gambar, Claudio Ranieri paling sedikit mengubah susunan pemain timnya.

Namun hanya tim yang berjuluk The Foxes ini yang mampu secara konsisten memainkannya.

Leicester juga tak banyak mengubah susunan pemain, membuat mereka bermain dengan sangat kompak.

Pasangan Danny Simpson dan Riyad Mahrez di sisi kanan mirip dengan duet Gary Neville dan David Beckham di masa kejayaan Manchester United. Keduanya bisa berbagi peran dengan amat baik dalam meyerang dan bertahan.

Manajer Claudio Ranieri menunjuk pemain yang sama dalam lima laga terakhir, dan hanya 21 kali mengubah susunan pemain dari 25 pertandingan - yang terendah di Liga.

Ini membuat tim makin menyatu dan punya saling pengertian yang baik.