Larangan penjualan iPhone 6 dan 6 plus di Beijing

iPhone

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Model iPhone 6 dan 6 plus dianggap terlalu mirip dengan 100C produk Shenzhen Baili.

Apple diperintahkan untuk menghentikan penjualan telepon pintar iPhone 6 dan 6 plus di Beijing karena dianggap terlalu mirip dengan saingannya buatan Cina.

Kantor hak kekayaan intelektual Cina memutuskan bahwa model iPhone yang paling mutakhir itu melanggar hak paten yang dimiliki Shenzhen Baili.

Perusahaan yang tidak dikenal tersebut memproduksi telepon pintar yang diberi nama 100C.

  • <link type="page"><caption> Produsen tas tangan Cina boleh pakai merek IPHONE</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160504_majalah_cina_iphone" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Ratusan ribu akun iPhone dibajak di Cina</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/09/150902_majalah_cina_iphone" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Pabrik palsu Apple 'tertangkap di Cina'</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/07/150728_majalah_cina_fakeiphone" platform="highweb"/></link>

Apple sudah menyatakan akan banding dan sambil menunggu keputusan lebih lanjut masih boleh menjual iPhone6 dan 6 plus, seperti dilaporkan wartawan BBC, Celia Hatton.

Cina

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Cina merupakan pasar Apple terbesar yang kedua.

Cina merupakan pasar terbesar kedua bagi Apple namun keputusan terbaru ini sepertinya menambah masalah baru bagi perusahaan yang bermarkas di Cupertino, California, Amerika Serikat.

iTunes Books dan aplikasi Movie-nya beberapa waktu lalu ditutup oleh pihak berwenang Cina.

Sementara sebuah perusahaan tas tangan Cina, Xintong Tiandi Technology, diizinkan oleh pengadilan untuk menggunakan merek IPHONE.

Awal bulan ini seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat merasa 'semakin tidak disambut dengan baik' di Cina.

Sedangkan Dewan Bisnis Eropa mengatakan anggota-anggotanya menghadapi 'susaana permusuhan' di negara itu.