Bisnis peti mati: usaha di atas duka dan kematian?

Sumber gambar, BBC
- Penulis, Andrew Mambondiyani
- Peranan, Mutare, Zimbabwe
Suasana di bengkel pembuatan peti mati milik John Mutau terasa suram.
Peti mati yang siap dijual berjejer di seluruh ruangan, hanya menyisakan tempat yang sempit untuk bekerja.
Betapa pun, dalam keadaan seperti itu, pemuda pembuat peti mati itu masih melemparkan senyum yang menawan.
Lelaki yang membuka bisnisnya di kota Mutare, di bagian Timur Zimbabwe, segera mengatakan bahwa para pengrajin peti mati bukanlah manusia tanpa perasaan seperti yang diduga orang.
Malahan, katanya dengan penuh penekanan,"Kami sesungguhnya ingin membuat pemakaman yang layak itu bisa terjangkau harganya."
Pria berusia 28 tahun ini merupakan salah satu dari pengusaha muda Zimbabwe yang selama beberapa tahun terakhir menggeluti usaha pembuatan peti mati, setelah bidang ini menjadi industri yang menguntungkan karena kematian akibat penyakit terkait dengan AIDS semakin tinggi di Zimbabwe.
Mungkin ini tampak eksploitatif bagi sejumlah orang, namun para pendatang baru bisnis ini mengatakan mereka hanya berusaha membantu memenuhi kebutuhan, terutama - tambah mereka - karena harga peti mati mereka biasanya jauh lebih murah dibandingkan yang dijual di toko-toko penyedia kebutuhan terkait pemakaman yang sudah mapan di negara itu.
Kayu buangan
Meskipun kematian yang terkait dengan AIDS di Zimbabwe turun hingga lebih dari dua pertiga sejak 2001 lalu -buah dari kampanye pendidikan dan peningkatan ketersediaan obat antiretroviral gratis, lebih dari 60.000 orang dalam setahun tewas karena virus, menurut Dewan Nasional AIDS.

Sementara itu, PBB mengatakan Zimbabwe merupakan negara di Afrika sub-Sahara- yang berada di urutan kelima yang memiliki tingkat prevalensi tertinggi, dengan jumlah infeksi 15%. Angka ini sama dengan 1,4 juta orang, dan 15% orang dewasa.
Saat ini hanya 618.000 yang terinfeksi di Zimbabwe - kurang dari sepertiga - yang memiliki akses terhadap layanan antiretroviral.
Untuk menekan harga, Mutau membuat peti mati dari kayu yang dibuang oleh perusahaan kayu setempat.
Ini artinya peti mati mereka bisa diperoleh dengan hanya sekitar Rp547.000, jauh lebih murah dibandingkan dengan harga yang dipatok para pemain lama di bisnis pemakaman yang mencapai sekitar Rp2,5 juta sampai Rp25 juta.
Tetap saja, Mutau mengungkapkan bahwa dia dan pemain baru lainnya, dikecam sana-sini.

Sumber gambar, Getty Images
"Banyak orang berpikir kami merayakan kematian padahal tidak," kata dia.
"Kami di sini menyediakan peti mati murah untuk keluarga yang berduka."
Mutau terjun ke dalam bisnis pembuatan peti mati pada 2005, tetapi dia mengakui bahwa itu merupakan pilihan terakhirnya.
"Saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi pengrajin peti mati, tetapi saya harus menafkahi keluarga saya," jelas dia.
"Tidak ada pekerjaan di luar sana. Sementara dengan membuat dan menjual peti mati, saya bisa mendapatkan hingga US$500 (hampir Rp7 juta) per bulan."
Mutau lebih banyak bekerja sendiri, tetapi jika permintaan melonjak dia mempekerjakan pengrajin lain.
Pengrajin peti mati yang lain, yaitu Gift Olesi, 30 tahun.
Dia terjun ke industri ini pada 2005, setelah kehilangan pekerjaan di perusahaan kayu setempat yang ditutup karena menurunnya penjualan.
Meskipun ada keluhan bahwa dia memasang harga yang mahal, Olesi mengatakan dia sengaja menargetkan penjualan hanya untuk kelas menengah, dan karenanya hanya membuat peti mati seharga lebih dari US$250 atau RP 3,5 juta.
"Saya memperoleh seedikitnya US$900 (sekitar Rp12 juta) per bulan, dan saya dapat menafkahi keluarga saya," kata dia.
'Gizi yang baik'
Sementara para pendatang baru di bisnis peti mati ini berupaya untuk membantu keluarga orang yang meninggal terkait AIDS, bisnis lain berupaya untuk membantu orang yang hidup dengan HIV atau stadium awal HIV selama mereka masih hidup.
Green World Zimbabwe, sebuah group yang berbasis di Harare yang membuat obat herbal dan suplemen nutrisi, membantu orang dengan HIV memulai bisnis sendiri dengan menjual produk mereka.
Mereka juga memasarkan produk itu pada orang yang hidup dengan HIV.
Osmond Tafadzwa Chakauya, konsultan senior di perusahaan itu mengatakan, "Ya sejumlah orang yang hidup dengan HIV mulai mendapatkan obat antiretroviral, tetapi agar obat itu bisa bekerja mereka butuh nutrisi yang baik. Karena itu, kami menyediakan suplemen tersebut."
Sejauh ini usaha ini telah melatih sekitar 3.000 orang penjual independen, 1.000 di antaranya orang terkena HIV.

Phyllis Muloyi, yang bertahan hidup dengan HIV selama 18 tahun karena mengkonsumsi obat antiretroviral, memperingatkan bahwa skema bisnis itu tak berarti jika orang yang hidup dengan HIV itu tidak berhasil mendapat pinjaman dana dari bank, sesuatu yang disebutnya tentu saja akan sangat sulit.
Jephias Mundondo, seorang juru kampanye HIV/AIDS, mengatakan bahwa dengan peningkatan ketersediaan obat, bank harus melihat kekuatan bisnis seseorang, dan kemampuan dia untuk menjalankan dan mengembangkannya, bukan fakta mereka memiliki virus itu.










