Kenapa prinsip kebebasan dan persamaan tidak berlaku untuk burkini?

Sumber gambar, KHALIDALBAIH
Meski sebagian orang di Prancis melihat larangan burkini yang kontroversial sebagai upaya membela kebebasan perempuan dan nilai-nilai Prancis, banyak yang menganggap larangan ini sebagai serangan bukan hanya pada perempuan yang kena denda, tapi juga muslim secara keseluruhan.
Foto yang menampilkan polisi yang mendenda seorang perempuan muslim yang mengenakan burkini di pantai di Nice sudah dibagikan secara luas di media sosial dan mengundang banyak komentar.
Catatan denda yang dikeluarkan terhadap perempuan tersebut, dan dilaporkan oleh kantor berita AFP, mengatakan bahwa perempuan tersebut, Siam, tak mengenakan 'pakaian yang menghormati moral yang baik dan sekularisme.'
- <link type="page"><caption> Antara larangan burkini, bikini dan celana ketat, apa kesamaan dan perbedaannya?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160824_trensosial_burkini_bikini" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Penjualan pakaian renang muslimah alias burkini meningkat '200%'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160824_majalah_penjualan_burkini" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Perempuan Islam berjilbab didenda di pantai Prancis</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160823_dunia_prancis_muslimah" platform="highweb"/></link>
Tagar#BurkiniBan digunakan puluhan ribu kali, begitu juga dengan #WTFFrance, tagar yang lebih lama, yang digunakan ulang untuk mereka yang memprotes atau mendukung larangan tersebut.
Banyak komentar di media sosial yang melihat bahwa aksi polisi tersebut tak sesuai dengan semboyan nasional Prancis, yang berarti kebebasan, persamaan, persaudaraan.

Sumber gambar, Twitter
Beberapa orang menyebut bahwa ini situasi yang membuat perempuan harus menunjukkan solidaritas, meskipun mereka tidak menjalani pilihan yang sama seperti halnya perempuan yang terkena denda.
Banyak orang mengatakan bahwa hak perempuan tersebut mengenakan burkini sudah dibatasi secara tak adil.

Sumber gambar, Twitter
Ada pula yang melihat aksi Prancis ini sebagai kemunafikan.
Dan sebagian mempertanyakan apakah simbol agama yang diterima, terutama soal pakaian, hanya terbatas pada penganut Kristen.

Sumber gambar, Twitter
Di media sosial Arab, kritik terhadap larangan burkini datang dari beberapa sudut pandang.
Satu tagar yang berarti #Komite-untuk-promosi-ketelanjangan, mengejek Barat karena sudah mengkritik polisi moral Saudi yang dikenal dengan nama Komite Promosi Kebaikan dan Pencegahan Perilaku tak Bermoral karena mengawasi perilaku publik dan membatasi kebebasan pribadi dan melakukan hal serupa di masyarakat Prancis yang 'seharusnya toleran dan demokratis.'
"Saya tidak tahu perbedaan antara Daesh (ISIS) dan polisi Prancis," kata seorang pengguna Twitter Saudi.
Seorang pengguna Saudi, Waleed al-Zaylai mengkritik keras pelarangan burkini tersebut dan menggambarkan orang Eropa sebagai prajurit Perang Salib dan mengatakan, "Tentu saja mereka membenci orang Arab dan Muslim. Yang mengesalkan adalah ketika mereka bilang mereka menyebarkan perdamaian dan etika. Semoga Tuhan mempermalukan mereka, para prajurit perang Salib itu."
Penulis Kuwait Rania al-Saad mencuit ke 140.000 pengikutnya bahwa dia menyesalkan 'perlakuan yang dialami oleh perempuan Arab.'

Sumber gambar, Twitter
Dia menentang segala bentuk aturan soal cara berpakaian yang 'dipaksakan pada perempuan' dan menulis cuitan, "Melihat bahwa Timur dan Barat sama-sama mengatur pakaian serta penampilan perempuan adalah kemunduran bagi peradaban dan pukulan terhadap kebebasan perempuan memilih."
Meski begitu, sebagian orang di Barat merasa bahwa larangan terhadap burkini adalah hal positif.
Ada yang menyatakan keterkejutan terhadap tentangan akan larangan tersebut.
Mereka mengulang pandangan pemimpin Front Nasional Prancis, Marine Le Pen, yang mendukung keras larangan burkini di beberapa pantai di pesisir Mediterania Prancis pekan lalu. Di blog pribadnya dia menulis:
"Jiwa Prancis menjadi perdebatan di sini... Prancis tidak mengunci tubuh perempuan, menyembunyikan sebagian dari warganya," tulis Le Pen. Larangan kontroversial tersebut dikukuhkan oleh pengadilan lokal tapi akan diuji lagi di pengadilan administratif tertinggi di Prancis pada Kamis.
Sementara itu di Skotlandia, hijab diizinkan sebagai pilihan seragam polisi untuk mendorong semakin banyak perempuan muslim yang menjadi polisi.









