Tiga alasan buruknya penampilan Manchester City

Sergio Aguero

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Sergio Aguero dan kawan-kawan tak berdaya menghadapi Manchester United di Old Trafford.

Manchester City menelan empat kekalahan di enam pertandingan di Liga Primer sejauh ini, yang terakhir dikalahkan Manchester United 4-2, hari Minggu (12/04).

City tak berdaya dan mencatat 1-0 dari Liverpool, 1-0 oleh Burnley, dan 2-1 <link type="page"><caption> ketika bertandang ke kandang Crystal Palace</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2015/04/150406_crystalpalace_mancity.shtml" platform="highweb"/></link>.

Mantan pemain United, Phil Neville, yang kini menjadi analis sepak bola untuk BBC, mengatakan setidaknya ada tiga alasan <link type="page"><caption> kekalahan City dari United di Old Trafford</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2015/04/150412_manumancity_chelseaqpr.shtml" platform="highweb"/></link>.

Alasan pertama adalah buruknya kerja sama City secara tim.

"Secara mengejutkan manajer Manuel Pellegrini memasukkan James Milner, bukan bekerja sama dengan Yaya Toure dan Fernandinho, tapi mengawal dan mencoba mematikan pemain United, Michael Carrick," kata Neville.

Tidak ada semangat juang

Strategi ini sempat efektif, tapi kemudian menjadi bumerang karena lapangan tengah praktis dikuasai oleh para pemain United.

Alasan kedua adalah kegagalan City untuk bangkit setelah United menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

"Begitu papan skor menjadi 1-1, para pemain City kehilangan disiplin ... mereka kacau dan tak bisa membendung serangan-serangan lawan," kata Neville.

Yang ketiga, menurut Neville, adalah lemahnya organisasi dan tiadanya semangat juang yang tinggi.

"Seolah-olah tidak ada pemain yang bertekad untuk membantu satu sama lain dan mencoba memenangkan pertandingan," katanya.

"Dan itulah sebabnya mereka tampil buruk, mencatat kekalahan keenam dari delapan pertandingan di semua kompetisi," tegas Neville.