Piala Dunia 2022: 'Tak ada air mata, hanya kebanggaan', mimpi Maroko berakhir setelah dikalahkan Prancis dalam laga semifinal

Piala Dunia

Sumber gambar, Ashraf Amra/Anadolu Agency via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang suporter Timnas Maroko.
    • Penulis, Shamoon Hafez
    • Peranan, BBC Sport melaporkan dari Stadion Al Bayt, Al Khor

Mimpi harus berakhir, tapi tak ada air mata yang tumpah, justru kebanggaan yang mencuat.

Maroko telah menyulut api Piala Dunia ini dengan hal tak terduga: bertarung hingga semifinal. Akan tetapi harapan mereka dihentikan oleh juara bertahan Prancis.

Anak-anak asuh Walid Regragui ini telah membuat sejarah, yakni menjadi negara Afrika dan Arab pertama yang mencapai babak semifinal, walaupun akhirnya mereka gagal angkat trofi.

Gol dari Theo Hernandez di menit kelima adalah awal terburuk bagi Maroko, dan kemudian Randal Kolo Muani menggandakan skor Prancis di babak kedua.

Kemenangan ini membuat Prancis menjumpai Argentina pada final yang berlangsung Minggu pukul 22.00 WIB (18/12).

Keterangan video, Cuplikan laga semifinal Maroko-Prancis.

"Kami berhenti, dan telah memberi segalanya," kata Regragui. "Ya, kami telah merepotkan mereka, dan itu merupakan pencapaian yang luar biasa.

"Para pemain saya telah mengukir citra tim yang sangat bagus, menunjukkan kualitas mereka. Ini sulit diterima, tapi mereka ingin menulis ulang buku sejarah.

"Kamu tak bisa memenangkan Piala Dunia dengan keajaiban, tapi dengan kerja keras dan itulah yang akan terus kami lakukan."

Pendukung Maroko 'sangat fantastis'

Keterangan video, Cuplikan gol Theo Hernandez ke gawang Maroko

Pendukung timnas Maroko sudah menguasai area Souq Waqif di Doha sejak awal hari.

Souq Waqif adalah tempat tongkrongan orang-orang di ibu kota Qatar di mana para suporter dari semua negara berkumpul, meskipun saat itu sangat jarang yang terlihat menggunakan seragam Prancis.

Sebagian warga Maroko melakukan perjalanan ke Qatar dengan mengambil penerbangan tambahan khusus perhelatan semifinal melalui maskapai nasional Royal Air Maroc.

Sebagian dari mereka nampak diwawancara beragam stasiun televisi dan radio dari seluruh dunia, yang lainnya menikmati teh tradisional Qatar.

Hembusan aroma tembakau Shisha memadati udara saat mereka bersantai sepanjang sore untuk mengendorkan saraf yang tegang.

Stadion Al Bayt bisa jadi diartikan sebagai kandangnya Maroko. Sebab stadion ini dipenuhi seragam dan bendera merah Maroko - dibandingkan sebagian kecil pendukung yang menggunakan ornamen Prancis.

piala dunia

Sumber gambar, ADRIAN DENNIS/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Reaksi pendukung Maroko saat timnya dikalahkan 2-0 oleh Prancis.

Keriuhan yang diciptakan pendukung dari negara Afrika Utara itu makin menjadi-jadi, sebelum tendangan pembuka yang diiringi peluit bergema di sekitar stadion dimulai dari tendangan Prancis.

Mereka kemudian hening hanya lima menit pertandingan berjalan. Saat itu, bek kiri Prancis Hernandez mencetak gol.

Hal ini membuat pendukung Maroko tak percaya pada awal yang mengejutkan - pertama kalinya timnas Maroko tertinggal di Piala Dunia ini.

Para penonton tetap berapi-api, dan terus menyanyikan "Dima Maghreb (Hidup Maroko)" seperti yang mereka lakukan sepanjang turnamin, tapi kemudian gol kedua Prancis dari Kolo Muani memberi pukulan terakhir.

"Saya suka ini," kata mantan pemain bertahan Inggris, Micah Richards kepada BBC One. "Ini adalah salah satu pertandingan favorit saya di Piala Dunia kali ini.

"Penontonnya cerdas, dan suasananya benar-benar menggetarkan."

Mantan kapten Inggris, Alan Shearer menambahkan: "Maroko bisa sangat, sangat bangga dengan apa yang telah mereka lakukan dan capai, dan upaya yang mereka kerahkan di dalamnya, bukan hanya kali ini, tapi di seluruh pertandingan.

"Para pendukung mereka telah memperoleh waktu yang fantastis, dan benar-benar menikmatinya. Tim mereka gagal hanya karena kurangnya kualitas di bagian penyerang."

'Kami sadar sudah membuat pencapaian luar biasa'

Morocco players

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pemain Maroko melakukan sujud syukur di akhir pertandingan.

Pertandingan untuk memperoleh posisi ketiga atau keempat di Piala Dunia bukanlah turnamen yang diinginkan tim mana pun.

Coba katakan itu pada timnas Maroko.

Mereka telah memperoleh kemenangan dari tim-tim elit Eropa, seperti Belgia, Spanyol dan Portugal.

Lalu, bertanding dengan Kroasia di Stadion Khalifa Internasional pada Sabtu nanti untuk memperebutkan posisi ketiga Piala Dunia.

Mantan pemain sayap Southampton, Sofiane Boufal dan penyerang Sevilla Youssef En-Nesyri berdoa bersama di lapangan sebelum tendangan pertama, tapi tak ada campur tangan tuhan di dalam pertandingan ini.

Walaupun Maroko akhirnya kalah di tangan Prancis, mereka berhasil menarik hati khalayak dunia dengan semangat dari para pendukung mereka, dan apa yang terjadi di lapangan.

Selebrasi dari pertandingan terakhir sempat viral, ketika beberapa pemain Maroko mencium ibu mereka dan berdansa bersama di lapangan.

Tapi ada kekecewaan yang bisa dipahami di sini, Kylian Mbappe yang bergembira dengan kemenangan Prancis, saling tukar jersey dengan rekan satu timnya di Paris St-Germain, Achraf Hakimi. Kemudian mereka saling berpelukan.

piala dunia

Sumber gambar, Buda Mendes/Getty Images

Keterangan gambar, Romain Saiss menggendong anaknya usai pertandingan melawan Prancis.

Sementara itu, kapten Romain Saiss - yang cedera di awal pertandingan - kembali ke lapangan untuk terakhir kalinya sambil menggendong anaknya, mengamati sekeliling sambil tampak merenung.

Persoalan cedera pemain terbukti sangat berarti bagi Maroko. Tim mereka harus memulai pertandingan tanpa kehadiran bek dari West Ham, Nayef Aguerd dan bek sayap Noussair Mazraoui dari Bayern Munich harus ditarik keluar pada babak pertama.

Pada akhirnya, para pemain ini melakukan sujud syukur dikelilingi oleh para pendukungnya, bertepuk tangan ringan sebelum akhirnya keluar dari lapangan.

"Sabtu (jadwal perebutan juara ketiga) adalah apa yang mereka sebut pertandingan untuk pecundang," kata pendukung Maroko, Mohammed kepada BBC Sport. "Tapi bagi kami posisi ketiga ini sangat berarti, karena kami telah mencapai hal yang tak terduga.

"Tidak ada air mata yang tumpah hari ini, karena kami bangga apa yang sudah timnas lakukan untuk pendukung dan negara mereka."

Regragui menambahkan: "Mungkin ini adalah satu langkah yang terlalu jauh, secara fisik kami kelelahan dan terlalu banyak pemain dengan tingkat kebugaran sekitar 60 atau 70% dan mereka sudah bermain untuk beberapa pertandingan.

"Kami menyadari kami telah membuat pencapaian yang luar biasa. Kami melihat pencitraan ini di media, televisi, dan media sosial, dan melihat semua orang bangga pada kami. Kami tetap ingin menjaga mimpi rakyat Maroko, tapi kami gagal memberi harapan itu.

"Kami rasa, kami bisa melangkah lebih jauh, tapi hal kecil ini yang dimenangkan oleh juar sejati.

"Kami telah memberikan citra baik bagi negara kami, dan sepak bola Afrika. Kami mewakili benua kami. Orang-orang selalu segan dengan kami, tapi mungkin mereka akan lebih segan lagi saat ini."