Barry Davies, Susi Susanti dan Barcelona 1992

Terbaru  26 Juli 2012 - 15:21 WIB
Susi

Barry Davies sangat terkesan menonton permainan Susi Susanti.

Komentator BBC Barry Davies yang meliput Olimpiade sejak Olimpiade Meksiko 1968 menceritakan salah satu peristiwa paling berkesan selama 44 tahun meliput Olimpiade adalah Olimpiade Barcelona 1992 ketika Indonesia mendapat emas pertama dalam sejarah lewat Susi Susanti.

Saya baru saja selesai menjadi komentator cabang gimnastik ketika harus segera mengomentari final tunggal putri bulutangkis. Saya tak cukup punya waktu untuk pemanasan--untuk menyerap semua informasi yang saya perlukan.

Craig Reddie, salah seorang yang memainkan peran penting agar bulutangkis masuk menjadi olahraga Olimpiade, menjadi rekan komentator saya.

Saya tak mempunyai kualifikasi apapun terkait bulutangkis. Namun bulutangkis bukan hal yang asing. Seperti orang lain saya juga pernah bermain, walau tidak untuk klub maupun tingkat kompetisi.

Bulutangkis menjadi bagian hidup kewartawanan saya tahun 1978. Sebuah wawancara dengan Gillian Gilks, peringkat satu putri dunia saat itu, membawa saya meliput bulutangkis di olahraga persemakmuran di Edmonton, Kanada. Sejak itu bulutangkis menjadi salah satu cabang yang rutin saya komentari.

Untuk Barcelona saya beruntung ditemani oleh Craig, seorang pakar bulutangkis, mantan presiden asosiasi bulutangkis dunia dan anggota Komite Olimpiade Internasional dari Inggris.

Ia sangat ingin badminton yang baru untuk pertama kalinya dipertandingkan di Olimpiade ini menuai sukses. Sebelum pertandingan dimulai dan kami baru saja duduk di kursi komentator, ia dalam penilaian saya sudah 30% tidak bisa menguasai diri. Terlalu campur aduk perasaannya.

Dan dihadapan kami tampil bintang putri Indonesia setinggi 165 cm, Susi Susanti. Ia sepertinya tak terbendung untuk meraih kemenangan gemilang.

Semakin lama pertandingan berlangsung, Craig semakin tak bisa menguasai diri. Dalam beberapa hal saya mencoba untuk menarik dirinya agar lebih berjarak dalam melihat pertandingan. Saya ingin ia menjelaskan kepada kami dan pemirsa mengapa Susi Susanti unggul dari pemain Korea yang menjadi lawannya.

Tak ada kesempatan kedua

Saya kira tak banyak orang tahu bahwa ada perbedaan besar antara menjadi presenter atau pewancara, yang tentu saja saya nikmati, dengan menjadi komentator. Terutama sekali kalau siaran langsung: Anda tak mempunyai kesempatan kedua.

Kalau sepakbola, saya akan berkomentar sesuka saya. Saya mengerti olahraga ini. Tetapi dengan olahraga yang saya tidak terlalu akrab, saya akan lebih hati-hati atau menanyakan ke rekan komentator pasangan saya. Saya selalu mengatakan kalau yang saya sampaikan menurut mereka tidak berisi atau mereka tidak setuju, lebih baik mereka mengatakannya. Saya tidak ingin memberi gambaran yang salah akan olahraga yang saya komentari.

Tidak ada olahraga yang sama: hoki es, hoki dan sepakbola misalnya. Semuanya menuntut gol tetapi semuanya mempunyai tuntutan dan kualitas permainan sendiri-sendiri.

Dari belasan olahraga yang saya komentari di Olimpiade, saya memperlakukannya sama, sebagai sebuah entitas mandiri dan unik.

Kalau mengingat saat itu, Craig selalu mengatakan bahwa saya memberinya catatan kecil bertuliskan ''taktik'' dan kata makian, untuk mengingatkan bahwa kita berdua menjadi komentator. Saya tidak ingat menulis kata makian itu, tetapi saya memang mengingatkannya untuk tidak menjadi terlibat secara emosional.

Namun pada akhirnya saya sama terlibatnya seperti dia. Semua orang, bukan saya saja. Susi memenangkan emas Olimpiade pertama dalam sejarah untuk Indonesia. Reaksi di dalam gedung susah digambarkan (dan begitupun di Indonesia).

Atmosfir di dalam gedung itu yang melekat dalam benak saya. Sebelum pertandingan selesai, penonton bisa mengikuti bahwa Susi unggul dan akan menang. Bendungan seperti jebol sebelum air bah benar-benar melanda.

Reaksinya ketika kemenangan teraih..........susah sekali dijelaskan. Olahraga ini dipertandingkan secara kompetitif di Inggris, tetapi Anda tak akan pernah melihat kegegapgempitaan seperti itu.

Itulah yang harus diingat orang tentang Olimpiade: setiap negara mempunyai olahraga kegemaran. Dan bagi Indonesia, olahraga itu jelas bulutangkis.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.

]]>