Ritual Yadnya Kasada di tengah aktivitas Gunung Bromo

Para dukun membakar kemenyan di atas anglo, sambil merapal mantra dan doa.

Sumber gambar, Eko Widianto

Keterangan gambar, Para dukun membakar kemenyan di atas anglo, sambil merapal mantra dan doa.

Iringan musik tradisi Suku Tengger berkumandang dari Pendapa Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (20/07).

Alunan tersebut mengiringi kedatangan ribuan umat Hindu Tengger beserta wisatawan nusantara dan mancanegara. Mereka menghadiri malam resepsi Yadnya Kasada, ritual khas Suku Tengger, suku yang tersebar di 60 Desa sekitar Gunung Bromo meliputi Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang.

Selain musik gamelan, para tamu disuguhi dengan pementasan tari Sembilan Dewa serta tari Roro Anteng dan Joko Seger. Tarian yang dianggap sakral bagi warga Tengger ini mengisahkan legenda asal usul masyarakat Tengger.

  • <link type="page"><caption> Once, pentas balet Australia dengan penari Indonesia </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160719_majalah_seni_balet" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Pencak Silat dan ekspresi rindu kampung dalam Tari Rantak </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160530_majalah_seni_tari_rantak" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Minta hujan, suku Kaili di Sulawesi Tengah jalani ritual Mora’akeke</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/151002_majalah_ritual_hujan" platform="highweb"/></link>
Para tamu resepsi Kasada disuguhi tarian sakral Suku Tengger.

Sumber gambar, Eko Widianto

Keterangan gambar, Para tamu resepsi Kasada disuguhi tarian sakral Suku Tengger.

Menurut legenda masyarakat Tengger, mereka merupakan keturunan pasangan Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah bertahun-tahun menikah tak memiliki anak, keduanya bertapa dan berdoa kepada Tuhan. Mereka berjanji akan mengorbankan salah satu anaknya atau mempersembahkan ke kawah Gunung Bromo.

Akhirnya mereka dianugerahi 25 anak yang disayanginya, tetapi lupa dengan janjinya mengorbankan salah satu anaknya. Semua anaknya menolak dikorbankan, namun si sulung Jaya Kusuma bersedia dikorbankan menemui sang Dewa Brahma atau Bromo untuk melunasi janji kedua orangtuanya.

Jaya Kusuma menyampaikan agar masyarakat keturunan Roro Anteng dan Joko Seger atau Tengger memberikan persembahan hasil bumi ke kawah Bromo pada tanggal 14 bulan Kasada sesuai penanggalan Tengger.

“Masyarakat Tengger kini tak berani berjanji, ucapan dan tindakannya menyatu,” kata sutradara sendra tari, Heri Lentu kepada wartawan Eko Widianto.

Masyarakat Tengger dan wisatawan menaiki Gunung Bromo untuk berpartisipasi dalam ritual Nyadnya Kasada.

Sumber gambar, Eko Widianto

Keterangan gambar, Masyarakat Tengger dan wisatawan menaiki Gunung Bromo untuk berpartisipasi dalam ritual Nyadnya Kasada.

Menurutnya urutan kisah dalam tarian tak boleh diubah, harus sesuai pakem. Mereka meyakini jika tarian berubah akan mempengaruhi aktivitas Gunung Bromo, Bahkan, untuk merevitalisasi pakaian yang dikenakan Joko Seger, pakaian diberi mantra khusus oleh dukun atau pimpinan Hindu Tengger.

“Gunung Bromo erupsi setahun lalu diyakini karena pementasan tarian tak berurutan sesuai cerita legenda suku Tengger. Saat itu penari dari mahasiswa seni tari,” kata Heri.

Persembahkan Hasil Bumi

Usai malam resepsi, mereka melanjutkan dengan upacara Yadnya Kasada di Pura Agung, sejauh satu kilometer dari kawah Gunung Bromo. Ribuan umat Hindu Tengger mengenakan pakaian adat, berjalan kaki sejauh lima kilometer dari perkampungan menuju Pura Agung sejak pukul 24.00 WIB, Kamis (21/07).

Mereka berjalan beriringan sebagian memanggul aneka hasil pertanian seperti sayur, buah dan kudapan.

Umat Hindu Suku Tengger berdoa di kawah Gunung Bromo.

Sumber gambar, AFP Getty

Keterangan gambar, Umat Hindu Suku Tengger berdoa di kawah Gunung Bromo.
Selama semalaman umat Hindu berdoa di kawah Gunung Bromo.

Sumber gambar, AFP Getty

Keterangan gambar, Selama semalaman umat Hindu berdoa di kawah Gunung Bromo.

Umat Hindu Tengger juga membawa penganan berupa raka genep, penganan yang terbuat dari tepung jagung. Penganan yang memiliki simbol lelaki, perempuan dan anak, itu merupakan wujud kerukunan keluarga.

“Ini dibuat di masing-masing desa, berisi hasil bumi yang ditanam,” kata Dukun Desa Ngadiwono, Tosari, Pasuruan, Puja Pramana.

Selama semalaman, mereka berdoa dipimpin oleh pimpinan umat Hindu Tengger.

Gerimis hujan mengguyur kawasan Gunung Bromo tak menyurutkan umat Hindu Tengger untuk menunaikan ritual persembahan kepada Jaya Kusuma. Bahkan erupsi Gunung Bromo juga tak mengurungkan niat mereka melaksanakan ritual.

Gerimis hujan mengguyur kawasan Gunung Bromo tak menyurutkan umat Hindu Tengger untuk menunaikan ritual persembahan kepada Jaya Kusuma.

Sumber gambar, AFP Getty

Keterangan gambar, Gerimis hujan mengguyur kawasan Gunung Bromo tak menyurutkan umat Hindu Tengger untuk menunaikan ritual persembahan kepada Jaya Kusuma.

Umat Hindu Tengger berduyun-duyun ke Pura Agung. Mereka duduk bersila khidmat mendengarkan tembang dan puji-pujian sembari berdoa. Sejumlah dukun atau pimpinan umat Hindu Tengger berjajar, duduk bersila mengenakan pakaian serba putih dan ikat kepala khas Suku Tengger.

Para dukun membakar kemenyan di atas anglo, sambil merapal mantra dan doa. Aneka sesajian hasil pertanian ditata rapi di depan dan samping para dukun. Menjelang subuh, Dukun Pandita Sutomo mengumumkan upacara ritual dan membacakan kisah legenda masyarakat Tengger dengan berbahasa Tengger. Dilanjutkan dengan membaca doa dan mantra untuk mengantarkan sesaji ke Gunung Bromo.

Usai upacara ritual Yadnya Kasada di Pura Agung, umat Hindu Tengger bergegas memanggul ongkek berisi hasil pertanian. Mereka berjalan beriringan menuju kawah Gunung Bromo. Sesampai di bibir kawah Bromo, seluruh hasil bumi dilempar ke dalam kawah.

Warga berebut sesaji di kawah Gunung Bromo yang dilemparkan umat yang berdoa dan para wisatawan.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga berebut sesaji di kawah Gunung Bromo yang dilemparkan umat yang berdoa dan para wisatawan.

Kawah Bromo mengeluarkan abu vulkanis, asap keluar dari kawah membubung tinggi. Aroma belerang tercium menyesakkan dada. Sesekali keluar asap berwarna pekat, abu vulkanis mengguyur umat Hindu Tengger yang mengikuti Yadnya Kasada. Menjelang matahari terbit, seluruh proses persembahan sesaji usai. “Kami juga berdoa semoga erupsi berakhir,” katanya.

Magnet Wisatawan

Ritual Yadnya Kasada juga menjadi atraksi wisata. Pemerintah Kabupaten Probolinggo berupaya untuk mengemasnya menjadi pertunjukan wisata yang mampu menarik wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Selama 2015 jumlah kunjungan wisatawan ke Bromo mencapai 37.000 orang dari mancanegara dan 380.000 orang dari berbagai penjuru Indonesia.

Kunjungan wisatawan mancanegara bertambah sejak kapal pesiar bersandar setahun 12 kali. Rata-rata, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Anung Widiarto, setiap kunjungan mencapai 500 wisatawan mancanegara.

Umat Hindu Suku Tengger memberikan sesaji di kawah Gunung Bromo. Sesaji bisa berupa hasil bumi atau ternak.

Sumber gambar, AFP Getty

Keterangan gambar, Umat Hindu Suku Tengger memberikan sesaji di kawah Gunung Bromo. Sesaji bisa berupa hasil bumi atau ternak.

Berkunjung ke Gunung Bromo bisa melalui Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Sebagian besar wisatawan memilih melalui Probolinggo.

Namun, sejumlah wisatawan sempat membatalkan kunjungan ke Bromo setelah mendengar kabar bahwa obyek wisata gunung api Gunung Bromo ditutup akibat erupsi. Hal ini praktis membuat kunjungan wisatawan mancanegara merosot.

Keindahan Gunung Bromo, kata Anung, tak surut meski ada erupsi. Wisatawan bisa mengamati aktivitas vulkanis, kepulan asap dan abu vulkanis tapi tetap di daerah yang aman.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), John Kennedie menyampaikan sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) wisatawan menjaga jarak maksimal radius satu kilometer dari bibir kawah.

"Demi keamanan dan keselamatan wisatawan dipasang garis polisi," katanya.

Warga setempat juga ikut berebut menangkap sesaji hasil bumi. Mereka berjajar di sekitar kawah membawa jaring untuk menangkap sesaji.

Tono, salah seorang warga Tengger, menggendong seekor kambing sebagai persembahan ke kawah Gunung Bromo.

Dia bersama empat temannya sempat berjanji akan memberikan sesaji kambing jika tanaman kentangnya tumbuh bagus. Kini, Tono menepati janjinya memberikan sesaji ke sang Dewa Brahma sebagai ungkapan syukur.