#TrenSosial: Menelusuri jejak percakapan anti-Syiah di dunia maya

Sumber gambar, afp
- Penulis, Christine Franciska - @cfranciska
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Percakapan dunia maya terkait Syiah terus meningkat di Indonesia, termasuk konten kebencian. Sejumlah pengamat mengungkap kekhawatiran atas peningkatan sektarianisme, dan mendorong kelompok toleran semakin rajin berkampanye di media sosial.
Konten-konten kebencian itu ada di ujung jari Anda, ketika membuka Facebook, Twitter, atau melakukan pencarian di mesin Google. Syiah diasosiasikan sebagai paham sesat, bukan bagian dari Islam, dan kelompok yang ingin menghancurkan Mekah dan Madinah. Tuduhan-tuduhan yang berulang kali dibantah oleh kalangan Syiah sendiri.
"Ada konten-konten yang menyatakan Syiah ingin menguasai Indonesia. Ada video-video di Suriah yang menunjukan kekerasan dan dipersepsikan sebagai kekerasan Syiah terhadap Sunni, yang tidak sepenuhnya benar," kata Direktur Riset Maarif Institute, Ahmad Imam Mujadid Rais.
Peningkatan sentimen negatif terhadap Syiah di Indonesia tampak setidaknya dari penggunaan #antiSyiah di Twitter. Pada <link type="page"><caption> periode 2006-2011</caption><url href="https://twitter.com/search?q=%23antisyiah%20lang%3Aid%20since%3A2006-03-21%20until%3A2011-12-31&src=typd&lang=en" platform="highweb"/></link>, penggunaan tagar itu sangat terbatas dengan jumlah belasan, dan <link type="page"><caption> pada 2012</caption><url href="https://twitter.com/search?q=%23antisyiah%20since%3A2012-01-01%20until%3A2012-12-31&src=typd" platform="highweb"/></link>, jumlahnya tak sampai seratus.
Namun perbincangan #antiSyiah semakin meningkat pada 2013 hingga 2015. Konten penolakan terhadap Syiah cukup mendominasi percakapan, seiring dideklarasikan juga kelompok-kelompok gerakan anti-Syiah di sejumlah daerah.

Sumber gambar, TWITTER
"Syiah itu lebih bahaya dari pada musuh dalam selimut #antiSyiah," kata satu <link type="page"><caption> akun di Twitter.</caption><url href="https://twitter.com/sawalsatrad/status/403144797944164354" platform="highweb"/></link> "Sesat, sesat," kata yang lain.
Tetapi, tagar ini juga digunakan untuk mempertanyakan dan menantang pendapat tersebut. "Majang bio #AntiSyiah #SyiahBukanIslam gak bikin situ lebih baik sebagai muslim. Mengaku Islam kok yang dikedepankan kebenciannya. Meh," kicau @arman_dhani.
Berbahaya?
Pada 2015 (Januari sampai Oktober), BBC Indonesia mencatat penggunaan #antiSyiah sudah lebih dari 39.000 kali. Sementara kata 'Syiah' dikicaukan lebih dari 530.000 kali.
Situs Google Trends (yang mencatat kata kunci yang dimasukan pengguna dalam situs Google) menunjukan <link type="page"><caption> pencarian topik 'Syiah'</caption><url href="https://www.google.co.uk/trends/explore#q=syiah&geo=ID&cmpt=q&tz=Etc%2FGMT-7" platform="highweb"/></link> di Indonesia juga meningkat signifikan dari 2007 sampai 2015, mengindikasikan rasa ingin tahu yang semakin besar.
Ini berbanding terbalik dengan <link type="page"><caption> pencarian kata "JIL"</caption><url href="https://www.google.co.uk/trends/explore#q=JIL%2C%20jaringan%20islam%20liberal&geo=ID&cmpt=q&tz=Etc%2FGMT-7" platform="highweb"/></link> atau Jaringan Islam Liberal misalnya, yang menunjukan tren penurunan.

Sumber gambar, Google Trends

Sumber gambar, Google Trends
Ahmad Imam Mujadid Rais dari Maarif Institute, mengatakan banyaknya konten kebencian terkait Syiah di dunia maya berbahaya karena orang dengan mudah membagikan informasi yang keliru.
"Orang awam yang tidak mengerti, yang bahkan tidak tahu bedanya Sunni dan Syiah bisa termakan begitu saja," katanya.
Meningkatnya percakapan tentang Syiah di dunia maya memang tidak bisa lepas dari gerakan offline, lanjut Rais. Pada tahun 2012-2013 misalnya, kasus kekerasan yang dialami kaum Syiah di Sampang, Madura menjadi salah satu yang mendorong percakapan dunia maya. Sementara pada 2014 dan 2015, menurut Rais, percakapan tak lepas dari situasi politik Timur Tengah.
"Selain itu, di offline, ada organisasi Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang dibentuk beberapa tahun lalu dan lokasinya tersebar, memiliki tokoh-tokoh anti-Syiah yang cukup vokal," jelasnya. BBC Indonesia mencoba mengkontak ANNAS namun sampai saat ini belum mendapat tanggapan.
Lalu, haruskah kita cemas?
Jawabannya ya, setidaknya menurut beberapa kalangan.
Seorang pemerhati terorisme, Permadi Arya, melihat sentimen anti-Syiah semakin kuat dan khawatir konflik Timur Tengah akan terbawa ke Indonesia. Permadi yang dikenal dengan karakter fiktif <link type="page"><caption> Ustad Abu Janda di Facebook</caption><url href="https://www.facebook.com/ustadabujanda/?fref=ts" platform="highweb"/></link>, lantas melawan konten-konten kebencian itu melalui humor.
Rais mengatakan peran kelompok toleran di media sosial sudah cukup besar, tetapi perlu ditingkatkan untuk memberikan informasi dan edukasi.
"Online dan offline sama bahayanya, karena pada dasarnya online adalah perpanjangan tangan offline," kata Rais.
Pemerintah ataupun <link type="page"><caption> Majelis Ulama Indonesia (MUI)</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151025_indonesia_syiah_bogor" platform="highweb"/></link> tidak pernah secara resmi melarang Syiah di Indonesia. Namun, MUI pernah mengimbau umat Islam untuk meningkatkan kewaspadaan tentang kemungkinan beredarnya kelompok Syiah yang ekstrim.
__________________________________________________
Menjejak #anti-Syiah di Twitter:

Sumber gambar, TWITTER
- Tagar ini digunakan <link type="page"><caption> pertama kali</caption><url href="https://twitter.com/IndraJPiliang/status/37485554501292033" platform="highweb"/></link> pada 2011 oleh @IndraJPiliang. Isinya justru digunakan untuk melawan pandangan negatif Syiah. "Ketika stigma #AntiSyiah berhasil dikembangkan di Indonesia, mau tidak mau Indonesia akan berjarak dengan Iran. #Amriki senang, #JIL senang..." tulisnya.
- Tagar anti-Syiah digunakan dalam jumlah yang terbatas dalam <link type="page"><caption> periode 2006-2011</caption><url href="https://twitter.com/search?q=%23antisyiah%20lang%3Aid%20since%3A2006-03-21%20until%3A2011-12-31&src=typd&lang=en" platform="highweb"/></link>, dengan jumlah belasan saja. <link type="page"><caption> Pada 2012</caption><url href="https://twitter.com/search?q=%23antisyiah%20since%3A2012-01-01%20until%3A2012-12-31&src=typd" platform="highweb"/></link>, jumlahnya juga tak sampai seratus.
- Namun perbincangan seputar tagar itu semakin meningkat pada 2013 dan 2014. Konten penolakan terhadap Syiah cukup mendominasi perbincangan, seiring dideklarasikan juga kelompok-kelompok gerakan anti-Syiah di sejumlah daerah.
- Pada 2015 (Januari sampai Oktober), BBC Indonesia mencatat penggunaan #antiSyiah sudah lebih dari 39.000 kali. Sementara kata 'Syiah' dikicaukan lebih dari 530.000 kali.
__________________________________________________









