"Saya seorang PRT, dengarkan raungan saya": blog para mantan PRT

Joyce Fernandes

Sumber gambar, JOYCE FERNANDES

Keterangan gambar, Joyce Fernandes mengatakan salah satu mantan majikannya mengatakan ia "dilahirkan untuk menjadi seorang pembantu."

"Joyce, Anda digaji untuk memasak bagi keluarga saya, bukan untuk diri Anda sendiri. Jadi, silakan Anda bawa bekal makan siang lengkap dengan sendok dan garpu. Jika mungkin, makanlah sebelum kami bersantap di meja makan kami."

Itulah salah satu kalimat yang dilontarkan oleh mantan majikan Joyce Fernandes, saat ia melakoni pekerjaan terakhirnya sebagai seorang pembantu rumah tangga di Santos, sekitar 50 mil dari Sao Paulo.

  • <link type="page"><caption> Dijebak jadi pembantu di AS, Ima Matul angkat kisahnya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160727_trensosial_imamatul_konvensi" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Pembantu rumah tangga di Brasil dapat lembur</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/03/130327_bisnis_brasilpembantu" platform="highweb"/></link>

Joyce, yang kini menjadi seorang rapper dan guru sejarah, mengatakan majikan lainnya mengatakan ia tidak perlu melanjutkan sekolah karena ia "terlahir untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga."

"Saya memohon agar bisa pulang lebih awal untuk ikut kuliah pra-universitas. Namun majikan saya tidak megizinkan dan mengatakan bahwa saya ditakdirkan menjadi pembantu, seperti semua perempuan dalam keluarga saya," kenangnya.

Pengalaman seperti itulah yang baru-baru ini mendorong Joyce untuk menciptakan tanda pagar #EuEmpregadaDoméstica (Saya PRT), sebagai upayanya agar semua pembantu rumah tangga di Brazil bisa berbagi cerita masing-masing.

Joyce, yang memiliki nama panggung "Preta-Rara", mengatakan bahwa kampanyenya langsung mendapat sambutan setelah ia menuliskan pengalaman pribadinya sebagai pembantu di Facebook.

Berbagai tanggapan atas tulisannya membuat Joyce terkaget-kaget.

"Saya terkejut dengan banyaknya komentar. Saya juga menerima begitu banyak laporan di ponsel saya! Lalu saya membuat laman tersendiri Facebook hanya untuk berbagi semua kisah ini" tambahnya.

'Perlakuan kejam majikan'

Laman Facebook itu diberi nama sesuai dengan tanda pagar yang diciptakan sebelumnya yaitu, Saya PRT.

Laman itu menjadi sebuah forum dimana semua orang yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga hingga orang-orang yang tidak diketahui namanya mengecam apa yang Joyce sebut sebagai "perlakuan kejam dari majikan."

  • <link type="page"><caption> Gaji TKI di Inggris sekitar Rp23 juta per bulan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160603_indonesia_tki_kisah" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Pembantu rumah tangga untuk hadiah istri Anda? </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151105_trensosial_prt_hadiah" platform="highweb"/></link>

<link type="page"><caption> </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151105_trensosial_prt_hadiah" platform="highweb"/></link>Seperti layaknya blog, laman itu dengan cepat diikuti oleh lebih dari 100.000 orang.

Beberapa perempuan menulis tentang bagaimana mereka dilecehkan secara seksual oleh majikan mereka. "Setiap kali mantan majikan perempuan saya pergi, suaminya mulai berjalan-jalan di sekitar rumah dengan mengenakan celana dalam.

Sambil melirik ke arah saya, ia menyentuh dirinya sendiri dan, mengatakan penampilan saya seperti pelacur atau istri gembong narkoba," tulis seorang perempuan yang pernah bekerja menjadi PRT.

Lalu, banyak para mantan PRT yang kemudian memutuskan untuk berbagi kisah mereka, seperti yang satu ini: "Salah satu hari yang paling memalukan dalam hidup saya adalah menghadiri acara pernikahan dengan seragam pembantu. Selain pengantin, saya adalah satu-satunya orang yang mengenakan pakaian berwarna putih. Sehingga para tamu undangan bisa melihat jelas bahwa saya pembantu dan tidak diundang secara resmi. "

Di antara ratusan pesan yang membuat Joyce merasa sedih adalah, cerita seorang pembantu berusia 76 tahun yang harus turun naik tangga karena lift gedung tempat dirinya bekerja rusak.

"Anaknya mengatakan kepada saya bahwa ibunya sudah bekerja selama 30 tahun dengan keluarga yang sama. Mereka tinggal di sebuah bangunan mewah yang tinggi. Liftnya rusak dan ia dilarang menggunakan lift utama yang berfungsi. Ia akhirnya harus naik turun tangga" katanya.

'Menyuarakan yang lemah'

"Tujuan saya adalah untuk mendorong dan menyemangati mereka yang tidak berani untuk bersuara," kata Joyce. "Perlakuan tidak manusiawi semacam ini terjadi antara empat dinding dan para perempuan ini.

Kebanyakan dari mereka adalah perempuan kulit hitam, mereka tidak memiliki siapapun untuk mencurahkan persoalan mereka," katanya.

Maid in Brazil

Sumber gambar, EUEMPREGADADOMSTICA

Keterangan gambar, Fanpage Facebook ini diciptakan sebagai wadah bagi para pembantu rumah tangga berbagi semua pengalamannya,

"Saya ingin menyingkap apa yang ada di bawah karpet. Kita harus memanusiakan hubungan antara para majikan dan pembantu. Seringkali para wanita ini harus menginternalisasi agresi dan penindasan. Ini salah," tambahnya.

Menurut Joyce, profesi pembantu harus 'diakhiri' karena merupakan 'sisa-sisa perbudakan.'

"Tapi sampai hal itu terjadi, kami masih harus berjuang untuk perlakuan yang setara dan lebih manusiawi. Kami bukan ingin menjadi 'bagian dari keluarga'. Kami juga bukan ingin meremehkan hirarki. Kami hanya ingin perlakuan yang adil," katanya.

"Sayangnya kami, para perempuan kulit hitam, menjadi pembantu sebagai sesuatu yang turun-temurun. Ibu saya, bibi saya dan nenek saya, semuanya menjadi pembantu. Anda tidak bisa memisahkannya dari sejarah perbudakan."

Pada tahun 1988, Brasil merupakan negara terakhir di dunia yang telah menghapuskan perbudakan. Namun posisi pembantu rumah tangga tetap menjadi sebuah masalah hidup.

Awal tahun ini, sebuah foto yang menunjukkan pasangan kulit putih beredar viral di Brazil. Dalam foto itu terlihat suami istri dari keluarga kaya tengah menghadiri aksi protes dan pembantu kulit hitam mereka mengikuti di belakangnya sambil mengasuh anak-anak mereka.

Maid in Brazil

Sumber gambar, JOAO VALADARES CORREIO BRAZILIENZE

Bagi banyak kalangan, foto ini tampaknya menjadi simbol dari perbedaan ekonomi dan ras di negara itu. Meski begitu, sang pembantu Maria Angelica Lima, mengaku tidak masalah dan bahkan dirinya mempunyai seorang pengasuh juga, untuk merawat anaknya saat ia dan suaminya bekerja.

Dan Joyce sendiri mengatakan tidak semua pengalamannya menjadi pembantu itu negatif. Ia mengatakan masih mengingat bantuan yang ia terima dari salah satu mantan majikannya.

"Suatu hari saya sedang membersihkan rak buku dan ia meminjamkan salah satu bukunya yang berjudul 'Olga', ditulis oleh Fernando Morais. Ia mendorong saya untuk kembali ke sekolah dan perguruan tinggi untuk belajar sejarah seperti yang ingin saya lakukan," katanya.