Hadapi Liverpool, MU didukung statistik

Sumber gambar, John Peters
Lima kemenangan beruntun di Liga Primer menjadi modal manajer Manchester United, Louis van Gaal, saat anak-anak asuhannya menghadapi para pemain Liverpool di Stadion Old Trafford, Minggu (14/12) waktu setempat.
Meski mengungguli lawan-lawannya dengan skor tipis—kecuali saat menundukkan Hull City 3-0—Manchester United memiliki catatan apik dengan memetik 15 poin sekaligus menempati peringkat tiga Liga Primer.
Apalagi lima kemenangan beruntun tersebut merupakan pengalaman pertama bagi kubu ‘Setan Merah’—julukan Manchester United—sejak Sir Alex Ferguson pensiun.

Sumber gambar, empics
Hal itu tidak lepas dari sentuhan Louis van Gaal dan sejumput keberuntungan. Tengok saja data pertandingan antara <link type="page"><caption> MU dan Southampton</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2014/12/141208_southampton_manchester_united" platform="highweb"/></link>, 8 Desember lalu.
Berdasarkan catatan lembaga statistik olahraga, Opta, Robin van Persie dan kawan-kawan hanya melepaskan tiga tembakan ke arah gawang Southampton.
Jumlah itu ialah yang paling sedikit dalam sebuah pertandingan Liga Primer sejak Opta mulai mencatat pada Agustus 2003 lalu.
Lebih lanjut, para pemain MU hanya menyentuh bola sebanyak enam kali di kotak penalti lawan. Bandingkan dengan para pemain Southampton yang menyentuh bola sebanyak 32 kali di kotak penalti MU.
Liverpool
Berbanding terbalik dengan MU, Liverpool memiliki rekor buruk baik di Liga Primer maupun di Liga Champions.
Dari lima pertandingan terakhir di Liga Primer, ‘The Reds’—julukan Liverpool—cuma sanggup mencetak satu kemenangan. Sisanya berakhir dengan dua imbang dan dua kalah.
Kemudian di Liga Champions, Steven Gerrard dan teman-teman harus angkat kaki setelah hanya mampu bermain <link type="page"><caption> seri 1-1 dengan Basel</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2014/12/141209_hasil_ucl_liverpool_arsenal" platform="highweb"/></link>.
Kedukaan yang menurunkan mental juang para pemain ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi manajer Brendan Rodgers menjelang laga di Old Trafford.

Sumber gambar, Getty
Apalagi, Liverpool punya catatan buruk saat bertandang di kandang lawan. Dari tujuh laga tandang, Liverpool telah kebobolan 13 gol dengan rata-rata 1,87 gol per pertandingan. Hanya Queens Park Rangers yang punya catatan lebih buruk dengan kebobolan 17 gol atau rata-rata 2,4 gol per laga.
Fakta itu mengundang kritik mantan pemain Liverpool, Mark Lawrenson. Pengamat sepak bola untuk BBC itu mengaku tidak paham dengan strategi yang dijalankan <link type="page"><caption> Brendan Rodgers</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2014/12/141209_olahraga_brendan_rodgers" platform="highweb"/></link>.
“Sejujurnya, Liverpool saat ini berantakan. Mereka tanpa arah, tingkat percaya diri mereka rendah, dan sepertinya tidak punya cara bermain yang jelas,” kata Lawrenson.









