Sepak takraw raih emas ke 31, Jokowi ajukan Indonesia tuan rumah Olympiade 2032

Tim sepak takraw Indonesia merayakan emas pertama mereka lewat kemenangan di nomor Quadrant -yang merupakan emas ke31 bagi Indonesia di Asian Games 2018 ini.

Sumber gambar, ANTARA/INASGOC/Wahyu Putro

Keterangan gambar, Tim sepak takraw Indonesia merayakan emas pertama mereka lewat kemenangan di nomor Quadrant -yang merupakan emas ke31 bagi Indonesia di Asian Games 2018 ini.

Kuartet Indonesia memenangkan nomor Quadrant SepakTakraw, untuk merebut medali emas ke 31 Indonesia. Dan sukses dengan Asian Games membuat Presiden Joko Widodo menyatakan akan mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah Olympiade 2032.

Secara realistis, ini merupakan medali emas terakhir bagi Indonesia, karena di sisa dua hari Asian Games 2018 Jakarta Palembang -termasuk penutupan, sudah tak ada lagi atlet Indonesia yang bertarung di final.

Di tengah-tengah persiapan penutupan Asian Games, menyusul pertemuan dengan Ketua Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach Sabtu (1/9), Presiden Jokowi menyatakan niat untuk mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah Olympiade 2032, bersaing dengan India, Australia, dan Cina yang sudah terlebih dahulu mengajukan diri.

"Dengan pengalaman yang kita miliki dalam penyelenggaraan Asian Games ke-18 ini, maka kita Indonesia yakin untuk juga bisa dan mampu menjadi tuan rumah untuk perhelatan yang lebih besar," kata Presiden.

Jokowi merasa lebih optimis, karena penyelenggaraan Asian Games yang begitu sukses sekarang ini, yang diikuti sekitar 12.000 atlet dari 45 negara untuk berebut medali di 60 cabang olahraga, hanya disiapkan dalam empat tahun. Itu karena seharusnya penyelenggaranya adalah Vietnam, yang menarik diri karena alasan keuangan.

Presiden IOC Bach menyambut pencalonan Indonesia, dan mengatakan bahwa Asian Games ini "memberikan landasan kuat" bagi Indonesia untuk mengajukan diri.

Sumber gambar, Biro Pres Kepresidenan

Keterangan gambar, Kepada Jokowi, Presiden IOC Bach menyambut pencalonan Indonesia, dan mengatakan bahwa sukses Asian Games ini "memberikan landasan kuat" bagi Indonesia untuk mengajukan diri.

Presiden IOC Bach menyambut pencalonan Indonesia, dan mengatakan bahwa Asian Games ini "Indonesia telah menunjukkan bahwa mereka memiliki semua bahan untuk menyelenggarakan Olimpiade dengan sukses".

"Di sini di Indonesia terjadi kombinasi yang hebat antara keramahan dan efisiensi, dan inilah yang menjadi tujuan Olimpiade."

"Dan itulah Olimpiade. Olimpiade adalah tentang orang-orang. Olimpiade adalah tentang keunggulan dan tentang persahabatan," ujar Thomas Bach.

Tokyo, ibu kota Jepang, akan menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade 2020, disusul Paris menjadi tuan rumah Olimpiade 2024 dan dan Los Angeles, AS, untuk tahun 2028.

Keberhasilan penyelenggaraan Asian Games juga diimbangi dengan keberhasilan ihwal prestasi. Sejauh ini Indonesia menempati posisi ke-empat dengan perolehan 31 medali emas.

Emas terakhir didapat dari nomor Quadrant sepak takraw melalui kuartet Muhammad Hardiansyah Muliang, Saiful Rijal, Husni Uba dan Rizky Abdul Rahan Pago, yang di final Sabtu ini di Ranau Hall, Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, menaklukan tim kuda hitam Jepang 2-1.

Namun pendukung tim Indonesia empat berdebar-debar, ketika Indonesia ketinggalan satu set terlebih dahulu, 15-21. Terlebih mengingat apa yang terjadi sebelumnya di final nomor beregu putra ketika Indonesia yang terdiri dari Muhammad Hardiansyah Muliang, Nofrizal, Abdul Halim Radjiu dan Victoria Eka Prasetya, kalah 1-2 dari Malaysia setelah unggul satu set dan di set kedua unggul 19-14.

Saat itu emas seakan sudah di tangan, tetapi Malaysia memperoleh angin baru, menyusul Indonesia dan akhirnya memenangkan medali emas.

Namun kali ini, tim Indonesia bisa bangkit di set kedua dengan kemenangan 21-14, dan menuntaskannya di set ketiga dengan 21-16.

Di nomor quadrant putri, Indonesia memperoleh medali perunggu setelah di perebutan tempat ketiga mengalahkan Vietnam. Sebelumnya, sepaktakraw sudah memperoleh dua perunggu pada nomor ganda dan regu putra.

Indonesia juga memperoleh medali perak tambahan melalui Riska Andriani yang menempati posisi kedua di final cabang Kano, nomor 200 meter single putri, setelah kalah sangat tipis dari atlet Cina Mengya Sun.

Riska Andriyani mencatat waktu 49,086 detik, sementara peraih medali emas Mengya Sun mencatat 49,070 detik. Medali perunggu direbut atlet Uzbekistan Dilnoza Rakhmatova yang mencatat waktu 49,282 detik.

Sehari sebelumnya, Jumat (31/8), menjadi satu-satunya hari tanpa medali emas bagi Indonesia. Setelah dua hari berturut-turut panen emas khususnya dari Pencak Silat, Jumat itu Indonesia hanya mendulang dua perak, dari nomor tinju.

Sunan Agung Amoragam memperoleh perunggu di nomor 56 kg, yang merupakan medali pertama yang diebut Indonesia di cabang tinju sejak 28 tahun. Terakhir kali Indonesia memproleh medali tinju adalah di Asian Games 1990 Beijing, ketika Franky Mamuaya memenangkan perak.

Keberhasilan ini disusul oleh Huswatun Hasanah, yang memeangkan perak dicabang tinju putri nomor 60kg. Ini medali pertama cabang tinju putri bagi Indonesia sepanjang sejarah Asian Games.

Dengan pencapaian ini, Indonesia mantap di posisi ke-empat klasemen umum, meninggalkan Iran. Tiga raksasa olah raga Asia: Cina, Jepang dan Korea Selatan, menempati posisi tiga besar.

Bagi Indonesia, ini adalah prestasi Asian Games terbaik sepanjang masa, melampaui pencapaian Asian Games 1962. Ketika itu Indonesia juga menjadi tuan rumah dengan menyabet 11 emas.