Mayweather mengendalikan pertandingan

Sumber gambar, AFP
- Penulis, Ben Dirs
- Peranan, BBC Sport di Las Vegas
Pertarungan yang ditunggu-tunggu akhirnya terjadi di Las Vegas. Namun bila pertandingan itu disebut 'Pertarungan abad ini' kita beruntung bahwa masih tersisa 85 tahun lagi dalam abad ini.
Banyak yang berpikir bahwa pertandingan Floyd Mayweather vs Manny Pacquiao akan berat sebelah. Tapi tidak ada yang menyangka pertandingan akan menjadi sangat sepihak.
Mayweather melakukan apa yang selalu dia lakukan dengan membuat pertandingan terlihat mudah, dan akhirnya mencapai hasil yang bulat tanpa banyak banyak bicara.
Evander Holyfield membenarkan bahwa sensasi saja tidak menjamin pertandingan berlangsung hebat.
Ayah dan pelatih Mayweather, Floyd Sr, mengatakan: "Dia hampir terlalu bagus untuk kebaikannya sendiri."
Jadi sementara mantan dan pelatih tinju menghormati kejeniusan Mayweather, kritik dilancarkan para pengguna media sosial dengan menyebut pertandingan itu membosankan. Bahkan kemarahan muncul dari mereka yang merasa tertipu.
Seseorang yang dianggap jenius oleh sebagian orang tampaknya dianggap pengecut oleh sebagian orang lainnya.

Sumber gambar, Getty
“Saya pikir dia dapat lari dengan baik,” gurau pelatih Pacquiao Freddie Roach. Candaan tersebut tidak serius. Sebagai seorang yang meraih gelar 'Pelatih terbaik tahun ini' sebanyak tujuh kali, ia dapat mengenali kehebatan seorang petinju.
Mayweather bahkan tidak perlu mengeluarkan semua kekuatannya.
Untuk sebagian besar pertarungan, ia cukup melakukan jab dan pukulan menyilang. Hanya ketika Pacquiao menjadi bak banteng terluka dalam beberapa putaran terakhir, si petinju Amerika tersebut menggunakan gerakan check hook dan uppercut.
Tidak agresif
"Saya pikir Manny seharusnya memenangkan banyak ronde karena ia menyerang terus," kata Roach. Namun bertindak agresif tanpa strategi belum cukup untuk memenangkan pertandingan tinju.
Lagipula, Pacquiao tidak cukup agresif. Mayweather benar-benar mengeluarkan pukulan lebih banyak - 435-429 - dan mendaratkan 39% dari itu, dibandingkan dengan 19% untuk lawannya. Tetapi karena Mayweather cenderung memukul ketika sedang bertumpu pada kaki belakangnya, penonton tertipu dan menganggapnya membuat pertandingan menjadi tidak seru.
Persis seperti apa rencana hebat kebanggaan Roach sulit untuk dipahami. Maju dengan lurus dan tidak menyerang dari sudut, Pacquiao terbukti terlalu mudah untuk dipukul. Mayweather berhasil mendaratkan 67 jab, sedangkan Pacquiao 18.

Sumber gambar, Getty Images Sport
Setelah itu, Pacquiao mengaku bahu kanannya cedera di babak ketiga. Ia mengatakan telah menyembunyikan cedera tersebut selama tiga minggu, sehingga orang-orang berhak bertanya mengapa mereka menghabiskan uang mereka untuk melihat Mayweather bertanding melawan seorang pria yang terluka.
Namun mengingat bahwa laga itu ditunggu-tunggu selama lima tahun dan skala besar pertarungan tersebut, sangat tidak terbayangkan bahwa pertarungan mungkin dapat dibatalkan.
Apakah seorang Pacquiao yang sehat akan menjadi lawan yang sepadan dapat diperdebatkan. Harus diakui bahwa Mayweather memegang semua keunggulan – ia lebih besar, gesit dan dengan jangkauan yang lebih panjang, ia nampak lebih kuat dari lawannya.
Tambahkan faktor pengetahuan tinju yang superior milik Mayweather and jelas bahwa Pacquaio tidak memiliki kesempatan menang.
“Banyak orang yang mencari sensasi dan kecewa ketika tidak mendapatkannya,” kata petinju legendaris Lennox Lewis, yang juga pernah dituding membosankan. Tepatnya karena Mayweather memiliki keahlian yang luar biasa dan sangat perhitungan, maka pertarungan tersebut tampak biasa.
Membosankan
Oscar De La Hoya, enam kali pemenang gelar dunia yang sangat mengetahui sisi teknis tinju, merasa bosan melihat performa Mayweather.
“Panggil saya kuno tapi saya suka menonton pertarungan penuh aksi,” kata De La Hoya, yang pernah dikalahkan kedua petinju kemarin.
“Saya kurang menyukai gaya bertinju sambil berlari itu. Saya suka antusias melihat pertarungan yang seru.”
Bila De La Hoya tidak menghargai Mayweather, tidak mengherankan bahwa orang yang membayar hampir $100 atau Rp1,3 juta di AS, atau bangun jam 4 subuh di Inggris, heran dengan laga yang mereka tonton.
Beberapa penonton mungkin belum menyaksikan laga tinju selama bertahun-tahun. Banyak dari mereka mungkin menonton untuk pertama kalinya. Banyak juga penonton yang berharap untuk melihat sebuah pertarungan sengit seperti film Rocky, karena tinju memang seperti itu bukan? Sebenarnya, jarang.
Jadi walaupun sebelum ini pertanding akbar tersebut dianggap sebagai pengaruh positif untuk dunia tinju, kenyataannya mungkin berbeda.
Dengan kedua petarung tersebut mengantongi beberapa ratus juta dollar diantara mereka, pertandingan itu merupakan berita besar bagi mereka serta orang-orang dibelakang mereka. Namun berapa dari penggemar baru dan penggemar awam akan balik menonton laga lainnya?
Penikmat olahraga apapun memang sedikit, sedangkan yang lebih antusias (dalam menghabiskan uang) biasanya adalah penggemar yang kasual.
Ini bukan merupakan kesalahan Mayweather. Mengapa ia harus bertinju dengan gaya lain bila tidak diperlukan? "Saya percaya dalam melalui hukuman sesedikit mungkin," telah menjadi mantra Mayweather. Masuk akal bagi saya.
Namun 20 tahun yang lalu Mayweather akan menjadi salah satu dari banyak petinju dalam divisi kelas welter.
Kurang bintang
Pernell Whitaker, seorang ahli pertahanan lainnya, saat itu dicemooh karena terlalu negatif dan tidak pernah menghasilkan uang seperti yang dilakukan Mayweather. Namun Mayweather telah menjadi mesin pencetak uang karena kurangnya alternatif.

Sumber gambar, AFP
Bintang Hollywood Clint Eastwood dan Robert DeNiro serta penyanyi Prince siap mengeluarkan ribuan dolar untuk menyaksikan Mayweather melawan Pacquaio, namun apakah mereka siap untuk melakukan itu untuk menyaksikan petinju lain?
Mungkin tidak, karena dunia tinju sedang menderita dengan kurangnya bintang tinju dengan daya tarik magnet.
Pacquiao – seorang anggota kongres di Filipina, walaupun sudah absen untuk berapa lama – telah berjanji untuk terus bertinju. Tidak tertera klausul pertandingan ulang dalam kontrak laga kemarin, dan ditambah ketidakseimbangan pertarungannya, mungkin tidak akan terjadi pertandingan ulang. Mayweather, yang belum terkalahkan dalam 48 pertandingan profesional terakhir selama 19 tahun, mengumumkan bahwa ia akan bertinju untuk terkahir kalinya sebelum pension. Namun bila ia mengincar kesuksesan petinju Rocky Marciano yang tidak pernah kalah dalam 49 bertandingan berturut-turut dan rencana dibukanya arena tinju baru di Las Vegas, ia tentu akan tergiur untuk tetap bertinju – yang akan menjadi berita baik untuk pentinju Amir Khan asal Inggris.
Mayweather Sr menginginkan putranya pensiun setelah ini.
“Ia tidak perlu membuktikan apapun, ia sudah melakukan itu semua,” katanya. “Namun karena ia sangat hebat, orang-orang tidak menghargainya.”
Mungkin ketika ia sudah tua dan renta – dan berhenti berbicara tentang uang – Mayweather akan diapresiasi karena bakat tinjunya.
Minggu ini merupakan minggu yang menarik di Las Vegas ketika tinju menjadi olahraga terbesar di dunia – seperti masa-masa lalu. Namun terdapat juga pertanyaan yang menganjal: akankah kita melihat masa jaya itu terulang kembali?









