Orang tua Yuyun minta pelaku pemerkosa anaknya dihukum seberat-beratnya

Sumber gambar, Rika Kurnia Ningsih
Orang tua Yuyun mengatakan mereka berharap 14 tersangka yang memperkosa anaknya beramai-ramai dihukum seberat-beratnya jika terbukti bersalah secara hukum.
"(Keluarga) minta hukum yang seberat-beratnya pelaku, kalau sebatas 10 tahun aku tak nyaman rasanya. Aku minta apakah seumur hidup itu (misalnya)...," kata Yana, 30, ibu Yuyun kepada BBC Indonesia.
"Karena aku tidak punya harta, hanya anak lah harta aku. Itulah yang aku perjuangkan dalam hidup aku. Anakku cuma dua, yang perempan Yuyun, yang laki-laki Yayan, kembar."
- <link type="page"><caption> Mengapa kita tidak membicarakan Yuyun?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160502_trensosial_yuyun" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Gerakan di media sosial Nyala untuk Yuyun</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160503_trensosial_nyala_untuk_yuyun" platform="highweb"/></link>

Sumber gambar, Rika Kurnia Ningsih
Awal April lalu, Yuyun yang masih bersekolah di bangku SMP hilang dari tempat tinggalnya di Desa Kasiah Kasubun, Padang Ulak Tanding, Bengkulu. Yana mengatakan banyak orang dari dua dusun pergi mencarinya.
Tiga hari berselang, dia ditemukan tanpa nyawa dengan tulang pinggang patah dan luka-luka di tubuhnya. Kepolisian telah mengatakan ada 14 pelaku pemerkosaan, 12 orang di antaranya telah ditangkap.
Kasus ini telah mendapat banyak perhatian di media sosial setelah sejumlah pengguna menginisiasi tagar Nyala Untuk Yuyun di Twitter. Menanggapi hal ini, Yana mengaku cukup bersyukur.
"Tidak apa namanya tersebar. Biarlah kematian dia sadis, aku tahan saja. Sebarlah berita itu, supaya tidak terjadi ke depannya Yuyun-Yuyun lain," katanya.
Siswi yang cerdas
Yana menggambarkan putrinya sebagai siswi yang cerdas. "Walau kami orang upahan bapaknya nguli, tapi cita-citanya jadi guru. Sekolah dari SD sampai SMP juara terus, dan dapat piagam," kata Yana.
Dia mengatakan Yuyun juga rajin salat dan mengaji. "(Saya sering pesan) Salat yang rajin, kita orang gak punya, cuma bisa minta sama Allah."
Samitum, yang tinggal di sebelah rumahnya juga menambahkan bahwa selama hidupnya gadis kecil itu tidak pernah nakal. "Dia gadis yang ceria, tidak banyak berulah, ramah juga sama temannya. Rata-rata keluarga disini sayang semua sama dia."

Sumber gambar, Rika Kurnia Ningsih
Yana mengingat janji terakhirnya pada anak perempuannya itu, yaitu membelikan handphone android yang sangat dia inginkan. Dulu, karena kondisi keluarga tidak mampu, kedua orang tuanya tidak bisa mengabulkannya.
“Nak, lebih baik kita beli papan buat rumah, dari pada hape. Belajarlah dulu, tamatkan sekolah dan dapat juara, nanti ibu belikan,” kata Yana mengenang apa yang dikatakan kepada anaknya.
Namun setelah kejadian naas itu, orang tua Yuyun kemudian memberikan sumbangan ke masjid sebagai ganti janjinya membeli telepon seluler. “Kami berikan kepada masjid, terserah masjid nanti beli apa, yang penting janji kami sudah sampai,” ungkap Yana.

Sumber gambar, Rika Kurnia Ningsih
Tetangga Yuyun mengatakan menyusul kejadian tragis itu, "anak-anak di sini khususnya yang perempuan pasti naik ojek, biar pun seribu dua ribu bayarnya, karena takut juga ada lagi kejadian.”
Seorang warga sekitar kebun karet tempat ditemukannya mayat Yuyun, yang tidak ingin disebut namanya mengatakan, “Biasanya ramai orang kebun jalan lewat sini, karena orang berladang. Kejadian ini baru inilah terjadi di sini, jadi biasanya aman-aman aja."
Tersangka yang sudah disidangkan di pengadilan negeri setempat diketahui berjumlah tujuh orang dengan status masih anak-anak. Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Eny Farida Senin (02/05) dilangsungkan secara tertutup dengan pengawalan ketat polisi.









