Keluarga TKI di Indramayu, rentan terkena dampak psikologi dan sosial

Desa Tinumpuk, Indramayu

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Banyak perempuan di Indramayu yang bekerja sebagai pekerja domestik di luar negeri, terutama di Timur Tengah dan Hong Kong.
    • Penulis, Sri Lestari
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Indramayu merupakan salah satu daerah asal tenaga kerja Indonesia (TKI) terbesar, dari total sekitar enam juta orang buruh migran yang tersebar di sejumlah negara.

Di daerah yang terletak di Pantai Utara Jawa ini, sebagian besar buruh migran adalah perempuan. Para suami dan anak-anak tak dapat bertemu dengan istri atau ibu mereka selama bertahun-tahun.

Ketika saya ke Desa Tinumpuk, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terlihat sekitar 30 anak-anak berusia 3-5 tahun berbaris sebelum memasuki sebuah kelas di Taman Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Satu-satu persatu anak-anak itu memasuki kelas sambil bernyanyi dan menyalami tiga guru yang berdiri di pintu kelas. Salah satu anak itu adalah Astika Rifa, berusia tiga tahun, tampak tak mau lepas dari gandengan tangan ayahnya.

Roni Masduki (44 tahun), ayah Rifa, kemudian menemani anak bungsunya di dalam kelas.

Setelah Rifa, merasa nyaman, Roni pun keluar lalu duduk di teras kelas, bersama dengan beberapa perempuan orang tua murid. Tak seperti para perempuan orang tua murid yang tengah mengobrol, Roni memilih agak menjauh dan duduk di depan pintu kelas.

Ke Hong Kong dan Taiwan

"Kadang saya malu juga karena sebagian besar itu ibu-ibu yang menunggu (anak mereka). Ya memang Rifa harus ditemani sekolah, ini sudah bagus saya bisa tinggal keluar (kelas) sebelumnya harus ditungguin terus," kata Roni.

Tak lama telepon genggam milik Roni berbunyi, ternyata istrinya menghubunginya untuk berbicara dengan Rifa.

Keluarga buruh migran

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Iprosin dan anaknya Muhamad Andika, mengaku sulit untuk berperan ganda.

Bel istirahat berbunyi, anak-anak pun keluar dari ruangan kelas. Rifa mendekati ayahnya dan mengajaknya bermain ayunan. Ketika ditanya apakah dia merasa kangen Rifa hanya mengangguk.

Sementara itu Muhamad Andika (5 tahun) tampak didampingi ayahnya Iprosin (37 tahun). Andika tinggal bersama ayahnya selama ibunya, Siti Aisyah, bekerja sebagai buruh migran.

"Saya merasa sulit sekali membagi waktu untuk bekerja dan mengurus anak, karena Andika ini tidak bisa ditinggal, maunya sama saya terus, jadi ya saya hanya menerima pekerjaan yang tidak tetap di sekitar sini, seperti buruh bangunan," kata Iprosin.

Nelayan

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Kebanyakan laki-laki di Indramayu bekerja sebagai petani atau nelayan.

Hampir separuh anak-anak yang bersekolah di PAUD Melati ini punya ibu yang bekerja di luar negeri.

Indramayu merupakan salah satu daerah pemasok TKI yang terbesar setelah Lombok Timur dan sebagian besar adalah perempuan.

Pendidikan yang rendah dan kurangnya lapangan kerja membuat banyak perempuan di Indramayu memilih bekerja di luar negeri sebagai pekerja domestik sejak tahun 1980-an.

Dulu, negara tujuan terbesar adalah negara-negara di Timur Tengah terutama Arab Saudi tapi saat ini banyak juga yang bekerja di Hong Kong dan Taiwan.

Tak heran jika dikatakan setiap orang di Indramayu memiliki keluarga atau kerabat yang bekerja sebagai TKI.

Tak ingin tergantung

Buruh migran

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Roni dan kedua anaknya di rumah yang dibangun dari penghasilan menjadi buruh migran.

Ibu Rifa, Carimah, bekerja sebagai buruh migran di Qatar sejak Rifa masih bayi. Bahkan sebelum menikah pun, menurut Roni, Carimah sudah bekerja di luar negeri sebagai pekerja domestik.

"Ini baru 15 hari berangkat, ini yang kedua, pulang kalau habis kontrak, pulang sebentar terus kerja lagi katanya, " jelas Roni.

Menurut Roni, Carimah telah bekerja di luar negeri sekitar 10 tahun, bahkan sebelum menikah dengan dirinya.

"Ya alhamdulillah kehidupan berubah, ya tadinya tak punya rumah jadi punya rumah, saya sih berat ya, tapi apa boleh buat dia maunya begitu," jelas Roni.

Selama istri bekerja di luar negeri, Roni mengatakan tetap bekerja sebagai tukang ojek atau bertani di lahan milik orang tuanya.

"Sehari-hari mengantar orang, kalau saya bekerja anak-anak terutama yang kecil saya titipkan ke budenya ataupun sama kakaknya di rumah," jelas Roni.

Roni mengatakan tak ingin bergantung sepenuhnya pada penghasilan istri di luar negeri.

Petani

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Bertani merupakan salah satu pekerjaan yang dijalani oleh laki-laki di Indramayu.

Bagi Aidin, warga Desa Dadap, yang istrinya pernah bekerja di luar negeri selama lebih dari enam tahun, punya cara tersendiri untuk mengelola keuangan keluarga.

"Tujuan ke sana itu bukan semata-mata mencari kemewahan tetapi sedikit ada kelebihan, namanya istri kan sering tanya kemana saja itu uangnya, kan kasian kalau dihambur-hamburkan, " jelas Aidin.

"Saya punya pendapat penghasilan istri saya itu harus utuh, jadi saya buatkan tabungan dan gaji dimasukkan ke sana, tidak diambil dan sekarang sudah dibelikan rumah".

Aidin mengatakan untuk kebutuhan sehari-hari mengandalkan penghasilannya sebagai nelayan atau dari pekerjaan tambahan lainnya.

Di Kabupaten yang terletak di pantai utara Jawa ini, sebagian besar laki-laki bekerja sebagai nelayan, petani, atau buruh pabrik dan bangunan.

Data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia BNP2TKI menyebutkan uang kiriman atau remitansi TKI sepanjang 2015 mencapai US$ 8,6 juta atau sekitar Rp. 119 trilliun.

Indramayu

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Sebagian besar laki-laki di Indramayu bekerja sebagai nelayan atau petani.

Keharmonisan rumah tangga

Meski peran laki-laki masih dominan, perubahan relasi antara laki-laki dan perempuan terjadi setelah istri bekerja di luar negeri dan menjadi pencari nafkah utama. Istri pun bisa lebih leluasa menentukan pilihan mereka dan memiliki peran dalam rumah tangga.

"Ya memang sering kali ada masalah komunikasi yang tidak lancar sehingga menyebabkan persoalan dalam pernikahan dan bahkan perceraian," jelas aktivis Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) di Indramayu, Samudi, yang mengaku pernah mengalaminya ketika istrinya bekerja di luar negeri.

Sekarang, Samudi dan istrinya mengelola sebuah rumah belajar untuk anak-anak TKI di Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat.

Kasudi

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Kasudi, bekerja sebagai nelayan.

Tetapi seringkali persoalan rumah tangga atau bahkan perceraian tak terhindarkan, dengan alasan suami tidak dapat mencari nafkah, seperti dialami Kasudi.

"Sekarang tak pernah ngebel (menelepon) dulu sih ya ngebel tapi sekarang jarang, bahkan kabar anak juga jarang ditanya, dulu kirim uang untuk bangun rumah tetapi ya sekarang tidak, " keluh Kasudi yang memiliki satu orang anak perempuan.

Meski kebutuhan ekonomi keluarga terpenuhi setelah istri bekerja di luar negeri, Aidin, mengakui tak mudah istri bekerja di luar negeri.

"Ya memang berat ditinggal istri bekerja selama bertahun-tahun, mengurus anak sendiri dan juga bekerja, selain itu ya kalau malam kedinginan," ungkap Aidin sambil tertawa.

"Tetapi ya itu risiko, ya kita hadapi saja," jelas dia.

Berbeda dengan Casidi, bukan nama sebenarnya, memilih untuk pergi ke tempat prostitusi untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya.

"Memang secara normal itu pasti adalah (keinginan) ya beli saja lah, ke wanita penghibur, ini secara jujur saja," ungkap Casidi.

Dampak Anak-anak

Anak-anak

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Para guru di PAUD mengatakan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak buruh migran.

Kembali ke PAUD Melati, di Desa Tinumpuk, anak-anak bergegas keluar kelas dan berlari menuju orangtua atau kerabat mereka yang menjemput.

Setelah semua anak keluar kelas, tiga orang guru tampak membersihkan ruangan kelas dan menguncinya.

Salah satu guru, Siti Kagumirah, mengatakan anak-anak yang ditinggal orang tua bekerja di luar negeri memang diperhatikan secara khusus.

"Ya kadang di rumah tak ada yang memperhatikan jika ayahnya bekerja, tetapi juga ada yang bersama neneknya," jelas Siti.

Pengelola PAUD ini bekerja sama dengan mantan TKI yang tergabung dalam organisasi berbasis komunitas, Community Based Organization Ikatan Buruh Migran Tinumpuk - CBO IBU TIN, membuat para guru memahami persoalan yang dihadapi biasanya dalam masalah belajar dan juga rasa kehilangan karena ditinggal dalam wkatu yang cukup lama oleh orang tua.

"Biasanya itu terjadi di bulan-bulan pertama setelah orang tuanya berangkat untuk bekerja di luar negeri, di masa itu kita akan memantau perkembangan dan mendampingi anak-anak tersebut," jelas Siti.

Siti mengatakan perubahan psikologis tidak hanya terjadi pada anak-anak yang ditinggal ibunya bekerja sebagai TKI tetapi juga bapak yang bekerja sebagai buruh migran.