Komunis atau bukan: Indonesia kecil dalam kisah para eksil

Film Surat dari Praha mempertemukan Laras (Julie Estelle) dan Jaya (Tio Pakusadewo).

Sumber gambar, VISINEMA

Keterangan gambar, Film Surat dari Praha mempertemukan Laras (Julie Estelle) dan Jaya (Tio Pakusadewo).
    • Penulis, Isyana Artharini
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Film Surat Dari Praha menambah satu lagi daftar karya yang menjadikan hal-hal yang belum selesai dari peristiwa 1965 sebagai sumber tema, dalam bungkusan kisah cinta dan musik.

Surat dari Praha mempertemukan seorang perempuan bernama Laras (Julie Estelle) dengan Jaya (Tio Pakusadewo).

Ibu Laras, Sulastri (Widyawati) meninggal pada awal film, dan dia mensyaratkan Laras membawa kotak berisi surat-surat kepada Jaya di Praha, Republik Ceko, sebagai syarat mendapat warisan.

Di Praha, Jaya, seorang petugas kebersihan gedung pertunjukan, dulunya adalah mahasiswa kajian nuklir. Dia kehilangan kewarganegaraan dan tidak bisa kembali ke Indonesia setelah sebagai MAHID atau mahasiswa ikatan dinas menolak mengakui Soeharto dan Orde Baru setelah terjadi peristiwa 1965.

Sutradara Angga Sasongko menjelaskan alasan pilihan tema eksil ini, "Teman-teman harus paham sama petanya, ada kelompok Paris, Stockholm, Praha, RMS. Eksil ada beberapa kelompok. Ada anggota Partai Komunis yang mencari suaka, dan ada beberapa di Paris, Kuba, ada juga orang-orang GAM yang di Swedia, orang-orang pendukung RMS di Belanda, dan mahasiswa-mahasiswa MAHID (di Praha) yang sama sekali tidak punya kaitan dengan itu, tapi ikut terstigma."

Menurut Angga, ada "dua sumbu besar" dalam narasi tentang 1965, antara narasi besar "yang diciptakan Orba" dan narasi yang "dibesarkan kalangan aktivis", yang menuntut adanya keterbukaan terhadap korban, fakta-fakta sejarah, serta yang menjadikan simpatisan Partai Komunis sebagai korban.

Surat dari Praha, kata Angga, ingin berkisah tentang narasi kecil "di tengah".

"Tentang orang-orang yang distigma jadi komunis padahal bukan komunis, ini kan nggak banyak yang cerita. Saya tanya stigma kita ke orang-orang ini (eksil) gimana, komunis kan, saya pun juga begitu, sebelum akhirnya saya ketemu dengan om-om di Praha. Ini menurut saya penting untuk diangkat," ujar Angga.

Jaya (Tio Pakusadewo) adalah eksil 65 setelah sebagai mahasiswa dalam ikatan dinas menolak mengakui Orde Baru.

Sumber gambar, VISINEMA

Keterangan gambar, Jaya (Tio Pakusadewo) adalah eksil 65 setelah sebagai mahasiswa dalam ikatan dinas menolak mengakui Orde Baru.

Dalam film, pernyataan bahwa Jaya "bukan komunis" terungkap dalam adegan perdebatan antara Laras dan Jaya.

Laras, dengan penuh asumsi dan prasangka, menuduh surat-surat Jaya sebagai penyebab hubungan dia dan ibunya begitu sulit.

"Buat saya sebagai sutradara, salah satu fungsi film adalah melawan stigma. Ketika ada stigma yang menyebut orang-orang yang tidak bisa pulang di luar negeri ini adalah komunis, tapi ternyata ada sebagian kecil yang bukan komunis, malah nasionalis, mereka memikirkan Indonesia sampai hari ini, dan sampai hari ini mereka hidup dengan stigma itu, itu perlu diluruskan, itu makanya saya sangat ingin membuat film ini," ujar Angga.

Menarik untuk melihat bahwa, bagi Surat dari Praha, penting untuk membantah stigma cap 'komunis' pada orang yang-yang bukan komunis, namun di saat bersamaan mengesankan bahwa apa yang terjadi (pencopotan status kewarganegaraan dan menjadi orang terbuang) seolah 'boleh' terjadi pada mereka yang memang komunis.

Stigma yang selama ini berlaku di masyarakat adalah cap 'komunis' diberikan pada mereka yang berpandangan berbeda untuk membenarkan perlakuan rezim saat itu terhadap mereka karena mereka dianggap jahat dan berbahaya.

Dengan menyatakan Jaya 'bukan komunis', Surat dari Praha mengatakan bahwa Jaya dan eksil lain bukan 'orang berbahaya'.

Tapi kemudian apa artinya pembantahan stigma ini bagi mereka yang benar terafiliasi pada Partai Komunis?

Apakah Surat dari Praha membongkar stigma atau justru menguatkannya?

'Sejarah jadi pengalaman'

Sebagai sebuah peristiwa sejarah besar, 1965 serta berbagai pertanyaan dan implikasi yang mengikutinya adalah materi yang kaya untuk berbagai karya budaya.

Dalam film, Jaya (Tio Pakusadewo) yang bekerja sebagai petugas kebersihan gedung pertunjukan, dulunya adalah mahasiswa ilmu nuklir.

Sumber gambar, SURAT DARI PRAHA

Keterangan gambar, Dalam film, Jaya (Tio Pakusadewo) yang bekerja sebagai petugas kebersihan gedung pertunjukan, dulunya adalah mahasiswa ilmu nuklir.

Dalam beberapa tahun terakhir saja, berbagai pertanyaan besar dari masa yang sampai sekarang masih menghantui Indonesia itu, sedikitnya, muncul lewat dua film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, The Act of Killing (Jagal) dan The Look of Silence (Senyap), serta novel karya Leila S Chudori, Pulang.

Berlangsungnya sidang rakyat atau <link type="page"><caption> International People Tribunal tentang 1965 di Den Haag</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151114_indonesia_lobi_1965" platform="highweb"/></link> serta menguatnya wacana pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu semakin menyorongkan peristiwa ini dalam ingatan masyarakat Indonesia kini.

Namun, bukan berarti membicarakan atau membahas 1965 sudah bebas dilakukan.

Dalam waktu kurang lebih berdekatan pada November tahun lalu, terjadi pemberangusan tabloid Lentera di Salatiga, pengusiran Tom Iljas, seorang eksil 1965, saat berziarah ke makam ayahnya di sebuah kuburan massal di Sumatera Barat, dan pelarangan sejumlah acara terkait 1965 di <link type="page"><caption> Ubud Writers and Readers Festival, Bali</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151116_majalah_sensor_sekitar_kita" platform="highweb"/></link>.

Surat dari Praha, kata Angga, adalah untuk pertama kalinya kisah eksil 1965 muncul dalam media film panjang. Lalu apakah ada strategi yang ditempuhnya dalam menyiasati kemungkinan pelarangan dengan menyensor diri sendiri sejak pembuatan?

"Kita bukan melakukan self-censorship, istilahnya yang tepat bukan self-censorship, kita membuat formula sejak awal, bahwa kita sadar, penonton bioskop itu penonton muda. Penonton muda ini mungkin banyak yang belum fasih atau nggak terlalu familiar dengan 1965 sehingga kita perlu membuat formula yang accessible buat penonton muda jadinya bentuknya bukan self-censorship, tapi kita meng-create formulanya sejak awal," kata Angga.

Situasi membuat Jaya (Tio Pakusadewo) dan Laras (Julie Estelle) terus bersama selama beberapa hari.

Sumber gambar, SURAT DARI PRAHA

Keterangan gambar, Situasi membuat Jaya (Tio Pakusadewo) dan Laras (Julie Estelle) terus bersama selama beberapa hari.

Dalam pandangan Angga, sejarah masih dianggap sebagai teks, hanya peristiwa dan tanggal, tapi bukan soal "membangun konteks".

"Ini fungsi media alternatif, film, buku, komik mungkin, apapun, untuk bisa membingkai sejarah jadi pengalaman, memberi konteks sehingga orang belajar," katanya.

Situasi membuat Jaya dan Laras terpaksa bersama selama beberapa hari, dan di sinilah proses kedekatan mereka terjadi.

Dalam proses ini kita juga akan melihat, bagaimana Julie Estelle berperan sebagai perempuan yang harus selalu mendapatkan apa yang dia maui, dan bagaimana Tio Pakusadewo berubah menjadi seorang pria tua, lengkap dengan gerutuan dan kekakuan yang hanya bisa muncul akibat usia.

Lewat penjelasan tentang situasi Jaya, Surat dari Praha pun berupaya membangun konteks yang sumbernya didapat langsung dari para eksil Indonesia di Praha. Angga dan tiga periset lainnya bertemu dengan 10 eksil.

"Ada empat periset, dan empat-empatnya punya bapak sendiri di Praha, saya dekat dengan om Rony, ada yang dekat dengan om Maman yang punya restoran sate, ada yang dekat dengan om Bismo, ada yang dekat sama om Yono," katanya.

Penulis skenario M Irfan Ramli pun melakukan wawancara dengan para eksil ini tentang kedatangan mereka dan latar belakang mereka datang ke Praha.

"Pada prinsipnya mereka terbuka untuk diajak bicara, kita ngobrol tentang kedatangan mereka, proses gimana mereka menolak, gimana hidup mereka setelahnya, dan kemudian gimana mereka mendapat kewarganegaraan. Saya sendiri berusaha untuk berada sedekat-dekatnya dengan orang-orang ini, saya jalan sama Pak Karsidi nemenin dia bawa cucunya ke pusat perbelanjaan, belanja, dan obrolannya cair, saya tidak menginterview seperti halnya film dokumenter," kata Irfan.

Ketika ditanya soal dukungan dari para eksil, Angga mengatakan, "Terkait didukung atau enggak, buktinya sederhana, kenapa mereka mau main di film saya kalau misalnya mereka nggak dukung?"

Bahkan, adegan terkuat dalam film ini bukan dari interaksi Laras dan Jaya serta dialog mereka dalam upaya memahami dan mengenal satu sama lain, tapi justru ketika tiga orang eksil ini muncul.

Aktor Rio Dewanto turut berperan menjadi Dewa, seorang mahasiswa Indonesia di Praha, yang menjadi kawan Jaya (Tio Pakusadewo).

Sumber gambar, VISINEMA

Keterangan gambar, Aktor Rio Dewanto turut berperan menjadi Dewa, seorang mahasiswa Indonesia di Praha, yang menjadi kawan Jaya (Tio Pakusadewo).

Dalam adegan bertamu di rumah Jaya, para eksil, <link type="page"><caption> Bismo Gondokusumo dan Rony Surjomartono di antaranya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/150928_indonesia_lapsus_eksil_praha" platform="highweb"/></link>, tampil mungkin tak lebih dari tiga menit. Tapi saat mereka bercerita singkat tentang perjalanan mereka sampai di Praha, hanya lewat tawa dan nyanyian mereka, di sinilah penonton bisa melihat sebuah Indonesia kecil.

Bahwa Indonesia bukan hanya soal kebijakan satu era pemerintahan tertentu atau produk undang-undang dari dewan perwakilan, tapi sebuah ide besar yang terus diminati atau dibayangkan oleh orang-orang dalam pembuangan ini.

Sayangnya (bisa juga, untungnya) momen singkat itu cukup berkesan sehingga meruntuhkan bangunan fiksi antara Laras dan Jaya yang dibangun sepanjang film. Seolah kisah mereka jadi terlampau kecil dan tumpul, jika dibandingkan dengan kekayaan materi yang bisa disampaikan.

Dan saya pun berpikir akan kemungkinan ini: jangan-jangan sebenarnya Angga tak perlu membungkus kisah para eksil ini lewat cinta dan musik, karena ada karya yang lebih kuat yang berpotensi muncul tentang para eksil lewat keseharian mereka kini.

Terhadap ini, baik Irfan dan Angga punya jawaban.

"Kita berharap lewat film ini, orang memandang film ini sebagai jendela, ada frame yang bisa orang terima untuk memandang, lewat pendekatan emosional, tapi juga menjadikan ini sebagai pintu, agar ada ketertarikan lebih jauh. Ada banyak sekali informasi yang kami selipkan secara soft, kita jadikan part of the story. Mereka datang untuk apa, MAHID itu apa, bagaimana keadaan mereka, mereka bertahan hidup, kenapa mereka menolak, hal-hal yang coba kami highlight jadi bagian cerita sekaligus materi yang ketika kami sampaikan bisa jadi bridging ke materi selanjutnya," kata Irfan.

Angga juga menyatakan bahwa inilah jalan yang ia putuskan untuk ditempuh oleh karyanya. "Mungkin hari ini saya cuma bisa bercerita lewat cinta, mungkin besok ada sutradara lain, penulis lain yang bisa membuat film yang lebih substantif, langsung ke akar masalah tanpa harus ngomongin lewat percintaan dan musik, itu akan sangat bagus sekali," katanya.