Robot Pepper bekerja di rumah sakit Belgia

Sumber gambar, AFP
Pepper -robot menyerupai manusia yang diprogram untuk 'memahami' emosi manusia, akan mendapat pekerjaan baru sebagai resepsionis di dua rumah sakit Belgia.
Untuk pertama kalinya robot akan 'diperkerjakan' di bidang kesehatan setelah robot-robot lain dikerahkan di pusat perbelanjaan, bank, dan stasiun kereta api.
Robot yang diproduksi dalam kelompok 1.000 unit ini laris terjual di Jepang dengan harga untuk rumah sakit US$34.000 (sekitar Rp455 juta), yang akan jauh lebih mahal dibandingkan model biasa seharga US$1.850 (sekitar Rp24 juta).
Pepper yang diproduksi oleh Softbank dirancang khusus dengan perangkat lunak dari perusahaan Belgia Zora Botts sehingga dapat membuka pintu masuk ke meja resepsionis bila Pepper sedang bertugas.
- <link type="page"><caption> Ilmuwan ciptakan robot yang bisa 'membuat' robot lain</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150812_majalah_iptek_robot" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Surat bersama menentang 'robot pembunuh'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/07/150728_majalah_robot_pembunuh" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kenyataan di balik robot seks</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/03/160322_vert_fut_robot_seks" platform="highweb"/></link>
Dengan tinggi 1,2 meter, Pepper dapat mengenali suara manusia dalam 20 bahasa dan dapat mendeteksi apakah dia berbicara dengan pria, wanita, atau anak-anak.

Sumber gambar, AFP
Di rumah sakit CHR Citadelle di Liege, Pepper akan bekerja di bagian resepsionis tapi di rumah sakit AZ Damiaan di Ostend, ia akan mengantar pengunjung sampai ke departemen yang dituju.
Kedua rumah sakit sebelumnya menggunakan robot Nao yang berukuran lebih kecil -yang juga dibuat oleh Southbank- yang ditempatkan di bangsal anak-anak dan orang-orang lanjut usia. Robot kecil ini membantu pada sesi latihan fisik dan menghibur anak-anak yang ketakutan sebelum operasi, terkadang juga mengantar mereka hingga ke ruang operasi.
Beberapa pihak merasa skeptis tentang kegunaan Pepper.
Pakar robot Prof. Noel Sharkey mengatakan pada BBC, "Robot ini pintar dalam menyampaikan pesan melalui bahasa tubuh tapi caranya mendeteksi emosi manusia sepertinya terlalu berlebihan."











