'Pulang ke negaramu,' berbagai insiden rasis menyusul Brexit

Sumber gambar, AFP
#TrenSosial: Berbagai insiden bermotif rasial terjadi menyusul keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa, Brexit, dan cerita berbagai cacian ini dikumpulkan melalui media sosial untuk apa yang disebut penggagasnya perlu 'diatasi' karena melukai banyak orang.
Berbagai cerita yang dikumpulkan di media sosial ini mencakup cacian karena warna kulit dan juga latar belakang etnis, tidak hanya terhadap mereka yang berasal dari negara Uni Eropa lain.
Komunitas Polandia termasuk yang menjadi sasaran di sejumlah tempat dengan tulisan yang meminta mereka untuk 'pulang ke negaramu'.

Polisi tengah menyelidiki sejumlah insiden termasuk di Huntingdon, Inggris Timur setelah munculnya tulisan, "Tak ada lagi kutu Polandia" yang dilaporkan disebarkan ke rumah-rumah orang dari Eropa timur itu.
- <link type="page"><caption> Petisi untuk tuntut kemerdekaan London</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160626_trensosial_london_brexit" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Brexit, sejumlah hal yang perlu Anda ketahui</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160624_trensosial_brexit" platform="highweb"/></link>
Insiden lain melibatkan mantan calon anggota parlemen dari Partai Konservatif Shazia Awan yang 'diminta untuk berkemas dan pulang', segera setelah hasil referendum keluar Jumat (24/06) lalu.

Awan yang lahir di Wales mengatakan pemerintah harus berbuat lebih banyak untuk menangani konsekuensi negatif dari hasil referendum ini.

"Hasil (referendum) melegitimasi kebencian rasial. Walaupun mereka tidak mayoritas namun mereka tidak toleran dan bersuara keras dan in melukai semua komunitas," kata Awan.
"Apa yang terjadi di negara kita? Kita akan melihat lagi ke belakang masa ini sebagai masa gelap di Inggris. Saya merasa kita mundur ke belakang," tambahnya.
Ruang untuk mereka yang merasa tidak aman
Berbagai insiden ini tercatat melalui Twitter dengan tagar #postrefracism yang dibuat oleh kelompok dengan nama yang sama (posting dengan referensi rasisme) digunakan lebih dari 21.000 kali Senin (27/06) sementara di Facebook melalui grup Worrying Signs (Petunjuk yang mengkhawatirkan).

Akun Facebook ini dibentuk oleh Sarah Childs Minggu (26/06) setelah membaca banyak cerita di akun Twitternya.
"Saya melihat satu tema melalui Twitter saya dan saya merasa harus mengumpulkan cerita-cerita ini."
"Saya adalah warga Inggris kulit putih dan saya bentuk group Facebook ini bersama rekan saya yang berasal dari India dan Pakistan."
Sarah dan rekan-rekannya telah mengumpulkan lebih dari 5.000 anggota hanya dalam waktu satu hari.
"Kami ingin menciptakan ruang untuk mereka yang merasa tidak aman," kata Sarah.
"Cacian semacam ini melukai banyak orang dan hal ini harus diatasi," tambahnya.









