Bisnis pemotretan pranikah yang menggiurkan

Potret karya tim Axioo di Paris, Prancis.

Sumber gambar, Axioo

Keterangan gambar, Potret karya tim Axioo di Paris, Prancis.
    • Penulis, Jerome Wirawan
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Di tengah lesunya kondisi ekonomi Indonesia dan daya beli yang melemah, bisnis pemotretan pranikah justru melaju kencang. Hal ini dibuktikan dari tingginya permintaan pemotretan di dalam negeri hingga mancanegara.

Dengan latar belakang Harbour Bridge, pasangan Agnes Rusli dan Fabian Pratama bergaya di depan kamera. Gaun ungu yang dipakai Agnes menambah cemerlang kelap-kelip lampu malam di sekitar jembatan yang menjadi ciri khas Kota Sydney, Australia.

Agnes dan Fabian ialah sepasang kekasih yang sedang menjalani sesi pemotretan pranikah. Untuk sesi tersebut, mereka sengaja mendatangkan tim fotografer dari Indonesia yang dikelola Bernardo Halim. Berapa harganya?

“Sekitar Rp70 juta. Namun itu harga paket, sudah termasuk pemotretan prewed di luar negeri selama dua hari serta pemotretan saat pernikahan. Pas hari-H juga ada juru kamera video , tiga fotografer, dan mini studio untuk tamu. Saya pribadi berpendapat, harganya sudah pas,” kata Agnes.

Agnes Rusli dan Fabian Pratama di bawah Harbour Bridge, Sydney, Australia.

Sumber gambar, Bernardo Pictura

Keterangan gambar, Agnes Rusli dan Fabian Pratama di bawah Harbour Bridge, Sydney, Australia.

Harga Rp70 juta untuk paket pemotretan pranikah dan pernikahan yang dibayar pasangan Agnes Rusli dan Fabian Pratama menjadi sesuatu yang biasa di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia.

‘Bisnis nggak kira-kira’

Bernardo Halim, fotografer yang mengelola perusahaan Bernardo Pictura, mengaku telah mendapat setidaknya 55 klien pemotretan di dalam dan luar negeri selama setahun terakhir. Bahkan, pada September dan Oktober lalu, dia telah melayani dua kali pemotretan di Paris dan Santorini di Yunani.

“Tren ini telah berjalan selama beberapa tahun sehingga pemotretan di Paris, misalnya, sudah menjadi sesuatu yang biasa. Karena itu, ada beberapa klien yang ingin bepergian ke tempat yang lain, seperti Eslandia,” kata Bernardo.

Tito Rikardo, pemilik perusahaan The Upper Most, mengatakan bisnis pemotretan pranikah memang terkadang ‘nggak kira-kira’.

Tito mengaku menetapkan tarif US$3.800 atau setara dengan Rp52,2 juta. Harga itu di luar biaya akomodasi dan transportasi yang ditanggung kliennya untuk membawa ke lokasi pemotretan.

“Perjalanannya ke Jepang, Uni Emirat Arab, bahkan saya pernah ke Tanzania dan Kenya untuk memotret pranikah dan pernikahan. Satu orang saja bisa habis puluhan juta dan mereka memberangkatkan empat orang. Bisa dibayangkan berapa mahal ongkosnya,” kata Tito.

Potret karya tim The Upper Most di Dubai, Uni Emirat Arab.

Sumber gambar, The Upper Most

Keterangan gambar, Potret karya tim The Upper Most di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kue pendapatan

Manisnya bisnis pemotretan pranikah dan pernikahan tampak menggiurkan bagi kalangan fotografer. Tidak sedikit pula yang mencoba peruntungan guna mendapatkan bagian kue bisnis tersebut.

Margareta Puspita, Ditra Lastra, dan Thera S Cipta ialah contohnya. Tiga sekawan itu mendirikan Lumieres, sebuah bisnis pemotretan, sejak 2009. Namun, berbeda dengan perusahaan pemotretan yang membidik kelas atas, mereka menyasar kelas menengah.

“Untuk paket dasar, di luar sewa tempat dan baju, kami menyediakan jasa pemotretan di dua tempat dalam satu hari. Hasilnya berupa tiga foto berukuran besar yang telah diedit dan 25 foto minor edit. Paket tersebut seharga Rp5 juta,” kata Margareta.

Dari paket yang ditawarkan tersebut, Margareta mengatakan telah menggaet delapan klien selama setahun terakhir.

“Harus diingat, bahwa kami punya pekerjaan utama dan ini adalah bisnis sampingan. Untuk ukuran bisnis sampingan, ini mendatangkan pendapatan yang lumayan,” ujarnya.

Pemotretan pranikah karya tim Lumieres.

Sumber gambar, LUMIERES

Keterangan gambar, Pemotretan pranikah karya tim Lumieres.

Alokasi pemasukan

Setelah mendapat pemasukan, ke mana para pebisnis pemotretan menyalurkan dana yang mereka dapat?

Bernardo memilih mengalokasikan sebagian dana ke berbagai peralatan , termasuk lensa dan kamera. Menurutnya, pembelian perlengkapan fotografi menguras 10%-15% omzetnya.

“Sebab, peralatan saya buatan Swiss. Memang mahal, tapi menjamin kualitas. Belum lagi perlengkapan untuk di studio,” katanya.

Namun, alokasi terbesar ialah pada pos gaji pegawai yang dibayar setiap acara pemotretan. Untuk satu fotografer, Bernardo membayar Rp2 juta. Sedangkan pada satu acara, dia bisa memakai lebih dari tiga fotografer. Kemudian dia juga membayar jasa pendukung lainnya, mulai dari operator layar hingga supir.

Walau demikian, pesanan pemotretan yang kontinyu membuat pemasukan berjalan langgeng.

Bahkan, menurut Bernardo, bisnisnya tidak seberapa terimbas oleh daya beli yang melema.

“Kondisi ekonomi seperti sekarang tidak begitu berpengaruh buat kami. Nilai tukar rupiah terhadap dollar memang terasa, tapi fakta di lapangan tiada klien yang membatalkan pesanan. Malah justru bertambah,” kata Bernardo.

Ekonomi lesu

Namun, tak semua pemilik perusahaan pemotretan pranikah dan pernikahan sepakat bahwa bisnis mereka sepenuhnya aman dari kelesuan ekonomi Indonesia. David Susanto, pemilik perusahaan Axioo, mengaku mulai merasakan dampaknya.

“Dampak ekonomi mulai dirasakan untuk order tahun depan, cukup berkurang. Yang sekarang kita kerjakan adalah klien tahun lalu,” kata David.

Berkurangnya pesanan untuk tahun depan, menurut David, tidak lepas dari fakta bahwa pasangan yang menikah di Indonesia dibiayai oleh orang tua.

Bernardo Halim dan timnya bisa menggaet 55 klien pemotretan di dalam dan luar negeri selama setahun terakhir, termasuk di Santorini, Yunani.

Sumber gambar, Bernardo Pictura

Keterangan gambar, Bernardo Halim dan timnya bisa menggaet 55 klien pemotretan di dalam dan luar negeri selama setahun terakhir, termasuk di Santorini, Yunani.

“Apabila usaha orang tua mereka terdampak dengan kondisi ekonomi yang lemah begini, pasti banyak pengeluaran-pengeluaran yang dipangkas. Anggaran mereka akan dikurangi,” kata David.

Jaring konsumen

Agar bisnis berjalan lancar walau di tengah kondisi perekonomian yang lesu, David, yang mengawali bisnis pemotretan pranikah sejak 2002 lalu, bakal memodifikasi paket pemotretan agar lebih ‘ramah’ dengan kocek calon konsumen.

Dia pun menawarkan pemotretan di luar negeri yang tidak perlu mengajak serta fotografer dari Indonesia.

“Kami punya rekanan di beberapa kota di dunia. Sehingga pasangan yang ingin diabadikan tinggal menghubungi fotografer lokal. Harga pun bisa berkurang jauh,” kata David.

Tito Rikardo, pemilik perusahaan The Upper Most, punya strategi lain. Bersama rekan-rekannya, Tito memilih melebarkan jaring untuk mendapat konsumen dari negara lain sembari tetap ‘mengiklankan’ foto-foto karyanya di media sosial, seperti Instagram dan Facebook.

“Pengaruh media sosial besar loh. Hasil karya kita bisa dilihat siapa saja dan di mana saja di dunia. Adiknya nanti membagi foto karya kita ke kakaknya, lalu nanti ke temannya. Dari situ, jika mereka tertarik, mereka akan hubungi kita,” kata Tito kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Berkat media sosial dan dunia maya pula, calon klien The Upper Most, akan terseleksi. Pasalnya, gaya fotografi tidak mengikuti arus utama pemotretan pranikah pada umumnya di Indonesia.

“Hasil karya kami berbeda dengan perusahaan pemotretan lainnya. Yang datang ke kita pun mengapresiasi karya kami,” kata Tito.

Keunikan tersebut, menurut Tito, akan membedakan The Upper Most dengan fotografer-fotografer asing dengan tarif yang lebih rendah. Dia lalu mengisahkan bagaimana klien dari Afrika dan Amerika Serikat mengundangnya untuk memotret di sana.

“Saatnya akan tiba ketika fotografer asing menawarkan jasanya dengan tarif yang lebih rendah. Mereka akan berkompetisi dengan fotografer-fotografer Indonesia. Ketika saat itu datang, kami sudah siap,” kata Tito.

Anda bisa mendengarkan versi audionya dalam siaran Dunia Bisnis, Senin, 30 November, di radio-radio mitra BBC Indonesia.