Akhir era kejayaan Federer kian dekat?

Roger Federer
Keterangan gambar, Roger Federer melambaikan tangan ke arah penonton setelah kalah tiga set langsung.
    • Penulis, Mohamad Susilo
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Roger Federer mengikuti <link type="page"><caption> jejak Rafael Nadal</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2013/06/130624_nadal_wimbledon.shtml" platform="highweb"/></link> sebagai petenis papan atas dunia yang tersingkir di babak awal Wimbledon 2013.

Sepintas nasib Federer lebih baik karena petenis Swiss ini <link type="page"><caption> kalah di putaran kedua</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2013/06/130627_roger_federer_wimbledon.shtml" platform="highweb"/></link> sementara Nadal, yang baru saja menjuarai turnamen Grand Slam Prancis Terbuka, langsung tersingkir di putaran pertama.

Tapi efek kejut yang ditimbulkan Federer jauh lebih besar.

Federer adalah juara Wimbledon tujuh kali dan dikenal sebagai petenis terbaik di lapangan rumput, jenis lapangan yang dipakai di Wimbledon.

Tapi di putaran kedua yang digelar Rabu sore (26/06) di London Federer kalah baik dari sisi teknik maupun fisik dari lawannya, Sergiy Stakhovsky, dalam pertandingan tiga set langsung, 6-7, 7-6, 7-5, 7-6, dalam waktu tiga jam.

Begitu Stakhovsky mendapatkan poin terakhir di set ketiga, selama beberapa detik seluruh penonton yang hadir seakan terdiam, baru kemudian serentak bertepuk tangan untuk kedua pemain.

Masih ingin bertenis

Sementara Stakhovsky masih belum bisa percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan, Federer berjalan menuju pinggir lapangan, mengemasi tas besar berisi raket dan pakaian, dan berjalan sambil menundukkan kepala.

Tidak ada lagi senyum khas dan sorotan mata tajam tanda kebanggaan.

Dalam keterangan pers, Federer mengatakan, "Saya punya momen hebat, yang layak dikenang, tapi juga punya masa-masa sulit seperti ini. Anda tak bisa selalu terus menerus punya momen hebat kan?"

"Apa yang Anda lakukan setelah mencatat kekalahan? Yang pasti tak perlu panik. Anda harus berlatih lagi, dengan lebih keras," kata Federer.

Apakah kekalahan di putaran kedua ini sekaligus mengakhiri era Federer di panggung tenis dunia, tanya para wartawan.

Federer terdiam sejenak.

Lantas ia menjawab, "Tidak. Saya masih berencana menekuni tenis selama beberapa tahun ke depan. Bagi saya kekalahan ini normal saja. Tapi bagi orang lain tidak karena saya selalu bisa mencapai perempat final di 36 turnamen besar."

Roger Federer
Keterangan gambar, Roger Federer telah tujuh kali menjuarai Wimbledon.

Federer tentu boleh saja berencana untuk terus bermain hingga beberapa tahun nanti.

Akurasi dan konsistensi

Tapi tanda-tanda bahwa ia tidak sebaik dulu juga mulai terlihat jelas dalam pertandingan melawan Stakhovsky, petenis yang menempati peringkat 113 di bawah Federer.

Federer masih bisa bergerak cepat namun tidak seindah dulu ketika ia mengatur irama kakinya bak seekor rusa.

Apakah karena faktor usia?

Mungkin saja karena pada Agustus nanti Federer genap berusia 32 tahun.

Penempatan dan pengembalian bolanya juga tidak seakurat dan sekonsisten dulu.

Para penggemar Federer bisa beralasan bahwa kekalahan ini hanya 'kecelakaan' dan berharap Federer akan bangkit lagi.

Tapi melihat penampilannya di Wimbledon kali ini dan beberapa <link type="page"><caption> pertandingan lain sebelumnya</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2010/07/100701_federer.shtml" platform="highweb"/></link>, mungkin harapan itu kian sulit diwujudkan.