Piala Afrika terancam digelar di Qatar

Sumber gambar, AFP
Setelah batal digelar di Maroko, lalu dipindah ke Guinea Khatulistiwa, Piala Afrika amat mungkin kembali berganti tuan rumah. Kali ini, turnamen sepak bola dua tahunan itu terancam digelar di Qatar. Kekhawatiran penularan virus Ebola menjadi penyebabnya.
Kepada BBC, Sekretaris Jenderal Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) Hicham El Amrani mengatakan pihaknya serius mempertimbangkan untuk memindahkan penyelenggaraan Piala Afrika di Timur Tengah.
Bahkan, menurutnya, tawaran Qatar untuk menjadi tuan rumah ajang itu akan diterima jika Guinea Khatulistiwa menolak untuk kembali menggelarnya mengingat negara tersebut telah menjadi tuan rumah pada 2012 lalu.
Negara penyelenggara Piala Afrika tahun ini sejatinya adalah Maroko. Namun, <link type="page"><caption> Maroko meminta CAF untuk menunda</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2014/10/141011_ebola_piala_afrika" platform="highweb"/></link> perhelatan lantaran khawatir dengan penularan virus Ebola. Permintaan itu lantas ditolak CAF.
<link type="page"><caption> CAF kemudian mencabut hak Maroko</caption><url href="www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2014/11/141111_maroko_piala_afrika" platform="highweb"/></link> untuk menjadi tuan rumah dan menyerahkannya ke Guinea Khatulistiwa. Negara bekas jajahan Spanyol itu memiliki empat stadion yang bisa digunakan sebagai tempat berlaga, yakni Stadion Bata, Malabo, Ebebiyin, dan Mongomo.
Soal tim unggulan, Aljazair dan Tunisia dijagokan untuk menjadi juara Piala Afrika kali ini. Lalu, meskipun Nigeria tidak masuk kualifikasi, masih ada enam tim dari kawasan Afrika Barat yang pantas diperhitungkan, yakni Ghana, Guinea, Pantai Gading, Mali, Senegal, dan Burkina Faso.
Dalam dua kali ajang Piala Afrika terakhir, Mali meraih medali perunggu. Adapun Ghana masuk empat besar pada 2012 lalu.





