Pesepak bola putri boleh pakai hijab

Pemain sepak bola perempuan Iran

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Tim sepak bola putri Iran didiskualifikasi saat melawan Yordania, Juni 2011, karena hijab.

Federasi Sepak Bola Asia menyambut baik keputusan untuk mencabut larangan pemain sepak bola putri mengenakan hijab saat bertanding.

Penjabat Presiden AFC, Zhang Jilong, mengatakan keputusan tersebut tepat dan sesuai dengan perkembangan zaman.

"Saya amat gembira mendengar bahwa larangan atas penutup kepala sudah dicabut. Atas nama Komite Eksekutif AFC dan keluarga sepak bola Asia, saya memuji IFAB dan FIFA yang melakukan hal yang benar," tutur Zhang dalam pernyataannya.

Dewan Sepak Bola Internasional (IFAB), Kamis 5 Juli kemarin, memutuskan mencabut larangan itu walau sebelumnya sempat berpendapat bahwa hijab tidak aman dan meningkatkan risiko cedera leher.

Namun para pengkritik mengatakan bahwa larangan hijab akan mendorong ketidakmerataan bagi perempuan untuk ikut bertanding di tingkat internasional dan pada saat yang bersamaan berhasil dikembangkan hijab dengan sistem velcro atau pelekat plastik yang mengurangi risiko cedera.

Tingkat internasional

Masalah hijab ini pertama kali menjadi persoalan pada tahun 2007 ketika seorang anak perempuan berusia 11 tahun dilarang menggunakan hijab ketika bermain sepak bola karena alasan keamanan.

Tahun 2011, tim sepak bola perempuan Iran didiskualifikasi karena menolak untuk melepas hijab menjelang pertandingan melawan Yordania dalam putaran babak penyisihan untuk Olimpiade 2012.

Dengan pencabutan larangan ini maka perempuan di negara-negara Islam -seperti di kawasan Timur Tengah dan Malaysia maupun Indonesia- bisa bertanding di tingkat internasional sambil tetap menggunakan hijab.

"Pencabutan larangan akan memungkinkan ribuan pemain perempuan, yang mengenakan penutup kepala, bisa bertanding," kata Zhang Jilong.

Kantor pusa AFC terletak di Malaysia, dengan penduduk mayoritas beragama Islam dan sebagian besar kaum perempuannya menggunakan hijab.